Iklan

1 Oktober 2011

Cinta Buta Demi Nabi

 


Pada suatu hari, ketika Rasulullah saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabatnya, seorang pemuda datang mendekati Rasul sambil berkata, “Ya Rasulullah, aku mencintaimu.” Lalu Rasulullah saw berkata: “Kalau begitu, bunuh bapakmu!”

Pemuda itu pergi untuk melaksanakan perintah Nabi. Kemudian Nabi memanggilnya kembali seraya berkata, “Aku tidak diutus untuk menyuruh orang berbuat dosa.” Aku hanya ingin tahu, apa betul kamu mencintai aku dengan kecintaan yang sesungguhnya?”

Tidak lama setelah itu, pemuda ini jatuh sakit dan pingsan. Rasulullah saw datang menjenguknya. Namun pemuda itu masih dalam keadaan tidak sadar. Nabi berkata, “Nanti kalau anak muda ini bangun, beritahu aku.” Rasululah saw kemudian kembali ke tempatnya

Lewat tengah malam pemuda itu bangun. Yang pertama kali ia tanyakan ialah apakah Rasulullah saw telah berkunjung kepadanya. Diceritakanlah kepada pemuda itu, bahwa Rasulullah saw bukan saja berkunjung, tapi beliau juga berpesan agar beliau diberitahu jika pemuda itu bangun.

Mendengar pesan tersebut, pemuda itu berkata, “Tidak, jangan beritahukan Rasulullah saw. Bila Rasulullah harus pergi pada malam seperti ini, aku kuatir orang-orang Yahudi akan mengganggunya di perjalanan.” Segera setelah itu, pemuda itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pagi hari usai shalat subuh, Rasulullah saw diberitahu tentang kematian pemuda itu. Rasul datang melayat jenazah pemuda itu dan berdo’a dengan do’a yang pendek tetapi sangat menyentuh hati, “Ya Allah, sambutlah Thalhah di sisi-Mu, Thalhah tersenyum kepada-Mu dan Engkau tersenyum kepadanya.”

Dengan hal itu Nabi menggambarkan kepada kita, bahwa orang yang mencintainya akan dido’akan oleh Nabi untuk berjumpa dengan Allah swt. Allah akan ridha kepadanya dan dia ridha kepada Allah. Dia tersenyum melihat Allah dan Allah tersenyum melihatnya.

Rasulullah bersabda, “Belum beriman kamu sebelum aku lebih kamu cintai daripada dirimu, anak-anakmu, dan seluruh ummat manusia.”. Meski hadis ini menunjukkan wajibnya "Cinta Nabi", namun ternyata, cinta yang diinginkan Nabi bukanlah cinta yang buta. Cinta yang buta adalah cinta yang tidak berlandaskan kasih dan sayang. Cinta membara yang menghalalkan segala cara, meski itu demi Nabi, demi Islam, ternyata adalah cinta yang salah kaprah.

Yang menghalalkan segala cara, merusak kedamaian, menghancurkan dan membom apa saja, menumpahkan darah siapapun, meski atasnama cinta Nabi, semua itu justru tidak akan mendapat sambutan Sang Nabi Tercinta. Cintanya orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dengann dalih agama, demi Islam, demi Allah, demi Rasul adalah cinta palsu. Itulah cinta tektualis, cinta teoritis, cinta yang buta yang tak ada wujudnya.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar