5 Desember 2012

KH Muhsin Syafi'i

 


Nama "Kiai Muhsin", pengasuh pondok pesantren Raudhatul Muhsinin al-Maqbul, Bulalawang, Malang, sudah tidak asing lagi di kalangan jamaah Masjid Muritsul Jannah Malang. Para santri dan alumninya tersebar luas di kampung yang oleh Kiai Muhsin sendiri disebut "tanah perjuangan".

Secara langsung maupun tidak langsung, Kiai Muhsin memberi andil besar terhadap perkembangan Islam, terutama dalam memakmurkan Masjid Muritsul Jannah. Betapa tidak, para santri dan alumni kiai yang juga dikenal "Wali" itu, juga turut andil berjuang dan mengisi kegiatan ruhani di kampung Kebalen Wetan dan Kotalama sekitarnya.

Hal ini membuktikan bahwa Kiai Muhsin selalu "memantau" pergerakan aktualisasi ajaran Islam, terutama di kalangan generasi muslim baik yang santri maupun yang abangan. Dengan pendekatan supranatural, Kiai Mahsin mampu membangun loyalitas umat untuk selalu berpegang teguh pada aqidah Ahlissunnah Wal Jamaah.

Dalam banyak kesempatan, Kiai Muhsin sering mengunjungi para tokoh masyarakat di Kotalama yang notabene-nya mereka juga nyantri kepada Kiai Muhsin, baik sebagai santri, alumni, atau -meminjam istilah pesantren- sebagai "santri manukan" karena yang banyak dari para jamaah tersebut adalah santri pengajian rutin tiap Ahad Pagi yang digelar di pesantren Kiai Muhsin. Alhamdulillah, penulis pernah “nyantri” dengan mengikuti pengajian umum Ahad Pagi, sekitar tahun 2001-2002 yang saat itu mengaji kitab “Bidayatul Hidayah”, awal suluk untuk mencapai hakikat hidayah.

Dalam kunjungannya ke rumah-rumah para jamaah itu, Kiai Muhsin selalu memberi motivasi dan siraman ruhani agar semua pihak tetap bersatu, merapatkan barisan dengan kesungguhan tekad dan istiqamah. Nilai moral inilah yang menyadarkan masyarakat untuk kembali meniti jalan yang benar. Beliau juga kerap memberi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi para jamaah, mulai dari problem sosial, ekonomi hingga masalah pribadi.

Masih teringat tentang bagaimana andil besar Kiai Muhsin dalam memberantas kemaksiatan di kampung Kebalen Wetan yang dulu identik dengan prostitusi ini. Melalui riyadahnya bersama para kiai lain, Kiai Muhsin berusaha membentengi para pejuang kebenaran hingga pada akhirnya, beliau menyebut jamaah Masjid Muritsul Jannah keluar sebagai "Pemenang" setelah tahun 1994, seluruh losmen dan hotel remang-remang resmi ditutup untuk selamanya.

Kepada penulis, dikisahkan, ada seorang jamaah masjid yang kini juga menjadi panitia pembangunan, suatu hari bertamu kepada Kiai Muhsin. Tujuannya adalah meminta barakah doa agar para pemuda yang biasa bermain judi tepat di depan rumahnya, bisa bubar. “Tenang, Pak Haji. Siramkan saja air putih ini di tempat mereka main judi”, pesan Kiai Muhsin, santai. Sepulangnya di rumah, amanat ini benar-benar dilaksanakan.

Ketika waktu malam tiba, saat para penjudi itu biasa memulai permainan, tiba-tiba mereka melihat semut bertebaran dimana-mana. Suasana pun gaduh, mereka bingung hingga akhirnya tidak jadi berjudi di tempat itu. Melihat kejadian ini, Pak Haji pun senang. Anehnya, tatkala ia keluar rumah dan melihat di teras tempat lokasi judi, ternyata tidak ada seekor semut pun di sana. Luar biasa!!! Inilah karamah dan salah satu bukti bahwa Kiai Muhsin berjasa besar dalam memberantas kemaksiatan dengan cara beliau sendiri.

Selain kisah fantastik di atas, sebenarnya masih banyak cerita lain seputar keunikan Kiai Muhsin yang dengan “tangan dingin”, beliau menopang kekuatan umat. Kini, setelah Kiai Muhsin tutup usia, pengaruhnya tetap kental di masyarakat. Putra-putra beliau masih konsisten meneruskan perjuangan "Kiai Maqbul" melalui pendekatan persuasif kepada para pemuda dan remaja. Karena itu, saat penulis sendiri mengabarkan masjid Muritsul Jannah akan direnovasi, KH Suadi Muhsin tidak bisa menutupi kegembiraannya. Bahkan, beliau berpesan agar semua putra-putra Abahnya juga turut diundang dalam acara "Peletakan Batu Pertama" itu. Tujuannya antara lain supaya semua keluarga besar Kiai Muhsin menjadi saksi sekaligus bukti estafet perjuangan di tanah "Kebalen Wetan dan Kotalama sekitarnya".

Dan benar, di saat acara "Peletakan Batu Pertama" Pembangunan Masjid Muritsul Jannah, Senin, 10 September 2012, kelima  putra Kiai Muhsin hadir, yakni, Gus KH Suadi, KH Chudori, KH Lukman, KH Nur Wahid dan KH Muhtadin. Hanya KH Abdullah Makki yang berhalangan sebab saat itu beliau sedang di Jakarta.

Inilah estafet perjuangan yang hingga kapanpun tidak boleh berhenti. Kiai Muhsin boleh saja telah pergi untuk selamanya. Namun, tekad dan cita-cita Sang Kiai tidak boleh surut. Harus dilanjutkan, baik oleh putra-putranya maupun seluruh jamaah yang selalu mencintai dan menghormati beliau sebagai salah satu pewaris Nabi.

Yang patut digarisbawahi di sini adalah bahwa Masjid Muritsul Jannah merupakan representasi dari wujud cita-cita para kiai, termasuk Kiai Muhsin, yang wajib dimakmurkan oleh seluruh generasi muslim di bumi Kebalen dan Kotalama sekitarnya dimana di setiap jengkal tanahnya adalah sarat dengan nilai perjuangan bagi mereka memahami adanya hikmah dibalik setiap yang wujud. Menurut Kiai Muhsin, yang ikhlas berjuang dan terus istiqamah, dialah yang keluar sebagai pemenang.

Nama Kiai Muhsin Syafi'i akan selalu disebut dalam tawassul saat Khatmil Quran di Masjid Muritsul Jannah di tiap pagi Jumat Legi. Melalui tulisan singkat ini, atasnama semua jamaah, kami berharap ikatan silaturrahim antara seluruh keluarga besar al-Maqbul dan Muritsul Jannah terus kokoh dan menyatu untuk selamanya. Hubungan spiritual yang diikat dalam bingkai "Silaturrahim" inilah yang menjadikan masjid Muritsul Jannah tetap keramat.

Disebut "Masjid Keramat" sebab sejak awal ia telah dibangun atas dasar “taqwa” dan ditopang oleh doa serta perjuangan para wali, habaib, kiai dan asatidz. Di masjid ini, ada banyak tapak para pejuang pemberani, karya besar para agniya' yang dermawan, ada peluh perjuangan pemuda tangguh, para ibu dan anak-anak yang bersemangat. Inilah yang menjadi jamaah Masjid Muritsul Jannah selalu kompak menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Selamat Jalan, Kiai telah berhasil meletakkan pondasi yang kuat di hati umat.

2 komentar:
Tulis komentar
  1. ila hadrotis Syaikhy Romo Kyai Muhsin Lahul fatihah..

    BalasHapus
  2. Ila hadrotis syaikh romo KH MUHSIN SYAFI'I lahumul fatimah..

    BalasHapus