Advertisement

6 Juli 2018

Gus Azmi: Idola Kids Jaman Now

 
Kemarin malam, Kamis, 5 Juli 2018, Gus Azmi vokalis Grup Shalawat Syubbanul Muslimin tampil di Kebalen Wetan Malang. Acara bertema "Malang Bershalawat" & dlm rangka Tasyakuran Haji ini sdh viral baik di dunia maya, dunia nyata hingga dunia gaib, hehe...
Alhasil, penonton membludak. Tdk hanya Aremania-Aremanita Licek, tapi hadir juga dari Mojokerto, Surabaya, Probolinggo dan kota lain yang menamakan diri "Syubban Lovers". Wow...keyen, hehehe...
Fenomena ini membuktikan bhw "industri shalawat" sdh maju pesat. Hal yg dulu tampak sederhana, kini berubah menjadi hits dan ngtrend, tidak hanya di hati para penikmat seni musik shalawat, tapi sdh merata di semua kalangan.
Hebatnya lagi, bait-bait syair religi yg disenandungkan, hampir semua dihafal para penonton yg mayoritas msh unyu-unyu dan lugu. Lagu Istikharah dalam Cinta, Ya Asyiqal Mustofa, Ibu Aku Rindu, hingga Shalawat versi Jaran Goyang, benar² menyihir hadirin. Anehnya lagi, anak-anak di usia TK sudah hafal syair itu & mrk mengidolakan Gus Azmi. Benar-benar, Kids Jaman Now.
Gus Azmi, di usianya yg msh belia, mampu mengangkat pamor seni shalawat. Selain suaranya yg oke, wajah tampan dan baby face-nya itu lo yg bikin ukhti dan banat klepek². Tak ayal, hingga konser selesai, mrk msh setia menunggu. Apalagi kalo bukan utk selfie atau sekedar histeris demi idola yg selama ini hy bisa ditonton via Youtube, itupun kalo py kuota atau wifi gratis.
Warga Kebalen Kotalama Malang patut bersyukur krn berkali-kali jamaah shalawat akbar hadir di sini, spt: Ar-Ridwan, Riyadlul Jannah, Jakfarmania, hingga Syubbanul Muslimin.
"Next, apa lagi Ustadz?", tanya seorg teman. Saya sih ingin Nisa Sabyan duet bareng Via Valen. Pasti byk yg baper, terutama Komunitas Jomblo Nusantara.

4 Juli 2018

VILLA MONDOK

Kembali, saya harus menulis tentang putri kedua saya, Navila Camelia yang hari ini, Rabu, 4 Juli 2018 mulai mondok ke pesantren setelah tahun lalu, putri pertama saya lebih dulu menjadi santriwati.
Tahun lalu, berat rasanya berpisah dengan putri tercinta, tapi lambat laun, semua kembali seperti biasa. Hari ini, hal yang sama juga aku rasakan. Bagaimana tidak? Putri cantikku yang sejak bayi tidak pernah jauh dari 'dekapan' kasih sayangku, kini aku harus rela dan ikhlas mengantar kepergiannya ke pesantren demi masa depannya.
Terus terang, aku tidak tahu, apakah mondok di pesantren itu adalah jalan terbaik bagi putriku. Tapi, dalam ketidaktahuanku ini, justru ada keyakinan bahwa inilah jalan hidupnya seperti aku dulu pernah menapak suka-dukanya di pesantren.
Sebelum berangkat, tidak banyak pesan yang aku sampaikan. Aku hanya berkata, "Ikhlaslah maka kau akan menemukan jalanmu sendiri, jalan lurus yang Allah kehendaki yang terbaik untukmu".
Itu saja pesanku yang sebenarnya pesan ini juga untuk diriku sendiri. Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Anak juga manusia yang berproses dan berkembang. Hari ini, saya melihat, tidak ada lagi tempat berproses dan berkembang yang lebih baik di saat anak-anak menuju usia remaja dan dewasa, melebihi pesantren. Karenanya, aku rela.
Aku harus ikhlas membiarkan putriku yang biasanya bermanja ria, yang dari bayi, aku sudah mengenal watak dan sikapnya. Kini, putriku itu terpaksa harus berani, mandiri, tegar berhati baja, sabar berlapang dada, selalu optimis dan bersaing dalam kebaikan. Ia harus lari sendirian untuk menggapai mimpinya.
Kini, aku juga mulai sadar, bahwa putriku itu bukan aku, dan aku pun bukanlah dia. Aku tidak mampu menahannya untuk terus berada di dekatku. Aku juga tidak akan mampu setiap hari terus menggandeng tangannya yang mungil dalam meraih mimpi karena aku yakin ia akan semakin cepat berlari jika aku melepasnya hari ini.
Tapi, sayangku, jangan kau kira aku membiarkanmu, apalagi membuangmu. Tidak! Justru, jika kau tetap terus bersamaku di rumah, kau tidak akan tahu betapa luasnya rahmat Allah di alam semesta ini, betapa lurus jalan yang dibentangkan-Nya untukmu. Percayalah!
Yakinlah, aku akan terus di belakangmu, mendukungmu dengan sekuat tenaga yang Allah anugerahkan kepadaku. Teruslah melangkah, jangan sekali-kali kamu menoleh ke belakang, berhenti, apalagi mundur. Berlarilah dengan kencang, kejar dan raih cita-citamu.
Sekali lagi, Bismillah, percayalah, karena aku pernah ada dan melewati jalan yang kini akan kau lalui: pesantren.