Iklan

22 Juli 2017

Menanam Kebencian

 

Katanya, "Benci" itu berarti "Benar-benar Cinta". Jika iya, antara benci dan cinta tipis sekali batasnya. Kadang, karena begitu besar cinta hingga menjadi fanatik buta. Akhirnya, berubah menjadi cinta buta. Jika cinta sudah buta, maka mudah saja dipengaruhi disusupi apa saja termasuk kebencian. Lalu, dimulai dari cinta hingga membenci apa saja yang menghalangi cinta.
Virus radikalisme juga diawali dengan cinta buta, lalu benci hingga dendam kesumat. Generasi muda muslim yang awam disuguhi ajaran, artikel, atau video tentang kondisi umat Islam di belahan dunia lain yang sedang "didzalimi" oleh Barat dan musuh Islam. Lambat laun, tertanam virus kebencian dan juga fanatisme. Jika telah terpengaruh, maka mudah digerakkan untuk segala kepentingan.
Selanjutnya, mereka disuguhi info tentang minimnya kepedulian umat Islam terhadap saudaranya sesama muslim, termasuk kepedulian pemerintah yang ditampilkan abai terhadap kondisi umat yang memprihantinkan. Lagi, tahap ini juga menanamkan kebencian. Targetnya satu, benci terhadap pihak-pihak yang tidak sepaham termasuk pemerintah. Kebencian ini karena tidak puas dengan keadaan yang ada, baik di bidang agama, sosial, ekonomi, politik, dan semuanya.
Jika tahapan itu telah tertanam di sanubari, sambil disuguhi beberapa dogma, kemudian ditawarkan sebuah solusi yang radikal: bongkar! Yah, sistem harus diubah, pemerintahan sudah "thaghut", tidak memihak umat, dan ini semua karena asas atau dasarnya tidak agamis (baca: Pancasila). Begitulah kura-kura.
Jadi, satu-satunya solusi adalah khilafah. Apa itu khilafah? Sistem yang mampu menyatukan seluruh umat Islam dalam satu "bendera tauhid". Kesatuan ini sudah dijanjikan dan pasti akan datang. Keadaan carut-marut ini hanya bisa diatasi dengan khilafah. Itu artinya, pemerintahan yang hakiki pada saat ini masih "zero", "fatrah" alias kosong. Semua masih dalam proses menyongsong datangnya era kejayaan baru sehingga perlu diperjuangkan, bila perlu dengan darah dan nyawa.
Itulah ilusi, dan itulah proses menjadi radikal. Berbahayakah? Jelas bahaya. Jika ajaran ini diterima oleh mereka yang "nekat" dan kebelet ketemu bidadari, maka jalan pintas yang ditempuh adalah tindakan terorisme. Jika ajaran ini dibiarkan, maka semua orang atau kelompok yang berseberangan akan dianggap lawan yang harus disingkirkan.
Kalau sudah demikian, pada akhirnya, agama Islam lah yang ternoda. Islam yang ajarannya menebar kedamaian, menghargai perbedaan, membangun persatuan dan kesatuan untuk kejayaan bersama menjadi ajaran yang sempit dan penuh kebencian di bumi datar.
"Lebih mudah menghancurkan gunung menjadi debu daripada menanam cinta pada hati yang penuh kebencian" (S. Ali bin Abu Thalib kr.)
Selamat berakhir pekan.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar