Iklan

23 Maret 2011

Wortel, Telur dan Kopi

 

Satu-satunya yang tidak pernah berubah adalah perubahan itu sendiri, demikian ungkapan yang sering diperdengarkan dalam konteks pergerakan. Oleh karenanya, para aktivis di bidang apapun selalu berusaha melakukan inovasi demi inovasi sebagai wujud kreatitas, idealisme dan dedikasi.

Meski begitu, dalam konteks berorganisasi, ada satu hal yang tidak boleh berubah, yakni keteguhan memegang prinsip. Inilah problem tersulit dalam berhubungan secara sosial. Program, pemikiran, ide atau apapun dipersilahkan terus berubah seiring kebutuhan dan tuntutan zaman. Akan tetapi, dalam soal-soal yang prinsipil semisal: kesetia kawanan, keyakinan, kebersamaan dan misi perjuangan harus tetap dipegang teguh sekuat tenaga.

Biasanya, ketika seseorang mencalonkan atau dicalon sebagai pimpinan, ia tampak teguh, lurus dan kokoh pada awalnya. Namun, pada tahap selanjutnya, setelah ia lama terpilih atau jabatan telah dikuasainya, lalu ia berubah menjadi lembek, lemas dan kurang bergairah. Mudah dipermainkan atau bahkan sering mempermainkan orang lain lain. Aktivis semacam ini bagaikan sebuah wortel. Pada saat mentah, ia tampak kuat dan kekar. Ternyata, setelah dimasak ia berubah menjadi lembek seperti tak punya kekuatan apa-apa.

Ada lagi orang yang pada awalnya cair dan menyenangkan. Dengan anggota dan anak buahnya seakan melebur. Ide-idenya cerdas dan memiliki cita rasa tersendiri. Akan tetapi, setelah terpilih menjadi pimpinan atau aktivis, ia berubah menjadi kaku, sok idealis, mau menang sendiri dan lebih mengedepankan ego atau kepentingannya sendiri. Orang seperti ini bagaikan telur. Saat masih mentah, ia cair, lebur dan menyenangkan. Namun, setelah telur itu direbus, ia berubah keras, padat dan kaku. Sungguh menjengkelkan.

Sedangkan tipe orang yang ketiga adalah sosok yang memiliki pendirian dan konsistensi tinggi. Baik sebelum maupun sesudah terpilih, ia tetap sama cita dan rasa. Orang seperti ini bagaikan kopi. Sebelum dimasak, sebelum masuk ke organisasi, sebelum menjadi aktivis, sebelum dicalonkan atau dipilih sebagai pemegang kebijakan atau pimpinan, ia memang sosok yang kuat, tangguh, kokoh dan berpendirian. Aromanya cukup berasa. Dan, ketika ia masuk ke dalam sistem, menjadi pimpinan atau anggota, ia tetaplah sosok yang sama. Benar-benar konsisten, tidak berubah, teguh memegang prinsip tapi tetap cair dan mewarnai sistem. Sosok pembawa perubahan.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar