Iklan

23 Juli 2015

Sehzade Mustafa: Sisi Gelap Sultan Sulaiman

 


Serial ANTV "Abad Kejayaan" yang sebelumnya berjudul "King Sulaiman", sejak awal ditayangkan, benar-benar membuat pemirsa, termasuk aku, langsung kesem-sem. Selain alur cerita, aktor dan aktrisnya yang tampan dan cantik, totalitas akting, pakaian dan pernak-pernik kerajaan khas Dinasti Ottoman, semua terlihat rapi dan wah!

Poin penting yang membuat serial ini sangat menarik bagiku, yaitu aspek sejarah. Meski semua yang ditampilkan di film ini tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi saat itu, -meminjam istilah al-Zastrow- karena keterbatasan para sejarahwan menembus dinding istana, namun, paling tidak, film ini membantu kita memahami sekelumit sejarah Dinasti Utsmani melalui visualisasi kejayaan King Sulaiman yang sempat menguasai 3 benua dan menyebarkan ajaran Islam hingga ke daratan Eropa.

Baginda Sulaiman yang dijuluki "al-Qonuni" karena keadilan, ketegasan dan keberaniannya dalam memimpin kerajaan dan keberhasilannya dalam memperluas wilayah kekuasaan merupakan prestasi hebat dan patut dicatat dengan tinta emas dalam sejarah Islam.
Terlepas dari sisi positif itu, di sisi lain, era King Sulaiman juga mengalami sisi kelam. Intrik dan perebutan kekuasaan di seputar istana, terutama di kalangan anggota dinasti sendiri, jelas turut memperlemah kekuasaan King Sulaiman. Persaingan antara Mahidevran sebagai isteri pertama dan Hurrem sebagai isteri kedua yang mantan pelayan, kedua putri ini terus bersaing untuk mendudukkan pangeran mereka masing-masing ke singgasana Baginda.

Akibat dari persaingan yang tak kunjung berakhir itu, banyak jatuh korban dari tokoh besar kerajaan yang semestinya berpotensi dan mampu memperkuat dinasti untuk waktu lama.

Orang pertama adalah Ibrahim Pasha, perdana menteri, sahabat karib Baginda sejak masih muda, dan bahkan suami dari Putri Khadijah, adik kesayangan Baginda. Tragis! Ibrahim Pasha yang cerdas dan handal dalam berperang itu, pada akhirnya, harus mati atas perintah Baginda Sulaiman sendiri. Ia ditikam saat tidur di dalam istana Baginda, tepat di bulan Ramadan. Nyawanya melayang di tangan aljogo dan jasadnya dikubur tanpa pusara hingga tak bisa dikenali dimana kuburannya.

Orang Kedua, Sehzade atau Pangeran Mehmet. Putra tertua putri Hurrem tersebut mati terkena musibah cacar, wabah menular dan mematikan yang saat itu melanda Manisa, tempat Mehmed menjabat sebagai gubernur. Sebenarnya, kematian Mehmet bukan akibat penyakit, namun intrik rapi dari Mahidevran yang melalui pesuruhnya, ia berhasilkan menularkan virus mematikan ke tubuh Mehmet. Sekali lagi, tragis!
Orang ketiga yang meninggal dunia paling tragis dan menyedihkan, tentu saja adalah kematian Sehzade atau Pangeran Mustafa. Putra Sulung Baginda Sulaiman dari perkawinannya dengan Mahidevran.

Putra mahkota yang memang pantas menjadi calon kaisar dunia di masa depan itu, pada akhirnya harus mati dieksekusi. Dan, yang lebih tragis lagi adalah bahwa kematian Mustafa atas perintah ayahnya sendiri, Baginda Sulaiman.

Mengingat kembali munculnya tokoh Mustafa di saat masih kecil, begitu lucu dan menggemaskan. Dan, yang paling diingat di episode-episode awal kemunculannya adalah saat dia di dalam kereta bersama sang ibu, Mahidevran. Mustafa kecil terlihat lincah, tampan dan pintar. Dalam serial ini, digambarkan bahwa Sultan Sulaiman sangat menyayangi Mustafa, meskipun ia juga punya putra-putra yang lain dari istrinya Hurrem.
Saat Mustafa kecil sudah beranjak sedikit remaja, lagi-lagi pemerannya juga bocah yang manis. Nah, saat Mustafa dewasa, tokoh yang tak kalah kharismatiknya dengan Halit Ergeng, pemeran Baginda Sulaiman. Dialah Mehmet Günsür. Sekilas, dia sih mirip dengan aktor Hollywood, Jamie Dornan, waktu brewokan.

Dalam serial ini, pembunuhan atas pangeran Mustafa digambarkan dengan sangat apik. Menguras air mata malah. Ceritanya, waktu itu Baginda sedang berada dalam sebuah kamp di Eregli hingga Mustafa dipanggil untuk bergabung bersama pasukan sang ayah. Ketika Mustafa masuk ke tenda Baginda, dia langsung dikeroyok oleh para algojo Baginda Sulaiman. Dia dibunuh dengan ikatan tali tambang di depan Baginda Sulaiman sendiri dan atas perintah Penguasa Ottoman itu pula.

Ketika Pangeran Mustafa roboh setelah sebelumnya dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri tapi gagal hingga akhirnya, Mustafa menemui ajalnya. Nah, ketika Sang Pangeran wafat inilah, serial ini menggambarkan detailnya cukup bagus dan begitu menyedihkan.
Tepatnya, saat Baginda Sulaiman menangis pilu sambil mengangkat tubuh Mustafa yang sudah tidak bernyawa ke pangkuannya. Ketika itu, lalu tokoh Mustafa dewasa diganti menjadi Mustafa kecil. Pada adegan ini, pemirsa seakan diminta mengingat masa-masa dulu lagi, saat Mustafa kecil yang lucu bertanya banyak hal, bermain dengan Sang Baginda.

Ah, mungkin ini terlalu melankolis. Ketika melihat scene Mahidevran datang ke pemakaman Mustafa, tangis pemirsa mungkin makin parah. Mahidevran yang rambutnya sudah memutih, wajahnya dipenuhi keriput, berkata:

“Mustafa... My lion son... My innocent baby... How could they hurt you? How could they kill you? Those who killed you will be happy, my son?”

Hii..hii...ingin sekali aku menangis. Dari peristiwa ini, ada satu pesan yang bisa diambil dari kematian Mustafa dan tangisan Mahidevran dalam serial ini, bahwa saat seseorang meninggal, bukan istri atau suami yang paling merasakan kesedihan, melainkan orangtua, terutama Ibu. Karena, Ibu yang sudah melahirkan kita. Dia yang merawat kita sejak bayi, sejak belum mengerti apa-apa, sejak berwajah polos, bertanya banyak hal, hingga seperti sekarang.

Jadi, pantas saja kalau seorang ibu berkata pada anaknya:

“Hal yang paling menyakitkan bukanlah saat melahirkanmu, melainkan saat aku harus kehilanganmu”.
Dalam sejarah, umur Pangeran Mustafa memang tidak panjang. Ia lahir pada tahun 1515 di Manisa dan wafat tahun 1553 di Konya. Ya, hidup sekitar 37-38 tahunan. Seperti yang ditulis Pangeran Mustafa dalam suratnya kepada Baginda, surat yang sisipkan di dalam bajunya. Isi surat itu, kurang lebih adalah:

"Ayahku tercinta, saat suratku ini Kau baca, berarti aku telah mati di tanganmu. Sungguh, aku tidak bersalah. Aku telah bersumpah tidak akan mengkhianatimu dan Kau pun telah bersumpah tidak akan membunuhku. Tapi, Kau bersalah karena melanggar sumpahmu sendiri...."

"Aku mungkin tidak akan dikenang dalam sejarah. Bahkan, namaku tidak akan ditulis dengan tinta emas. Orang hanya akan mengenalku sebagai pangeran yang memberontak terhadap ayahnya sendiri, Sang Kaisar dunia. Akan tetapi, aku yakin, suatu saat, kebenaran akan terungkap, bahwa aku tidak bersalah...."

"Jika tidak hari ini, nanti, setelah berabad-abad lamanya, para sejarahwan akan menulis dan mengakui bahwa aku -Mustafa putra Baginda Sulaiman- adalah pangeran pemberani yang mati di tangannya ayahnya sendiri demi kebenaran. Mustafa bukanlah pemberontak, tapi ia seorang putra mahkota yang dikorbankan".

Dan, tulisanku ini adalah salah satu saja dari sekian banyak catatan yang ingin menyebut bahwa Sehzade atau Pangeran Mustafa bukanlah pengkhianat, tapi dia adalah tokoh hebat yang semestinya potensial memimpin kekaisaran Ottoman, suksesor Sultan Sulaiman al-Qonuni.

Satu lagi yang ingin saya tulis, bahwa bagaimana pun juga, Sultan Sulaiman al-Qonuni adalah salah satu pemimpin besar muslim yang hebat dan telah berjasa dalam menyebarkan agama Islam di daratan Eropa. Keputusannya membunuh Mustafa, bukan sepenuhnya kesalahan Baginda Sulaiman. Namun, tragedi itu adalah akibat intrik politik dan perebutan kekuasaan orang-orang di sekitarnya.

Umat Islam tidak akan pernah kalah oleh musuh-musuh mereka. Umat Islam hanya bisa kalah saat mereka saling bertikai dan bermusuhan sesama saudaranya sendiri. Sebuah hikmah yang dapat dipetik dari serial "Abad Kejayaan" ini.

Ingat, serial itu belum berakhir, makin hari makin mendebarkan. Selamat menyaksikan!

Kediri, 22 Juli 2015

Tidak ada komentar:
Tulis komentar