Iklan

29 September 2011

Kebodohan Spiritual

 


Setiap orang diberi kecerdasan spiritual menurut kadar yang telah ditentukan. Repotnya, setiap orang malah memelihara dan menjaga dengan rapi kebodohan spiritualnya. Bagaimana agar kebodohan kita tidak dominan?

Masih ingat Firaun yang akhirnya sadar bahwa dia manusia biasa? Firaun yang selama hidupnya mengaku Tuhan dan memaksakan kehendak kepada rakyat akhirnya harus karam di laut merah. Saat terakhir akan ditelan lautan ganas itulah, dia baru sadar ketidakberdayaannya. Kebodohan Firaun ini harus ditebus dengan kegagalan dia untuk bertaubat. Taubat yang terlambat, sama saja dengan tidak bertaubat dan dia digolongkan Tuhan sebagai manusia yang gagal dalam hidup.

Dari segi sumber daya manusia (SDM) Firaun tidak kekurangan suatu apa. Dia cerdas dan lihai. Buktinya, dia bisa juga menjadi raja dalam jangka waktu sekian lama. Kecerdasan emosinya juga baik karena saat dia menghukum siti Masyitoh dengan memasukkan ke belanga besar yang diisi air mendidih, dia masih menawarkan Masyitoh untuk kembali mengakui Firaun sebagai Tuhan. Namun, kecerdasan spiritual yang rendahlah, yang akhirnya tidak menyelamatkan akidahnya. Dengan kata lain, kebodohan spiritualnya lebih dominan dari kecerdasan spiritual.

Apa itu kecerdasan spiritual? Kecerdasan spiritual adalah tingkat kesadaran manusia untuk mengakui sesuatu yang adikodrati, mengakui sesuatu yang transenden, mengakui ada sesuatu yang menciptakan segala yang ada. Sesuatu itu tidak diciptakan lagi oleh sesuatu yang lain.

Sementara kebodohan spiritual adalah tingkat kesadaran manusia yang tidak mengakui sesuatu yang adikodrati. Pikiran yang melulu hanya menganalisa gejala-gejala yang tampak di mata (benda-benda) dan menafikan atau menolak adanya kegiatan rasa/batin sebagai aktivitas kejiwaan untuk menemukan kebenaran. Gejala ini sangat tampak dari paham positivistik, materialisme yang akhirnya berakibat nihilisme.

Kalau kita amati, gejala umum masyarakat “modern” yang pandai untuk mengolah hidupnya dengan berbagai teknologi untuk berperilaku “modern” justeru kebingungan untuk menata pandangan hidup yang jauh dan mendalam. Pandangan hidup masyarakat modern umumnya sekular, menjauhkan hal-hal yang sifatnya spiritual dengan urusan dunia. Urusan dunia bahkan lebih cenderung dinomorsatukan sementara urusan akhirat yang abstrak biasanya dinomorsekiankan. Ya, masyarakat modern lebih dominan kebodohan spiritualnya daripada kecerdasan spiritual.

Menyadari akibat bila kita salah memikirkan sesuatu, menyadari akibat bila otak kita secara tidak sadar hanya dijejali oleh “urusan-urusan” yang tidak ada sangkut pautnya dengan Rencana Tuhan pada kita, akan mengakibatkan kita mendapatkan Kesadaran. Kesadaran untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dalam hidup ini untuk menyelesaikan peta/desain awal kenapa kita diciptakan, yaitu untuk rahmat bagi seluruh alam semesta karena kita adalah Wakil yang ditunjuk-Nya untuk menyelesaikan agenda-agenda besar ketuhanan.

Kembali pada tema Kebodohan spiritual. Kebodohan spiritual tidak sampai menjangkau hal-hal yang abstrak tersebut. Akal dan pikiran hanya disibukkan dengan, misalnya, bagaimana caranya mendapatkan keuntungan dan uang sebanyak-banyaknya untuk dinikmati. Uang adalah raja atau bahkan tuhan di dunia ini. Dengan uang, kebahagiaan bisa dibeli. Inilah cara berpikir kaum rasionalistis, pragmatis, hedonis, cara berpikir rasional yang dilanjutkan dengan pada praktek yang tujuan akhirnya hanyalah pada kebahagiaan di dunia saja.

Inilah gejala kebodohan spiritual yang menjadi tanda-tanda kiamat. Nilai-nilai keabadian yang telah dijungkirbalikkan oleh manusia kemudian pada suatu saat akan menjungkirbalikkan kembali tataran yang telah sedemikian polutif. Inilah momentum kiamat akbar yaitu ujung hancurnya nilai-nilai ketuhanan. Sementara momentum kiamat kecil adalah hancurnya nilai-nilai ketuhanan yang telah diinstal dalam otak kita saat kita masih belum dilahirkan oleh ibu kita. Yaitu tatkala ruh kita telah meneken Memorandum of Understanding (MOU) dengan Tuhan, “Alastu Birobbikum Qaalu Bala Syahidna …” (Bukankah Aku (Allah) Tuhanmu? Manusia menjawab: Iya, benar).

Hancurnya nilai-nilai ketuhanan itulah yang harus diwaspadai oleh kita semua. Bagaimana menyelamatkan otak (hardware) yang berisi “file-file” pikiran dan keyakinan terhadap nilai-nilai ketuhanan yang telah sengaja dirusak oleh kita sendiri?

Ada satu hal yang bisa mengubah kita menjadi baik. Yaitu, mulailah sekarang dan disini. Yakinkan bahwa ini adalah “Petunjuk Allah swt” yang telah datang pada kita untuk menyadari kebodohan spiritual yang selama telah kita pendam, kita jaga dan kita rawat baik-baik. Selanjutnya akan disusul dengan menata niat untuk bertaubat. Menyadari kesalahan dan kebodohan itu dan seterusnya melangkah berdasarkan agenda-agenda Tuhan kepada kita semua.

Jangan-jangan, kita memang masih menjadi firaun-firaun yang menyembah “keakuan” kita sendiri di atas keakuan-Nya, Gusti Allah. Inilah kebodohan spiritual yang paling sering tidak kita akui.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar