13 September 2019

Model Pembelajaran Dick n Carey

 





Image result for pembelajaran dick and carry

 Model  Dick Dan Carey
  
Model pembelajaran Dick dan Carey merupakan model pembelajaran yang dikembangkan melalui pendekatan sistem (System Approach). Terhadap komponen-komponen dasar dari desain sistem pembelajaran yang meliputi analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Model sistem pembelajaran yang dikembangkan oleh Dick dkk terdiri atas beberapa komponen yang perlu dilakukan untuk membuat rancangan aktifitas pembelajaran yang lebih besar. 
    
Dick dan Carey memasukkan unsur kognitif dan behavioristik yang menekankan pada respon siswa terhadap stimulus yang dihadirkan. Implementasi model desain sistem pembelajaran ini memerlukan proses yang sistematis yang menyeluruh. Hal ini diperlukan untuk dapat menciptakan desain sistem pembelajaran yang mampu digunakan secara optimal dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran. Komponen-komponen sekaligus langkah-langkah utama dari model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dkk yang terdiri atas:

1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran 
2. Melakukan analisis instruksional
3. Analisis Siswa dan Konteks
4. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus
5. Mengembangkan instrument penelitian
6. Mengembangkan strategi pembelajaran
7. Penggunaan Bahan Ajar
8. Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif
9. Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
10.  Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.

Langkah-langkah di atas harus dilakukan secara berurutan agar model Dick dan Carey dapat diterapkan secara ideal. berikut penjelasan dari tiap langkah: 
1.      Mengidentifikasi tujuan pembelajaran 
     Dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran hal yang perlu dilakukan dalam kegiatan ini adalah menentukan kemampuan atau kompetensi yang perlu dimiliki oleh siswa setelah menempuh program pembelajaran. Hal ini diistilahkan dengan tujuan pembelajaran atau instructional goal. Rumusan tujuan pembelajaran dapat dikembangkan baik dari rumusan tujuan pembelajaran yang sudah ada pada silabus maupun dari hasil analisys kinerja atau performance analysis. Rumusan tujuan pembelajaran dapat dihasilkan melalui proses analysis kebutuhan atau need analysis dan pengalaman-pengalaman tentang kesulitan-kesulitan yang diahadapi oleh siswa. Selain itu tujuan pembelajaran dapat juga dirumuskan dengan menggunakan analysis tentang cara seseorang melakukan tugas atau pekerjaan yang spesifik dan persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk melakukan tugas dan pekerjaan tersebut, atau istilah ini disebut dengan istilah analysis tugas atau Task analysis.

2.     Melakukan analisis instruksional
  Setelah melakukan identifikasi tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya adalah analysis instruksional, yaitu sebuah proses proses yang digunakan untuk menentukan keterampilan dan pengetahuan relevan dan diperlukan oleh siswa untuk mencapai kompetensi atas tujuan pembelajaran. Dalam melakukan analisis instruksional beberapa langkah yang diperlukan untuk mengidentifikasi kompetensi berupa pengetahuan (cognitive), keterampilan (Phsycomotor) dan sikap (attitudes) yang perlu dimiliki oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

3Analisis Siswa dan Konteks
Dalam model Dick dan Carry analisis terhadap siswa yang akan belajar dan konteks pembelajaran.    Kedua langkah ini dapat dilakukan secara bersama-sama atau paralel. Analisis konteks meliputi        kondisi-kondisi terkait dengan keterampilan yang dipelajari oleh siswa dan situasi yang terkait    dengan tugas yang dihadapi oleh siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari. Analisis terhadap karakteristik siswa meliputi kemampuan actual yang yang dimiliki oleh siswa, gaya belajar (learning styles), dan sikap terhadap aktivitas belajar. Identifikasi yang akurat tentang karakteristik siswa yang akan belajar dapat membantu perancang program pembelajaran dalam memilih dan menentukan strategi pembelajaran yang akan digunakan. 

4. Merumuskan tujuan pembelajaran khusus
Berdasarkan analisis instruksional, seorang perancang desain sistem pembelajaran perlu mengembangkan kompetensi atau tujuan pembelajaran spesifik (instructional objectives) yang perlu dikuasai oleh siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bersifat umum (instructional goal). Dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang bersifat berspesifik, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian: 
a) Menentukan pengetahuan keterampilan yang perlu dimiliki oleh siswa setelah
           menepuh proses  pembelajaran. 
b) Kondisi yang dieprlukan agar siswa dapat melakukan unjuk kemampuan dari pengetahuan yang  telah dipelajari 
c) Indikator atau kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menempuh proses pembelajaran 

5. Mengembangkan instrument penelitian
Berdasarkan tujuan kompetensi khusus yang telah dirumuskan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan alat atau instrumem penilaian yang mampu mengukur pencapaian hasil belajar siswa, hal ini dikenal dengan istilah evaluasi hasil belajar. Hal yang penting dalam menentukan instrument evaluasi yang akan digunakan adalah instrument harus dapat mengukur performance siswa dalam mencapau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. 

6. Mengembangkan strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengimplementasikan aktivitas pembelajaran yaitu aktifitas pra-pembelajaran, penyajian materi pembelajara, dan aktivitas tindak lanjut dari kegiatan pembelajaran. Penentu strategi pembelajaran harus didasarkan pada faktor-faktor berikut:a. 
a. Teori terbaru tentang aktifitas pembelajaran 
b. Penelitian tentang hasil belajar 
c. Karekteristik media pembelajaran yang akan digunakan untuk menyampaikan
    materi pembelajaran
d. Materi atau substansi yang perlu dipelajari oleh siswa 
e. Karakterisitik siswa yang akan terlibat dalam kegiatan pembelajaran 

7. Penggunaan Bahan Ajar
Istilah bahan ajar sama dengan media pembelajaran, yaitu sesuatu yang dapat membawa informasi dan pesan dari sumber belajar kepada siswa, bahan ajar yang dapat digunakan adalah buku teks, buku panduan, modul, program audio video, bahan ajar berbasis computer, program multimedia, dan bahan ajar yang digunakan pada sistem pendidikan jarak jauh. 

8. Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif
Evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengumpulkan data yang terkait dengan kekuatan dan kelemahan program pembelajaran. Hasil dari proses evaluasi formatif dapat digunakan sebagai masukan untuk memperbaiki draf program Tiga jenis evaluasi formatif:
a. Evaluasi perorangan (on to one evaluation)
  Evaluasi perorangan merupakan tahap yang perlu dilakukan untuk melakukan kontak langsung dengan satu atau tiga orang calon pengguna program untuk memperoleh masukan tentang ketercenaan dan daya tarik program. 
b.      Evaluasi kelompok sedang (small group evaluation) 
Evaluasi kelompok dialakukan kecil dilakukan untuk menguji cobakan program     terhadap sekelompok kecil calon pengguna yang terdiri dari 10-15 orang siswa. Evaluasi ini dilakukan untuk memperoleh masukan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas program. 
c.      Evaluasi lapangan/field trial 
Evaluasi lapangan adalah uji coba program sebelum program tersebut digunakan dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya. 

9. Melakukan revisi terhadap program pembelajaran
Langkah terakhir dari proses desain adalah melakukan revisi terhadap draf program pembelajaran. Data yang diperoleh dari prosedur evaluasi formatif dirangkum dan ditafsirkan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh program pembelajaran, evaluasi tidak hanya dilakukan pada draf program pembelajaran saja, tetapi juga pada aspek-aspek desain sistem pembelajaran yang digunakan dalam program, seperti analisis instruksional, entry behavior dan karakteristik siswa. Prosedur evaluasi formatif perlu dilakukan pada semua aspek program pembelajaran dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas program tersebut. 

10.  Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
    Evaluasi merupakan jenis evaluasi yang berbeda dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini dianggap puncak dalam aktifitas desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dan Carrey. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dievaluasi secara formatif dan direvisi sesuai dengan standar yan digunakan oleh perancang. Evaluasi sumatif tidak melibatkan perancang program, tetapi melibatkan penilai independen. Hal ini merupakan satu alasan untuk menyatakan bahwa evaluasi sumatif tidak tergolong kedalam proses desain sistem pembelajaran. Langkah desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick dan Carrey merupakan sebuah prosedur yang menggunakan pendekatan sistem dalam mendesain sebuah program pembelajaran. Setiap langkah dalam desain pembelajaran memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lainnya. 

B.     Penerapan Desain Inturksional Model Dick Dan Carey Di TK Di Lab School FIP UMJ Dalam Peningkatan Pembelajaran Kognitif Pengenalan Konsep Bilangan Melalui Media Fauna Pantai 


1   1.  Menganalisis Tujuan Pembelajaran.
Anak usia TK (4-5 tahun) berada pada masa perkembangan yang pesat mulai dari kognitif, sosial, motorik, emosi, bahasa dan lain-lain, anak pada usia tersebut sangat aktif dalam mencari dan menemukan berbagai macam hal yang baru disekitarnya, biasanya pada tahapan ini anak usia 4-5 tahun anak lebih menyukai sesuatu yang lebih kongkrit, dimana anak dapat membedakan sesuatunya dengan jelas dan nyata.

2. Melakukan Analisis Pembelajaran, Pengenalan konsep bilangan melalui metode pengajaran yang menarik bagi anak, misalnya melalui media yang dapat menstimulasi anak dalam peningkatan konsep bilangan. Mengingat pentingnya media dapat meningkatkan perkembangan kognitif seorang anak usia dini khususnya peningkatan konsep bilangan, maka penulis berusaha mengenalkan konsep bilangan dengan cara mencoba menerapkan media fauna pantai. Media fauna pantai adalah media yang berasal dari pantai terdiri dari bermacam-macam bentuk yang menarik, yaitu: kerang (kulit kerang mutiara), keong, remis dan lain lain.

3. Menganalisis siswa dan konteks
Dunia anak-anak itu unik penuh kejutan, dinamik, serba ingin tahu, selalu mengeksplorasi, dunia bermain dan belajar, selalu berkembang seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak itu sendiri, dunia anak-anak penuh denga warna, maka akan banyak suka-duka dalam menghadapi tingkah polah anak-anak. Diusia dua tahun keatas, biasanya sifat egosentris muncul dalam dirinya. Dalam fase ini, anak akan mengalami ego diri yang tidak terbendung, selagi ia belum bisa melihat dari sudut pandang orang lain. 
Perkembangan anak usia 4-5 tahun. Anak usia 4-5 tahun termasuk dalam tahapan pra-operasional. Dalam periode perkembangan praoperasional ini, anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif, Dalam periode ini anak juga diajarkan meniru perilaku gurunya. Gurunya dapat mengajarkan perubahan-perubahan bentuk dengan mengenalkan berbagai macam bentuk benda, menggunakan banyak media untuk mengenalkan anak hal-hal baru
Anak usia 4-5 tahun berada pada masa perkembangan yang pesat mulai dari kognitif, sosial, motorik, emosi, bahasa dan lain-lain, anak pada usia tersebut sangat aktif dalam mencari dan menemukan berbagai macam hal yang baru disekitarnya, biasanya pada tahapan ini anak usia 4-5 tahun anak lebih menyukai sesuatu yang lebih kongkrit, dimana anak dapat membedakan sesuatunya dengan jelas dan nyata.
Tahap ini merupakan tahap permulaan bagi anak untuk membangun kemampuannya untuk menyusun pikirannya. Oleh sebab itu, cara berfikir anak pada tahap ini belum stabil dan tidak terorganisasi secara baik. Tahap praoperasional dapat dibagi kedalam tiga tahap yaitu:
1)      Tahap fungsi simbolis
Kemampuan untuk berfikir tentang objek dan peristiwa walaupun objek dan peristiwa tersebut tidak hadir secara fisik (nyata) dihadapan anak.
2)      Tahap berfikir secara egosentris
Cara berfikir tentang benar atau tidak benar, setuju atau tidak setuju berdasarkan sudut pandang sendiri. Oleh sebab itu anak belum dapat meletakan cara pandangannya disudut pandang orang lain.
3)      Tahap berfikir secara intuitif
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu, seperti menggambar atau menyusun balok akan tetapi tidak mengetahui dengan pasti alasan untuk melakukannya.

  1. Merumuskan tujuan  kasus.
Konsep bilangan merupakan pengembangan dari aspek kognitif. Konsep berarti suatu rancangan, berarti banyaknya benda, lambang bilangan. Dalam pengertian lain konsep adalah pemahaman seseorang tentang suatu objek, kejadian, manusia, kualitas, dan hubungan seperti atas atau kapan. Sedangkan bilangan adalah jumlah yang menunjukkan banyaknya benda atau peristiwa saat dihitung. Jadi pemahaman konsep bilangan adalah “persepsi secara tepat tentang lambang bilangan atas konsep kongrit”.
Anak Usia 4-5 tahun berada pada masa perkembangan yang pesat mulai dari kognitif, sosial, motorik, emosi, bahasa dan lain-lain,
(a) Anak sangat aktif dalam mencari dan menemukan berbagai macam hal yang baru disekitarnya,
(b) Anak lebih menyukai sesuatu yang lebih kongkrit, dimana anak dapat membedakan sesuatunya dengan jelas dan nyata
(c)    Anak mampu mengenal konsep  dengan lambang bilangan 1-10, Anak mampu mengenal konsep bilangan sesuai dengan benda, Anak mampu mengenal lambang bilangan 1-10, Anak mampu mengurutkan lambang bilangan 1-10, Anak mampu mengenal konsep banyak dan sedikit

  1. Mengembangkan  instrumen  penilaian
Dalam mengembangan instrumen penilaian
(a)    Observasi
(b)   Mengumpulkan data
(c)    Merumuskan 
(d)   Menilai
(e)    Menyimpulkan

  1. Mengembangkan  strategi  pembelajaran.
Piaget dalam Nixon dan Gould (1999: 12) menguraikan perkembangan kognitif dari anak-anak dalam beberapa langkah yang mencakup tahap sensorimotor, tahap praoperasional, dan tahap konkret operasional. (Yuliani Nurani, 1992: 78) Dalam Konsep ini anak diberikan pembelajaran dengan benda-benda yang nyata agar anak tidak menerawang atau bingung. Maksudnya adalah anak dirangsang untuk berfikir dengan metode pembelajaran yang menggunakan benda nyata sebagai contoh materi-materi pelajaran. Terciptanya pengalaman melalui benda nyata diharapkan anak lebih mengerti maksud dari materi-materi yang disampaikan guru.
  
  1. Mengembangkan  materi  pembelajaran
media fauna pantai dapat meningkatkan beberapa asfek perkembangan yaitu: Moral Nilai Agama (membedakan ciptaan Tuhan yang ada di pantai), Bahasa (menyebutkan macam-macam fauna pantai), Sosial Emosional (sabar dan terbiasa antri maju ke depan dalam kegiatan pembelajaran fauna pantai), Fisik (melambungkan dan menangkap kantong fauna pantai) dan tentunya dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak, khususnya yang menjadi fokus peneliti melalui mediafauna pantai anak-anak dikenalkan pada konsep bilangan dengan benda, anak dapat mengenal angka (lambang bilangan) yang tertera di kotak sesuai dengan jumlah kerang (fauna pantai) yang berada dalam kotak.
Anak-anak dikatakan memiliki konsep bilangan bilamana mereka mengerti sebuah bilangan. Pemahaman konsep bilangan harus dilakukan dengan kegiatan yang menyenangkan, pendidik menyiapkan benda kongkrit yang  beraneka macam bentuk dan menarik, sehingga kegiatan pembelajaran berhitung anak tidak merasa bosan. Tahapan-tahapan konsep matematika seperti pemahaman konsep, tahapan transisi/peralihan, dan tahapan  bilangan harus dilakukan terlebih dahulu.

  1. Merancang dan Mengembangkan Evaluasi Formatif.
Dilakukan melalui kegiatan
(a) Anak diberi kesempatan untuk mengenal dan menggunakan media pembelajaran yang menarik berbagai macam bentuk aneka fauna pantai
(b)   Dilakukan melalui kegiatan pengalaman langsung
(c) Pembelajaran motorik halus perabaan kasar-halus, membandingkan besar-kecil,   pengelompokkan sesuai bentuk, ukuran, dan warna.
Langkah-langkahnya dalam merancang Peningkatan kognitif, pengenalan konsep bilangan adalah:
(a)    Memilih tema  Rekreasi
(b)   Penjabaran  sub tema pantai
(c)    Perencanaan  Mingguan (RPPM) , Perencanaan Harian (RPPH)
(d)   Pelaksanaan
(e)    Penilaian


Kegiatan Peningkatan Pengenalan Konsep Bilangan

Materi
Materi Peningkatan Pengenalan Konsep Bilangan
Melalui Media Fauna Pantai pantai
Indikator
1.      Anak mampu mengenal konsep  dengan lambang bilangan 1-10
2.      Anak mampu mengenal konsep bilangan sesuai dengan benda
3.      Anak mampu mengenal lambang bilangan 1-10
4.      Anak mampu mengurutkan lambang bilangan 1-10
5.      Anak mampu mengenal konsep banyak dan sedikit
Waktu
3 x pertemuan (@1 jam)
Pertemuan

Kegiatan
Media
Metode Penilaian
Alat Pengumpul Data
1
Mengenal konsep dengan lambang  bilangan 1-10 melalui media fauna pantai
Fauna pantai
kotak
·         Observasi
·         Tanya Jawab
·         Lembar Observasi

·         Lembar catatan lapangan

·         Kamera dan laptop untuk dokumentasi

2
Mengenal konsep bilangan  sesuai dengan benda dan Mengenal lambang bilangan 1-10 melalui media fauna pantai
Fauna pantai
kotak
lambang
bilangan
·         Observasi
·         Tanya Jawab
3
Mengenal urutan  lambang bilangan 1-10 dan konsep banyak dan sedikit melalui media fauna pantai
Fauna pantai
lambang bilangan
1-10

·         Observasi
·         Tanya Jawab

Peningkatan pengenalan konsep bilangan melalui media fauna pantai dilakukan dengan cara memasukan  media fauna pantai: kerang/keong ke dalam kotak yang telah disiapkan sesuai dengan angka yang tertera dalam kotak yang disebutkan oleh guru. Dengan demikian anak dapat mengenal konsep bilangan dengan benda sekaligus mengenal lambang bilangannya



  1. Merevisi pembelajaran
Anak berfikir benda konkret dalam konsep ini anak diberikan pembelajaran dengan benda-benda nyata agar anak tidak bingung. Maksudnya adalah agar anak dirangsang untuk berfikir dengan metode pembelajaran yang menggunakan benda nyata sebagai contoh materi-materi pelajaran. Terciptanya pengalaman melalui benda nyata diharapkan anak lebih mengerti maksud dari materi-materi yang diajarkan oleh guru.
media pendidikan merupakan alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, agar terciptanya pengalaman melalui benda nyata diharapkan anak lebih mengerti maksud dari materi-materi yang diajarkan oleh guru. Melalui media fauna pantai perkembangan kognitif khususnya peningkatan pengenalan konsep bilangan dapat berkembang secara merata pada peserta didik di TK Lab School FIP UMJ

10.  Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif
Mengenal konsep bilangan meliputi:
(a) Membilang,
(b) Korespondensi satu-satu
(c) pemahaman bilangan.
Dalam pemahaman konsep bilangan, anak juga harus melalui beberapa tahap pengenalan, mulai dari tingkat melafalkan bilangan, memasangkan bilangan dengan bendanya kemudian memasuki tahap akhir yaitu pemaham bilangan dengan membuat  hubungan antara hitungan dan jumlahKeberhasilan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah diharapkan adanya peningkatan kognitif khususnya peningkatan pengenalan konsep bilangan pada peserta didik di TK Lab School FIP UMJ, yang meliputi:
a) Anak mampu mengenal konsep  dengan lambang bilangan 1-10
b) Anak mampu mengenal konsep bilangan sesuai dengan benda
c) Anak mampu mengenal lambang bilangan 1-10
d) Anak mampu mengurutkan lambang bilangan 1-10
e) Anak mampu mengenal konsep banyak dan sedikit

Penggunaan model pembelajaran dick and carey dalam pengembangan suatu mata pelajaran dimaksudkan yakni agar:
1. Pada awal proses pembelajaran anak didik atau siswa dapat mengetahui dan mampu melakukan          hal–hal yang berkaitan dengan materi pada akhir pembelajaran,
2. Adanya pertautan antara tiap komponen khususnya strategi pembelajaran dan hasil pembelajaran       yang dikehendaki
 3. Menerangkan langkah–langkah yang perlu dilakukan dalam melakukan perencanaan desain                 pembelajaran.

C.    Kelebihan Dan Kelemaham Model Dick Dan Carrey
1.      Kelebihan Model Dick dan Carrey
a)    Setiap langkah jelas, sehingga dapat diikuti 
b)    Teratur, efektif dan Efisien dalam pelaksanaa 
c)   Merupakan model atau perencanaan pembelajaran yang terperinci, sehingga mudah diikuti 
d)     Adanya revisi pada analisis instruksional, dimana hal tersebut merupakan hal yang sangat baik, karena apabila terjadi kesalahan maka segera dapat dilakukan perubahan pada analisis instruksional tersebut, sebelum kesalahan didalamnya ikut mempengaruhi kesalahan pada komponen setelahnya 
e)  Model Dick & Carey sangat lengkap komponennya, hampir mencakup semua yang dibutuhkan dalam suatu perencanaan pembelajaran. 

2.      Kekurangan Model Dick dan Carrey 
a)     Kaku, karena setiap langkah telah di tentukan
b)   Tidak semua prosedur pelaksanaan KBM dapat di kembangkan sesuai dengan langkah-langkah tersebut 
c)     Tidak cocok diterapkan dalam pembelajaran skala besar 
d)   Uji coba tidak diuraikan secara jelas kapan harus dilakukan dan kegiatan revisi baru dilaksanakan      setelah diadakan tes formatif 
e)  Pada tahap-tahap pengembangan tes hasil belajar, strategi pembelajaran maupun pada pengembangan dan penilaian bahan pembelajaran tidak nampak secara jelas ada tidaknya penilaian     pakar (validasi). 
f)   Terlalu banyak prosedur yang harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajaran

 KESIMPULAN: 
Desain pembelajara merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik dalam merancang kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik, kegiatan ini dari perancangan sampai kegiatan evaluasi terhadap semua sistem pengajaran dan hasil belajar yang dilaksanakan. Komponen-komponen utama dalam penyusunan desaign pembelajaran: 
1.    Desain pembelajaran selalu dimulai dari perumusan tujuan pembelajaran, apa yang   diharapkan  dari proses pembelajaran 
2. Penulisan tujuan pembelajaran berisi komponen-komponen tentang kompetensi yang apa yang akan dicapai oleh peserta didik. 
3. Setelah ditentukan kompetensi apa yang diharapkan dari peserta didik, maka ditentukan metode apa yang akan digunakan, media pembelajaran apa yang akan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran. 
4.  Setelah semua kegiatan proses pengajaran dilaksanakan maka dilaksanakan proses evaluasi terhadap semua sistem pengajaran dan hasil belajar siswa. 

SARAN: 
     Dalam pelaksanaan evaluasi sistem pengajaran akan lebih valid jika dilakukan pihak independen, sehingga data yang di analisa akan lebih bersifat objektif.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar