Advertisement

13 Juni 2022

Dinamika NU Care Lazisnu

 

DINAMIKA NU CARE LAZISNU
R. Taufiqurrochman *)

Sejak tahun 2017 hingga 2022 ini, NU Care Lazisnu Kedungkandang Malang, sebagai salah satu lembaga (baca: Departemen) di bawah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kedungkandang Malang, telah mengalami dinamika yang progresif. Mulai dari perubahan dan rebranding dari Lazisnu menjadi NU Care Lazisnu, restrukturalisasi kepengurusan di dalam tubuh Lazisnu yang berubah hingga tiga kali, hingga perkembangan program kerja, serta manfaatnya bagi NU terutama bagi nahdliyyin dan masyarakat luas. Semua itu menjadi bukti dinamisnya NU Care Lazisnu yang adaptif terhadap perubahan, sebagaimana ciri khas NU yang notabene-nya sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, selalu adaptif, sholihun li kulli zaman wa makan, dengan tetap memegang prinsip: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalil wa al-akhd bi al-jadid al-aslah.

Sifat adaptif dan dinamis ini yang mendorong NU Care Lazisnu selalu berubah, berbenah, terbuka, hingga menjadi lembaga filantropi khas NU yang tetap eksis, dan bahkan diperhitungkan sebagai ruh penggerak dalam organ-organ NU untuk berkiprah lebih luas untuk masyarakat.

Menjelang 1 abad NU berdiri sejak 1926, tentu tantangan yang dihadapi NU semakin besar. Laksana pohon, semakin tinggi batang dan daunnya, semakin besar pula angin yang menerpanya. Jika di tahun 1926, NU hadir untuk mempertahankan Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), merebut kemerdekaan dari asing dan berjuang mempertahankannya melalui resolusi jihad, maka di era orde baru, NU menjadi “oposisi” melalui slogan “kembali ke khittah” dengan berjuang di luar pemerintahan dengan cara menanamkan aswaja ke akar rumput, mencerdaskan kehidupan bangsa hingga puncaknya menjadi ormas Islam pertama yang menegaskan “menerima Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara”. Kemudian, di era reformasi, NU kembali hadir saat negara hampir caos dalam sosok Gus Dur yang dengan gaya kepemimpinannya yang unik, mampu meyakinkan negara-negara di dunia bahwa Indonesia tetap satu dalam wadah NKRI hingga muncul slogan: NKRI Harga Mati.

Pada tahap selanjutnya, tepatnya sejak kran demokrasi terbuka lebar, kader-kader NU mulai bermunculan, menjadi politisi, birokrat, akademisi, dan peran-peran penting lainnya, baik di lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta dan kemasyarakatan. Terbukanya kran demokrasi yang serba bebas ini, ternyata menimbulkan ekses dengan masuknya ajaran transnasional yang mengancam keutuhan NKRI. Wacana tentang negara islam, khilafah, hingga lahirnya sekte dan aliran yang menyimpang dari Aswaja, mulai tumbuh subur di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan besar bagi NU sebagai “benteng” negara dan bangsa.

Tantangan yang dihadapi NU, tidak hanya berasal dari luar NU, namun juga dari dalam NU. Salah satunya adalah munculnya gerakan NU Garis Lurus, Aswaja ala Mbah Hasyim, yang ternyata, gerakan ini sedikit banyak mulai menyerabut pondasi “ghirah nahdliyyah” warga NU di akar rumput. Kepercayaan warga NU terhadap pengurus NU, utamanya PBNU, mulai digerus. Tentu saja, NU tetap utuh, berkah para muassis NU, para kiai dan ulama yang dengan kearifan dan kedalaman ilmu serta luasnya wawasan kebangsaan, gerakan-gerakan itu lambat laun “mati” dengan sendirinya.

Munculnya Densus 99 Asmaul Husna, Densus 26 merupakan respon kaum bersarung (baca: santri) dalam menjaga NKRI, menghadapi ancaman global, terutama aksi teorisme dan radikalisme. Lalu, muncul Aswaja Center sebagai penggerak dan aktifis Aswaja dalam berkhidmat menjaga prinsip dan ajaran Ahlussunah wal Jamaah di bumi Nusantara, tentu salah satu entry point Aswaja Center adalah menangkal paham-paham wahabi, khawarij, agenda khilafah Islamiyah, dan lain sebagainya dalam kerangka “ghazwul fikr”.

Lalu, dimana posisi Lazisnu? Ternyata, eksistensi organisasi yang “anti NKRI” itu, tidak hanya “mencuci otak”, tapi juga mengumpulkan dana-dana dari masyarakat melalui agen-agen filantropi yang dikemas dengan aksi-aksi kepedulian, termasuk dengan cara menjual “penderitaan” muslim dunia. Dengan cara meraih simpati dan menebar empati inilah, mereka hadir di masyarakat, termasuk di tengah warga NU, untuk menggalang dana umat. Pada akhirnya, tanpa disadari, donasi dari sebagian warga NU disalurkan dengan tidak tepat sasaran, dan bahkan dialihkan untuk mendukung agenda besar mereka: menegakkan khilafah dan menyerabut Aswaja dari akarnya. Hal inilah yang mendorong Lazisnu untuk berbenah dengan melakukan rebranding, mempercantik diri, menata organisasi menjadi lembaga filantropi nusantara yang tidak hanya peduli dan empati, tapi juga menyelamatkan ekonomi warga NU dan menjaga keutuhan NKRI dengan menebar manfaat, meneguhkan kemandirian umat.

Dalam sejarahnya, tahun 2004 (1425 Hijriyah) Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) lahir dan berdiri sebagai amanat dari Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-31, di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Ketua Pengurus Pusat (PP) LAZISNU yang pertama adalah Prof. Dr. H. Fathurrahman Rauf, M.A., yakni seorang akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Pada 2005 (1426 Hijriyah) secara yuridis-formal LAZISNU diakui oleh dunia perbankan dan dikukuhkan oleh Surat Keputusan (SK) Menteri Agama No.65/2005.

Di tahun 2010 (1431 Hijriyah) Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan, memberi amanah kepada KH. Masyhuri Malik sebagai Ketua PP LAZISNU dan menggantikan Prof. Dr. H. Faturrahman Rauf, MA. KH. Masyhuri dipercaya memimpin PP LAZISNU untuk masa kepengurusan 2010-2015. Hal itu diperkuat oleh SK Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) No.14/A.II.04/6/2010 tentang Susunan Pengurus LAZISNU periode 2010-2015. Pada tahun 2015 (1436 Hijriyah) dengan berdasarkan Surat Keputusan Nomor: 15/A.II.04/09/2015, Pengurus Pusat LAZISNU masa khidmat 2015-2020 diketuai oleh Syamsul Huda, SH. Lalu, pada tahun 2016 (1437 Hijriyah) dalam upaya meningkatkan kinerja dan meraih kepercayaan masyarakat, NU CARE-LAZISNU menerapkan Sistem Manajemen ISO 9001:2015, yang dikeluarkan oleh badan sertifikasi NQA dan UKAS Management System dengan nomor sertifikat: 49224 yang telah diterbitkan pada tanggal 21 Oktober 2016. Dengan komitmen manajemen MANTAP (Modern, Akuntable, Transparan, Amanah dan Profesional).

Dari catatan sejarah di atas, jelas menunjukkan bukti dinamika NU Care Lazisnu yang sejak berdiri tahun 2004 hingga kini 2022, telah mengalami perubahan yang progresif. Terbukti, sampai saat ini, NU CARE telah memiliki jaringan pelayanan dan pengelolaan ZIS di 12 negara, di 34 provinsi, dan 376 kabupaten/kota di Indonesia. NU CARE sebagai lembaga filantropi akan terus berupaya untuk meningkatkan kepercayaan dari para donatur yang semua sistem pencatatan dan penyalurannya akan bisa dilihat secara real time melalui sistem IT.

Di kota Malang sendiri, tepatnya di tahun 2017, saat itu yang ada hanya PC Lazisnu, demikian pula di tingkat MWC NU. Lembaga Lazisnu masih mengikuti pendekatan lama, tepatnya lebih banyak bertugas mendampingi pengelolaan zakat fitrah dan zakat maal di bulan suci Ramadan. Hal ini bisa dimaklumi, mengingat bahwa Lazisnu masih berposisi “bukan Amil”. Selain daripada itu, pergerakan dunia filantropi belum meluas hingga ke masyarakat bawah. Lebih spesifik lagi, ide tentang “Koin NU” sebagai media filantropi yang massif, belum terpikirkan. Gerakan Koin NU baru diresmikan oleh KH Said Agil Siradj selaku Ketua PBNU pada bulan April tahun 2017 di Sragen Jawa Tengah. Meski telah diresmikan secara nasional, namun gerakan Koin NU ini belum meluas ke tingkat kabupaten/kota, apalagi ke tingkat kelurahan/desa. NU Care Lazisnu sebagai lembaga yang baru rebranding masih mencari bentuk dan pola-pola pengembangan lembaga filantropi ala NU, sekaligus menyusun sistem manajemen pengelolaan Koin NU dan pendistribusiannya agar NU Care Lazisnu layak bersanding dan bersaing, bahkan lebih unggul dari lembaga filantropi lainnya.

Sampai detik ini, eksistensi NU Care Lazisnu Kedungkandang Malang masih berproses menjadi lembaga filantropi ideal yang ke depan menjadi role model (uswah) dalam pengembangan NU Care Lazisnu di tingkat kecamatan.

Wallahu a'lam

*) Direktur Umum NU Care Lazisnu Kedungkandang Malang 2017-2022.



3 Maret 2022

Rusia vs Ukraina (Versi Sinetron)

 

Cerita ini dimulai lebih dari 20 tahun yang lalu. Ukraina (istri) dan suaminya (Rusia), memutuskan bercerai. Atas kesepakatan bersama, beberapa anak menjadi milik istri dan suami.

Mantan suami juga sangat akomodatif dengan meninggalkan banyak harta. Sesemantan juga membantu istri melunasi utangnya yang lebih dari 200 miliar dolar AS.

Usai berpisah dengan mantan suami, si istri mulai bergaul dengan preman. Ia tertarik dengan seorang preman, sebut saja namanya Amerika Serikat (AS), dan ingin bergabung dengan keluarga preman (NATO).

Si mantan suami tentu tidak peduli selama ia tidak diganggu. Tapi, Rusia mulai risih dan merasa terganggu ketika para preman memanfaatkan Ukraina untuk mengancam dan mengkerdilkan dirinya.

Mantan suami mulai marah. Ia memperingatkan mantan istri dengan merebut salah satu anaknya, Krimea.

Sejak itu, Ukraina mulai merasa dendam. Ia ingin menikah (bersatu) dengan keluarga preman (NATO) dan bermimpi nantinya mereka akan membalaskan dendam ke Rusia.

Namun, si istri tak kunjung dinikahi. Di sisi lain, dia terus diprovokasi untuk membuat sesemantan suami marah.

Melihat kelakuan istri yang makin ngelunjak, dua anak mereka yang lain (Donetsk dan Luhansk) menyatakan ingin keluar dari rumah ibunya. Mereka meminta sang ayah untuk mengeluarkan mereka dari sana. Sang ayah pun memenuhi permintaan kedua anaknya.

Di sisi lain, para preman terus mendorong mantan istri untuk berani melawan mantan suaminya. Sebagai tanda dukungan, mereka terus mengirim senjata-senjata usang dan amunisi kedaluwarsa agar sang mantan istri memiliki keberanian untuk bertengkar dengan mantan suaminya. Mereka juga memberi janji akan membelanya dalam pertikaian ini.

Karena terus diprovokasi, sang mantan suami benar-benar murka dan menyerang. Akan tetapi, para preman justru bersembunyi, hanya berkoar-koar mencaci mantan suami dan mengajak seisi desa memusuhinya.

Begitulah kira-kira konflik Rusia dan Ukraina kalau dibuat versi sinetron Indonesia.

Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, jangan biarkan pihak ketiga masuk ke dalam rumah tangga. Konflik harus diselesaikan dengan kepala dingin.