14 September 2026

Sang Nahkoda Haji

 

Sang Nahkoda Haji

Dalam sebuah acara pelaporan hasil penyelenggaraan ibadah haji tahun 2012, di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan puluhan jenderal—termasuk Menko Polhukam, Kapolri, Panglima TNI, serta pejabat tinggi lainnya—Menteri Agama RI kala itu, Suryadharma Ali, menyampaikan penjelasan sekaligus tantangan terhadap berbagai kritik yang ditujukan kepada Kementerian Agama selaku penyelenggara haji.

Di tengah suasana khidmat, Pak Menteri melemparkan pertanyaan yang langsung menghentikan semua suara:

“Mohon tunjukkan kepada saya: negara adidaya mana yang mampu memberangkatkan pasukannya sebanyak 200.000 tentara—pulang-pergi—dalam tempo hanya 60 hari? Dan itu dilakukan setiap tahun!”

Ruang pun senyap. Bahkan Presiden SBY, seorang jenderal berpengalaman, terdiam.

Belum selesai di situ, Pak Menteri melanjutkan dengan logat Betawi yang kental:

“Seandainya ada… Kementerian Agama jauh lebih hebat.”

Para hadirin terkejut. “Kenapa?” tanya mereka dalam hati.

Pak Menteri pun menjelaskan perbandingannya satu per satu—dengan gaya khas yang penuh canda namun sarat makna:

“Kalau tentara, usianya rata-rata sama. Tapi jamaah haji? Usianya mulai dari 17 tahun sampai 110 tahun—itu belum termasuk musim rekor!”

Hadirin mulai tersenyum.

“Kalau tentara, penguasaan bahasa asingnya di atas rata-rata. Tapi jamaah haji? Ada yang fasih lima bahasa… ada juga yang belum lancar berbahasa Indonesia.”

“Kalau tentara, kesehatannya prima. Tapi jamaah haji? Ada yang sehat luar biasa… sampai ada yang minta mati di Tanah Suci.”

Tawa pecah. Presiden SBY ikut tertawa lepas.

“Tentara punya keterampilan seragam dan disiplin tinggi. Tapi jamaah haji? Bapak-bapak tahu sendiri lah…”

“Tentara bisa naik-turun pesawat lewat tangga atau bahkan terjun payung. Tapi jamaah haji? Banyak yang baru pertama kali naik pesawat… bahkan ada yang belum tahu cara pakai toilet pesawat!”

Suasana semakin cair. Namun Pak Menteri belum puas.

“Jadi, kalau kita bisa menyelenggarakan haji setiap tahun—dengan segala keragaman itu—itu jauh lebih hebat daripada negara adidaya manapun di dunia! Kita mengorganisir jamaah dari seluruh kabupaten dan kota: dari pesisir, kaki gunung, pedesaan terpencil… bukan dari satu batalyon yang seragam.”

Hadirin terpingkal-pingkal. Tapi sang Menteri masih punya jurus pamungkas.

“Kalau mau didramatisir lagi: misalnya perang bertujuan menduduki wilayah. Nah, Kementerian Agama ini sudah sukses besar! Kita ‘menduduki’ Mekah, Madinah, Arafah, Mina, Muzdalifah… bahkan Jabal Uhud, Jabal Rahmah, Jabal Nur, hingga Gua Hira! Bandara King Abdul Aziz, Laut Merah di Jeddah, mal, pasar—semua sudah ‘dikuasai’ oleh lebih dari 194.000 jamaah kita. Dan ‘invasi’ ini berhasil dengan korban kurang dari 500 orang. Itu artinya, angka kematian kurang dari nol persen!”

Para jenderal yang hadir hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum. Mereka sadar: apa yang disampaikan bukan sekadar pembelaan, tapi pengakuan atas kompleksitas luar biasa yang dihadapi penyelenggara haji Indonesia.

Dan sebagai penutup, Pak Menteri menyatakan dengan penuh keyakinan:

“Jadi, saya punya Dirjen Haji yang lebih hebat daripada NATO sekalipun.”

=====

Dinukil dari Buku: Sang Nakhoda: Biografi Suryadarma Ali 

Penulis: R. Taufiq El-Rachman 

Penerbit: UIN Maliki Press, 2013.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar