4 Oktober 2016

Makrifatullah

 


Nabi bersabda, “Awwaluddin Ma’rifatullah” (أول الدين معرفة الله), yang artinya, permulaan agama itu adalah mengenal Allah. Hadis Nabi ini, paling tidak, menjelaskan 3 hal penting.

Pertama: Tahapan beragama berawal dari makrifat

Dalam pelajaran tasawuf, sering diketengahkan bahwa makrifat adalah tahapan terakhir setelah syariat, thariqat, hakikat, baru kemudian makrifat. Berdasarkan tahapan ini, pada akhirnya makrifat dinilai sebagai puncak perjalanan hamba menuju Tuhannya. Dengan kata lain, untuk mencapai makrifat, orang harus terlebih dulu mengamalkan syariat, menjalani laku thariqat, dan mendalami hakikat. Dengan demikian, makrifat itu menjadi tampak sulit untuk dicapai karena berada di level akhir.

Betulkah demikian? Padahal, menurut sabda Nabi, makrifat justru merupakan tahapan pertama, bukan garis finis. Ada yang berpendapat bahwa maksud dari “makrifat sebagai awal beragama itu” adalah tahap khusus bagi orang yang khusus pula, yakni, orang yang benar-benar shalih dan mencapai tingkat kedewasaan untuk menyelami lautan makrifat. Prosesnya, cinta (mahabbah) dulu, lalu kenal (makrifat), kemudian dekat (qurb).

Mungkin saja, pendapat itu benar. Namun, jika memang demikian, berarti makrifat itu bersifat eksklusif karena hanya berlaku khusus. Makrifat bagaikan benda pusaka yang mahal dan hanya boleh dipakai oleh orang tertentu. Padahal sebenarnya, konsep makrifat itu sendiri sederhana, mudah dipahami dan diamalkan, bahkan oleh orang awam sekalipun. Bukankah inti dari makrifat adalah mengenal Allah? Lantas, sulitkah mengenal Allah? Jelas tidak. Sebab, Allah adalah satu-satunya dzat yang paling mudah dikenal dan dipahami oleh siapapun, kecuali orang yang ingkar.

Kedua: Makrifatullah merupakan keharusan

Hadis Nabi di atas menegaskan bahwa makrifatullah merupakan keharusan bagi seorang hamba yang beragama, memeluk dan memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Mengapa harus? Karena makrifat adalah pintu pertama dalam beragama. Dengan makrifatullah, manusia dapat mengenal Allah, mengetahui-Nya, mendekati-Nya dan menyerahkan segalanya hanya untuk Dia. Inilah islam yang total (kaffah), bahwa “shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua karena Allah”.

Pernyataan sikap islam yang kaffah ini, bisa muncul dari kesadaran seorang hamba setelah dia mengenal siapa Tuhannya yang untuk-Nya akan ia serahkan shalat, ibadah, hidup dan mati. Sebelum seorang hamba bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah”, mestinya dia tahu: siapa Allah itu? Tentu saja, kadar pengetahuan dan pengenalan setiap hamba, tidaklah sama. Ada yang hanya sebatas makrifat atau mengetahui kedudukan Allah sebagai tuhan semesta alam, ada pula yang mengetahui secara sempurna dari dzat, sifat, asma, hingga af'al atau ciptaan-Nya.

Yang pasti, makrifatullah merupakan keharusan bagi umat yang beragama. Beragama tapi tidak mengenal Allah, berarti belum beragama, sebab boleh jadi keliru dalam memilih dan mengamalkan ajaran agama. Jadi, kenalilah Allah terlebih dulu, maka kau akan memahami agama yang diridhai-Nya, itulah Islam.

Ketiga: Makrifatullah untuk semua makhluk Allah

Mengenal Allah (Makrifatullah) adalah hak setiap makhluk. Siapapun boleh dan bahkan harus mengenal Allah sebagai satu-satunya tuhan yang berhak dan wajib disembah. Oleh karenanya, “Makrifatullah” harus menjadi materi pelajaran pertama dan utama bagi setiap manusia. Jika ada orang yang tidak atau belum mengenal Allah, maka tugas orang lain yang telah mengenal Allah untuk memberi tahu dan menuntunnya. Jika tidak mau, maka orang tersebut berdosa karena tidak mau menyampaikan kebenaran yang telah Allah ajarkan kepadanya.

Dalam realita, Allah sendiri telah mengenalkan dzat-Nya melalui semua af’al atau ciptaan-Nya. Semua sifat dan asma Allah, mudah diketahui dan dipahami. Penjelasan tentang Allah tidak hanya diperoleh dari kitab suci yang diturunkan-Nya, tapi juga terdapat di mana saja yang ada di alam semesta ini. Bahkan, di dalam diri manusia sendiri, juga ada ayat atau tanda yang menjelaskan ujud Allah. Baik ayat qur’aniyah maupun kauniyah, semua mengabarkan dan mengenalkan tentang Allah swt.

Hebatnya lagi, ayat-ayat itu sebenarnya mudah dipahami dan dinalar secara logis oleh akal pikiran manusia. Tidak ada yang sulit. Sebab, akal manusia memang diciptakan untuk mampu mengenali Allah. Hanya orang-orang yang tidak mau berpikir dan yang sombong dan menolak kebenaran, merekalah yang tidak bisa memahami ayat-ayat Allah karena mereka telah menjauh hingga tersesat.

Tulisan ini ingin menegaskan kembali, bahwa beragama harus diawali dengan makrifatullah, mengenali Allah. Dengan mengenali-Nya, seorang hamba dapat belajar keindahan sifat dan asma-Nya, kebenaran agama yang diridhai-Nya, dan luasnya rahmat Allah yang tidak bertepi.

Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Tulis komentar