Advertisement

14 April 2018

ISRA' MI'RAJ FIKSI?

 
Cobaan terbesar kedua setelah al-Quran bagi keimanan umat Islam di era Nabi adalah Isra' Mi'raj. Peristiwa fantastik dan jelas di luar nalar itu benar-benar menjadi ujian bagi manusia: apakah mereka masih percaya kepada Allah dan Nabi-Nya, ataukah tidak?
Saat berita itu diviralkan oleh Nabi sendiri, mayoritas orang Arab tidak percaya. Bahkan, beberapa sahabat mulai agak ragu. Apa benar Nabi telah melakukan perjalanan antara Mekah-Palestina hanya semalam? Tidak hanya itu, apa benar Nabi bermi'raj, keliling dunia, menembus langit, melewati berbagai dimensi alam, ruang dan waktu hingga bertemu Allah?
"Tidak! Ini jelas fiksi!", pikir orang Arab, baik yang ori maupun kw, hehehe...
"Mana mungkin Muhammad sanggup melakukannya? Padahal kendaraan paling cepat hanya kuda", kata si Arab yang baru minum urin unta.
Sekali lagi, "Ini jelas fiktif", ujar si kampret. "Imajinasiku tak sanggup memikirkannya. Apapun namanya, jelas Isra' Mi'raj ini hanya ilusi", kata teman si kampret itu.
Demi mencari pembenaran, beberapa orang menemui sahabat Abu Bakar untuk meminta "fatwa" atas pernyataan Nabi Muhammad yang mereka anggap telah menistakan keyakinan mereka selama ini. Lalu, apa jawab Abu Bakar?
"Saya percaya 100% atas apapun yang disampaikan Nabi Muhammad. Bahkan, andaikan ada pernyataan yang lebih tidak masuk akal daripada Isra' Mi'raj ini, aku tetap beriman dan percaya kepadanya", jelas Abu Bakar, mantab.
Begitu hebatnya iman Abu Bakar hingga ia layak diberi gelar "As-Shiddiq" atas dedikasi, loyalitas dan kedalaman imannya. Itulah sebabnya, Nabi pernah bersabda: "Andaikan iman seluruh penduduk bumi ditimbang dengan iman Abu Bakar, maka pasti bobot iman Abu Bakar lebih berat dari iman mereka semua".
Jadi, satu-satunya pendekatan yang paling tepat dalam memahami Isra' Mi'raj adalah pendekatan imani ala Abu Bakar. Ia sama sekali tidak terusik dengan isu penistaan, fiksi, fiktif, penodaan, atau apapun namanya. Yang penting, iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Titik!
Lalu, apa Isra' Mi'raj masih juga termasuk fiksi? Padahal, realitanya adalah apapun yang dikisahkan Nabi Muhammad tentang Baitul Maqdis secara detail, ternyata dibenarkan oleh sekelompok kafilah yang baru tiba dari Palestina.
Jika berita Isra saja 'berubah' menjadi realita padahal sebelumnya dianggap fiksi hanya karena mereka belum melihatnya sendiri, maka demikian pula dengan mi'raj. Jadi jelas, kabar mi'raj itu nyata, realistis, wujud, bukan fiksi atau khayali. Sebagian orang yang masih menilainya fiksi, itu hanya karena kapasitas otak dan akal mereka belum mampu memahaminya.
Bahasa singkatnya, karena iman mereka masih dangkal sehingga semua hal yang di luar nalar dianggapnya sebagai fiksi.
Wallahu a'lam

13 April 2018

Larangan menyerang orang beribadah

 

Pagi itu, Nabi Muhammad saw sedang bersujud di depan Ka'bah. Saat beliau bangkit dari sujudnya, tiba-tiba sekelompok orang kafir mencekik leher Nabi. Jelas, Nabi kesakitan dan sulit bernafas. Untung saja, Abu Bakar tiba tepat waktu. Dia segera melepas tangan orang yang mencekik Nabi, lalu berkata: "Apakah kalian akan membunuh orang yang hanya berkata: Tuhanku adalah Allah?". Lalu, mereka pun bubar.


Sepenggal kisah nyata itu, mestinya mengajarkan kepada setiap pemeluk agama untuk tidak menyerang umat/kelompok lain yang sedang melakukan ritual ibadah menurut kepercayaan masing-masing. Agama adalah petunjuk ke jalan yang benar. Jika petunjuk yang kamu terima justru menuntunmu ke jalan yang salah, jangan-jangan yang kau terima itu bukan agama, tapi ajakan setan bin iblis alias dedemit.

Menyerang umat, orang atau kelompok yang sedang 'beribadah' apalagi di tempat ibadah adalah kejahatan paling nyata, melebihi ajaran Iblis. Apapun ideologi dan keyakinanmu, jangan sekali² menyerang kelompok/umat lain yang beribadah karena jelas, perbuatan keji seperti itu bukan ajaran agama.

Tapi, adakah yang lebih jahat dari menyerang orang yang sedang ibadah? Ada. Yaitu, orang atau kelompok yang memanfaatkan agama untuk kepentingannya sendiri, yang berusaha memancing di air keruh dengan mengadu-domba dan menghembuskan berita-berita hoax agar kekerasan berbau SARA melebar luas. Setelah semua terprovokasi, mereka malah menari. Waspadalah karena sejatinya pertikaian yang banyak terjadi itu, bukan murni masalah agama, tapi dari hawa nafsu untuk berkuasa demi meraup kekayaan sebesar²nya di atas penderitaan orang lain sebanyak²nya.

Orang beragama yang cerdas tidak akan terprovokasi dengan isu dan kasus murahan.