Iklan

9 Agustus 2017

FDS: Full Day Spook

 

FDS itu bukan "Full Day School" atau sekolah sehari penuh, tapi "Full Day Spook" alias seharian terus dihantui. Gimana siswa gak stres, kalo mulai pagi sampai sore harus di sekolah, terus dipaksa berpikir, menjawab soal-soal, wajib hafalan, belum lagi kalo gurunya "killer", ancur tuh kepala barbie!
Saya beri perbandingan:
Kuli bangunan, mulai kerja tepat jam 8 pagi. Jam 4 sore mereka sudah pulang. Total, hanya 8 jam kerja. Siswa SD, masuk jam 7 pagi, pulang jam 4 sore, total 9 jam! Apalagi, jika jalanan macet, jarak tempuh rumah-sekolah jauh, pasti jam 6 pagi sudah berangkat, sebab kalau terlambat 10 menit saja, siswa dihukum. Pulang dari sekolah jam 4 sore, tiba di rumah jam 5 sore. Takbir!!!
Full Day School itu maunya sekolah cuma 5 hari, Sabtu libur. Sehingga, jam belajar hari Sabtu diganti di hari Senin sampai Jumat. Ini namanya "rapelan", "lembur", istilah fiqihnya "Jamak Taqdim". Kalau tujuannya cuma ingin 5 hari di sekolah, ya terapkan saja kebijakan sekolah 5 hari (Senin-Jumat). Bila perlu, khusus hari Jumat, jam 10 sudah pulang untuk persiapan ibadah shalat Jumat, kan enak? Dengan catatan, jam belajar tetap, mulai jam 07:00 sd 13:00.
Terlalu lama di sekolah, malah kurang bagus. Uang jajan bertambah, beban jadi berat, anak-anak juga stress, apalagi kalau metode ajarnya monoton dan gurunya killer, bisa edan tuh! Tiap hari, anak-anak dikejar waktu, setibanya di sekolah, hanya mengerjakan soal-soal, menghitung angka, menghafal kata. Bawa tas, buku, plus bekal makan-minum yang kalau ditotal beratnya minta ampun, lebih berat dari beban Jomblo, hehe
Pulang sekolah, anak-anak sudah capek puol. Mau ikut Madrasah Diniyah, ya gak bisa. Maka, pengajian di kampung mulai bubar. Lalu, kapan anak bisa berkomunikasi dengan orang tuanya? Padahal, pendidikan paling penting, ya kasih sayang anak dalam keluarga yang itu perlu komunikasi lebih. Sebab, saat itulah sesungguhnya karakter anak dibangun.
Lagi, sekedar perbandingan jam sekolah (dari berbagai sumber):
  • Singapura: SD (07.30-13.00), SMP (07.30-15.00), SMA (07.30-16.00).
  • Korea Selatan: SD (08.00-13.00), SMP (08.00-16.30), SMA (08.00-17.00) + kelas tambahan (17.00-22.00).
  • Jepang: SD (08.30-13.00), SMP (08.30-15.30), SMA (08.30-19.00).
  • China: SD (06.30-15.00), SMP (06.30-17.00), SMA (06.30-19.00) + kelas tambahan (19.00-22.30)
  • Amerika Serikat: SD (08.40-15.15), SMP (07.50-14.50), SMA (08.15-15.15).

Kabarnya, sistem pendidikan paling oke adalah Finlandia. Finlandia mendapatkan predikat sebagai salah satu negara dengan pendidikan terbaik di dunia. Uniknya, siswa sekolah di negara itu hanya berlajar selama 4 hingga 5 jam sehari. Metode pembelajarannya pun didominasi oleh permainan dengan jam istirahat yang juga panjang.
Untuk memasuki SD, siswa diwajibkan berusia tujuh tahun. Negara itu pun tidak memberlakukan Taman Kanak-kanak (TK) dan PAUD. Siklus waktu untuk SD, siswa akan belajar sekitar 30-35 menit dan 15 menit istirahat. Sedangkan untuk SMP, siswa akan belajar 40-45 menit kemudian 15 menit istirahat. Bahkan, siswa SMP dan SMA akan belajar mengikuti sistem layaknya kuliah.
Hmm...bagaimana di Indonesia? Di era teknologi yang kian cepat ini, lha kok sekolah makin lama. Mestinya, cari sistem yang efektif efisien. Sekolah tidak kelamaan, tapi hasil berkualitas. Ituuh!
Meminjam kalimat sakti Bob Sadino, "Kamu itu kerja apa dikerjain?". Terkait FDS ini, "Nak, kamu itu belajar apa dihajar sih?"

Tidak ada komentar:
Tulis komentar