6 Mei 2015

Kamus Kedokteran Ind-Arab Arab-Ind

 


Judul Buku: 
Kamus Kedokteran "Nuria" Indonesia - Arab Arab - Indonesia
Penyusun : 
Dr. H. R. Taufiqurrochman, MA
Penerbit : 
Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Tahun : 2015

ISBN : 978-602-313-031-3
Harga : Rp 99.000,- 
 
Kata Pengantar:
Prof. Dr. Ishom Yusqi, MA 
(Guru Besar di Bidang Islamic Studies, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta)
Dr. drh. Bayyinatul Muchtaromah, M.Si
(Dokter dan Praktisi Pendidikan, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)


Alhamdulillah bi hamdihi, was sholatu was salam ‘ala rasuluhi wa alihi wa shohbini. Puji syukur penyusun haturkan ke hadirat Allah swt yang dengan izin-Nya, kamus kedokteran ini dapat rampung. Semoga shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan semua umatnya.
Telah lama penyusun berkeinginan menyuguhkan kamus bahasa Arab model baru di tengah para pembaca dan pecinta bahasa al-Qur'an. Akhirnya, setelah penyusun melakukan riset (disertasi) terhadap tipologi kamus-kamus bahasa Arab yang populer di Indonesia, penyusun memutuskan untuk mendesain kamus spesialis (Qomus Takhshish) yang menghimpun istilah-istilah khusus pada bidang studi tertentu.
Model kamus spesialis ini, mungkin saja bukan hal yang baru, namun dengan memilih bidang kedokteran, lalu penyusun menampilan dua wajah –dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab dan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia–, maka hal ini boleh jadi merupakan nilai lebih kamus ini.
Selain itu, kamus yang diberinama “Nuria” ini, juga penyusun lengkapi dengan pengertian atau definisi dari masing-masing istilah kedokteran. Model kamus ala “Ta’rifaat”-nya al-Jurnani ini, sengaja penyusun terapkan untuk memudahkan para pembaca, paramedis dan pelajar Indonesia dalam memahami makna dari istilah kedokteran yang kebanyakan masih asing dan sulit dimengerti kecuali oleh mereka yang serius di bidang medis.
Mengapa harus ada kamus kedokteran dalam bahasa Arab? Perlukah? Pertanyaan ini juga penyusun sadari sedari awal. Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sejarah. Ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.
Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab.
Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma’mun dari Diansti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.
Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti, Jurjis Ibn-Bakhtisliu, Yuhanna Ibn Masawaya, serta Hunain Ibn Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemahan itu yang beragama Kristen. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh penguasa Muslim.
Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru.
Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia kedokteran, hingga sekarang.
Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam sekolah Jindi Shapur. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi (Razes), Al-Zahrawi (Abulcasis), Ibnu-Sina (Avicenna), Ibnu-Rushd (Averroes), Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.
Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.
Melihat sejarah perkembangan dan kebangkitan ilmu kedokteran di kalangan umat Islam yang “dibuka” melalui proses penerjemahan, maka jelas sekali betapa pentingnya posisi bahasa dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, penyusun berharap kamus “Nuria” ini memberi sedikit kontribusi kebangkitan kembali ilmu kedokteran di kalangan umat Islam dan masyarakat dunia pada umumnya.

Bagaimana pun juga, ilmu kedokteran saat ini masih sangat diminati. Apalagi, tenaga kerja Indonesia di bidang medis juga sangat diperlukan di negara-negara Arab dan mereka memerlukan skill bahasa Arab yang bagus. Semoga saja, kamus ini dapat membantu.
Yang jelas, kamus kedokteran ini memiliki banyak kekurangan. Terlebih lagi, latarbelakang penyusun bukanlah seorang dokter atau tenaga medis. Oleh karenanya, penyusun terus memohon masukan untuk kesempurnaan kamus ini di masa depan.
Terakhir, harapan penyusun, semoga kamus kedokteran ini bermanfaat untuk semua. Kamus “Nuria” ini, penyusun dedikasikan untuk mengenang nenek penulis tercinta yang telah dipanggil ke haribaan Huw Allah Ta’ala.

Karakteristika Kamus

Bahasa:
Indonesia - Arab Arab - Indonesia

Sistem Penyusunan Lema Kamus : 
Artikulatif (an-Nuthqi) dan Alfabetis (al-Alfaba'i)

Jenis Kamus : 
Spesialis (khusus ilmu kedokteran)

Jumlah kosakata : 
10.800 kata (Ind-Arab, Arab-Ind)

Perwajahan : 
Definitif (at-Ta'rifaat), yakni, setiap kata dilengkapi definisinya sehingga persis spt kamus Ind-Ind
   

1 komentar:
Tulis komentar