12 Juli 2012

Bangkitlah SDN Kotalama!

 


Dulu, saya siswa SDN Kotalama, sebuah sekolah yang terletak di dalam kampung kelurahan Kotalama kecamatan Kedungkandang Malang. Setelah 30 tahun, saya lihat sekolah itu tidak banyak yang berubah. Masih khas sekolah anak pinggiran. Hampir tidak terdengar prestasi menonjol yang diraih sekolah ini.

Meski demikian, karena kecintaan terhadap almamater dan juga kedekatan lokasi sekolah tersebut dengan rumah saya, kini kedua putri saya pun bersekolah di SDN Kotalama. Yang membedakan adalah dulu SDN Kotalama terbagi 4 SDN dalam 1 kompleks. Kini, keempat SDN itu digabung menjadi satu sekolah, SDN Kotalama.

Satu hal yang membuat saya tidak nyaman dengan SDN Kotalama. Saya mendengar, kebanyakan orang tua wali murid yang mensekolahkan putra-putrinya di situ, tidak bangga dengan SD tersebut. Seakan-akan, SDN Kotalama hanya menjadi pelarian akhir setelah putra-putri mereka gagal diterima di sekolah yang menurut mereka favorit. Selain itu, juga faktor ekonomi masyarakatnya yang mayoritas pas-pasan.

Mereka membandingkan SDN Kotalama dengan sekolah sekitarnya, seperti: SDN Comboran, SDN Jodipan, MIN 1 Jalan Bandung dan bahkan dibandingkan dengan sekolah atau madrasah swasta seperti MI at-Taraqqi, SDI Sabilillah, Sekolah Alam Putra Buana dan banyak lagi.

Membandingkan memang tidak salah. Itu hak siapa saja. Membuat perbandingan, pada dasarnya adalah bagian evaluasi atau penilaian. Boleh jadi, hasil perbandingan ini akan menjadi pemicu bagi pihak SDN Kotalama untuk berbenah diri, mengejar prestasi dan berusaha meningkatkan kualitas pendidikan.

Karena itu, sudah waktunya SDN Kotalama dan juga sekolah-sekolah lain yang berada di pinggiran kota yang mayoritas dihuni oleh siswa yang berasal dari keluarga bertaraf ekonomi pas-pasan, untuk segera bangkit mensejajarkan diri dengan sekolah yang maju dan berprestasi.

Mungkin saja pandangan ini dinilai agak mengada-ada. Sebab biasanya, orang berpikir, "Seje rego, seje roso" alias beda harga beda rasa. Maka, mungkinkan SDN Kotalama yang gratis uang masuk dan gratis SPP bisa bersaing? Mampukah SDN Kotalama yang minim fasilitas dan dipenuhi input siswa yang notabene-nya terbelakang bisa menyaingi sekolah yang fasilitasnya lengkap, berbasis multimedia, dan input (siswa yang mendaftar) sudah terseleksi secara ketat?

Jawabannya memang akan mengarah pada kata "impossible, tidak mungkin". Namun, adakah di dunia ini yang tidak mungkin? Semua bisa saja terjadi, tidak ada yang tidak mungkin selama upaya untuk mewujudkan cita-cita itu benar-benar telah dilakukan secara maksimal.

Permasalahannya adalah adakah kemauan dari semua pihak untuk mewujudkan terobosan ini? Harus ada agenda besar yang dicanangkan dan itu harus dijalankan oleh  semua pihak yang terkait dengan SDN Kotalama, seperti: pihak diknas, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, dan juga masyarakat.

Semua komponen ini harus menyatu untuk mewujudkan cita-cita bersama agar SDN Kotalama Malang ke depan, tidak dipandang sebelah mata dan diremehkan. Semua harus memiliki rasa peduli dan rasa memiliki yang tinggi. Sebab, yang paling miris, SDN Kotalama ini selalu dinilai sebagai pecundang, minim prestasi dan menjadi pilihan terakhir.

Karenanya, seiring dengan i'tikad baik pemerintah yang telah memberi fasilitas biaya sekolah gratis, gaji dan tunjangan guru yang sudah lebih baik, berbagai bantuan pendidikan dan tingginya semangat orang tua yang ingin anaknya sukses, maka kekuatan ini jangan sampai disia-siakan. Guru sebagai penanggung jawab utama keberhasilan siswa, harus menjadi motor penggerak arus kebangkitan di SDN Kotalama Malang.

Terakhir, harus ada upaya dan terobosan baru yang di luar kebiasaan yang harus ditempuh oleh motor penggerak SDN Kotalama Malang. Kepala Sekolah dan semua guru wajib segera berbenah diri dengan juga melibatkan para orang tua murid dan masyarakat untuk bersama memajukan sekolah ini.

Hanya itu pilihannya. Jika tidak dimulai dari sekarang, maka 30 tahun mendatang sekolah ini akan tetap sama, atau bahkan semakin terpuruk dan tertinggal dengan sekolah lain. Apalagi tuntutan hidup semakin tinggi. Jika sekolah sebagai wadah untuk memperluas ilmu pengetahuan diabaikan, maka ia tak ubahnya hanya akan melahirkan produk gagal yang ujung-ujungnya menjadi "sampah".

Tidak ada komentar:
Tulis komentar