28 Februari 2011

TPQ untuk Dewasa

 

Dalam 2 hari ini, saya diundang oleh para pengelola di TPQ dalam acara Maulid Nabi sekaligus Haflah Imtihan. Pertama, di TPQ Raudhatul Jannah Jodipan Malang. Kedua, TPQ Al-Hidayah Lawang Malang. Pada 2 kesempatan yang sama itu, saya sendiri menyaksikan antusias dan kemampuan putra-putra umat Islam yang masih usia dini telah mahir membaca al-Qur'an.

Mungkin saja, kemampuan membaca al-Quran ini tidak begitu membanggakan bagi sebagian orang, tapi tidak bagi orang tua wali santri di TPQ. Mata mereka tampak binar dan bahagia melihat putra-putrinya tampil di pentas sembari melantunkan ayat-ayat suci al-Quran. Padahal, di banyak tempat, terutama di kampung-kampung atau perkotaan besar, tidak sedikit anak-anak yang belum mampu membaca al-Quran. Entah karena mereka tidak memiliki kesempatan belajar, atau orang tuanya sudah tidak lagi peduli terhadap skill membaca al-Quran bagi anak-anak di usia dini.

Dalam kesempatan itu, saya bertanya kepada para wali santri itu. "Apakah Bapak-Ibu pernah mengaji/belajar al-Quran?". Mereka menjawab, "Iya". Saya tanya lagi, "Apakah hingga kini, Bapak-Ibu masih bisa membaca al-Quran dengan baik dan benar?". Mereka menjawab, "Iya". Akan tetapi, suara jawaban itu mulai tidak serentak. Berarti, ada sebagian yang tidak menjawab. Terakhir, saya bertanya lagi, "Apakah Bapak-Ibu hingga hari ini masih mengaji al-Quran?". Kali ini, hanya sedikit saja dari mereka yang menjawab. Kebanyakan hanya tersenyum. Mungkin, itu pertanda bahwa mereka tidak lagi berkesempatan untuk mengaji atau belajar al-Quran!

Dari dialog singkat itu, saya berkesimpulan bahwa ternyata belajar baca-tulis al-Qur'an dewasa ini masih terbatas di usia kanak-kanak. TPQ yang merupakan lembaga non-formal untuk pengajian al-Quran, telah diidentikkan sebagai wacana belajar al-Quran hanya untuk anak-anak. Pertanyaan berikutnya, "Dimanakah para remaja atau dewasa bisa melanjutkan belajar membaca al-Quran dengan baik dan benar?". Padahal, jika mau jujur, kemampuan untuk menguasai ilmu tajwid secara teoritis dan praktis jelas perlu waktu lama untuk mempelajarinya.

Di sinilah, saya melihat problem serius yang dihadapi umat Islam. Ada mata rantai yang hilang. Ada jenjang pendidikan al-Quran yang terabaikan. Di saat seseorang telah tumbuh remaja, bahkan dewasa hingga berkeluarga, lalu yang bersangkutan belum memiliki kemampuan membaca al-Quran secara baik dan benar, maka ketika itu dia tidak lagi memiliki kesempatan atau bahkan kemauan untuk belajar dan terus belajar. Akibatnya, kemampuan baca-tulis al-Quran yang dimiliki umat Islam hanya sekelas TPQ. Meminjam istilah Gus Dur, seperti taman kanak-kanak!

Jika melihat sejarah, bukankah al-Quran turun selama 23 tahun. Ini merupakan masa yang panjang. Apalagi, Rasulullah saw telah menegaskan bahwa pendidikan Islam itu "minal mahdi ilal lahdi" atau long life education. Itu artinya, belajar ngaji al-Quran seharusnya terus dilanjutkan. Bukan hanya di masa kanak-kanak saja, tapi hingga di masa remaja, dewasa dan manula sekalipun.

Bukankah ketika al-Quran diajarkan oleh Nabi, para sahabat yang ketika itu menjadi santrinya juga kebanyakan telah dewasa dan berusia lanjut (baca: bukan usia produktif). Akan tetapi, para sahabat tetap saja terus belajar al-Quran mulai dari membaca, menghafal, memahami maknanya hingga mengamalkannya?! Oleh karena itu, jika pendidikan al-Quran hanya berhenti di masa kanak-kanak, maka bisa diprediksi bahwa proses regenerasi tidak akan berhasil sebab ada mata rantai yang putus sehingga belajar al-Quran tidak sampai tuntas.

Di kampung-kampung, pengajian yang ada untuk orang-orang dewasa biasanya hanya membahas tatacara ibadah atau fiqih dan etika atau akhlaq. Sementara itu, jika jamaah diajak mengaji al-Quran, mereka tampak gerah dan tidak bergairah. Ternyata, kurangnya minat belajar al-Quran di kalangan dewasa ini, bukan hanya terdapat pada orang-orang awam saja. Saya melihat, tidak sedikit orang-orang yang terdiri dari para imam rawatib, para ustadz dan tokoh masyarakat yang juga tidak bersemangat belajar al-Quran meski kemampuan mereka di bawah rata-rata dan cara bacanya pun masih banyak kesalahan.

Karena itu, perlu ada wahana baru sebagai kelanjutan dari program TPQ yang dikhususkan untuk kalangan remaja dan dewasa. Masjid-masjid yang ada di tengah pemukiman penduduk harus segera dimanfaatkan sebagai lembaga belajar al-Quran untuk tingkat lanjutan. Dengan begitu, problem mata rantai yang terputus akan sedikit bisa teratasi. Menciptakan kesempatan belajar al-Quran merupakan amal paling mulia di sisi Allah melebihi apapun juga.

Nabi bersabda, "Sebaik-baik kalian adalah orang belajar dan mengajarkan al-Quran".

11 komentar:
Tulis komentar
  1. BETUUUUL..BETUL. ini sepemikiran dengan saya: "Ada mata rantai yang terputus dalam pengajaran dan pendidikan al Quran". itulah mangkanya kini saya mendirikan TPQ yang diberi nama TRQ SANAMA (Taman Remaja al Quran 165). Nah, itulah TRQ SANAMA adalah TPQ nya para remaja. mengapa 165 ? 165 itu karakter yang diharapkan dapat dimiliki oleh para remaja (santri TRQ) yakni 1= ikhsan, 6=Rukun Iman, 5=Rukun Islam. Semoga bisa ditiru oleh ikhwan/akhwat dimanapun berada. al Quran is the way of life

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas kunjungannya. Semoga TRQ SANAMA makin maju dan berkembang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau saya mau ikut belajar membaca alquran harus dtng kemana?

      Hapus
  3. Kalau di Singosari, bisa langsung datang ke Pesantren Ilmu Al-Quran, Singosari Malang.
    Asuhan: KH Basori Alwi. Bisa juga melayani privat.
    trims

    BalasHapus
  4. Assalamualaykum , kalo utk daerah malang kota dmna ya? Terima kasih.

    BalasHapus
  5. kalau daerah lawang selain di jalan ketindan di mana lagi ya, mohon infonya, terima kasih

    BalasHapus
  6. kalau daerah Malang Kota dimana ya mau beajar? soalnya saya kuliah di PTN. terimakasih

    BalasHapus
  7. Malang Kota dimana ya?
    Belajar Alquran buat Dewasa,,
    Kalau sekedar baca sih bisa tapi ilmu tajwidnya mlempem ni,,
    Mau belajar lagi

    BalasHapus
  8. Kalo pengajian secara umum, dapat ikut di Masjid Jamik Malang, setiap Sabtu sore menjelang Maghrib

    BalasHapus
  9. Kalau didaerah lumajang ada nggak ya?

    BalasHapus
  10. Kalo untuk daerah bandulan ada nga ya? Saya kepingin bisa mengaji d usia saya yang dah 35th saya ingin sekali belajar minta infonya

    BalasHapus