Tampilkan postingan dengan label Bahasa - Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa - Sastra. Tampilkan semua postingan

10 November 2022

Kisah Siti Nurbaya

 

Kisah Siti Nurbaya diabadikan dalam tulisan karya Marah Rusli. Kisah ini dibukukan hingga dapat dibaca oleh lintas generasi. Kisah yang berawal dari Siti Nurbaya, Syamsul Bahri dan Datuak Maringgih. 


Siti Nurbaya merupakan anak seorang bangsawan kaya raya yaitu Sultan Mahmud Syah-Baginda Sulaiman. Siti Nurbaya dikenal cerdas serta memiliki prinsip hidup yang kuat.  Pemikiran yang berbeda dari para sepupunya tentang pernikahan dan berbagai adat yang kental akan patriarki membuat daya tarik tersendiri dari Siti Nurbaya. 


Pesona ini juga membuat Datuk Maringgih seorang pria tua kaya raya yang memiliki banyak istri terpesona dan ingin menjadikan siti nurbaya sebagai istri mudanya. 


Namun, nasib baik memihak Siti Nurbaya. Dia telah memiliki tambatan hati, yaitu Syamsul Bahri yang merupakan tetangganya sendiri. Mereka berdua saling jatuh cinta dan memadu kasih.  


Kisah mereka berjalan lancar, hingga kabar bahwa Syamsul bahri diterima untuk melanjutkan pedidikan dokter di Batavia (Jakarta) membuat kedua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut harus menjalani hubungan jarak jauh.  


Tangis tak terelakan oleh Siti Nurbaya ketika melepas Syamsul Bahri di Teluk Bayur, Padang, Sumatera Barat.   Datuk Maringgih yang sejak pertemuan pertama sudah tertarik dan berambisi menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya melakukan banyak cara, mulai dari memintanya secara baik-baik hingga cara licik.  Dengan dorongan rasa iri dengki pada bisnis Sulaiman, ayah dari Siti Nurbaya, Datuk Maringgih melakukan trik bisnis yang membuat Sulaiman jatuh bangkrut.  


Datuk Maringgih kemudian menawarkan pinjaman kepada ayah Siti Nurbaya dengan pinjaman berbunga. Sulaiman yang terdesak keadaan pun akhirnya menyetujui syarat itu.  Namun Datuk Maringgih punya siasat licik. Saatnya tiba jadwal penagihan utang, Sulaiman tidak dapat melunasi uang-uang yang ia pinjam hingga akhirnya Siti Nurbaya menawarkan diri sebagai istri Datuk Maringgih dengan syarat bahwa utang ayahnya harus sudah dianggap lunas. Datuak Maringgih menyetujuinya.  Inilah permulaan kesengsaraan Siti Nurbaya dimulai. Datuk Maringgih yang memiliki banyak sitri dan berwatak kasar.  


Tidak tahan dengan hal tersebut, Siti Nurbaya sempat melarikan diri ke Batavia menemui Syamsul Bahri. Nahas, Sit Nurbaya tidak dapat berlama-lama di Batavia karena mendapat kabar ayahnya meninggal.  Dia akhirnya pulang ke Padang. Melihat Siti Nurbaya yang kabur, Datuk Maringgih membenci istri mudanya tersebut sehingga munculah ide untuk memusnahkan Siti Nurbaya. 


Dia menyuruh anak buahnya untuk menawarkan lemang yang telah diberi racun kepada Siti Nurbaya yang hingga meninggal.  Mendengar kabar sang kekasih hati meninggal, Syamsul Bahri berniat untuk balas dendam. Selang 10 tahun kemudian, Syamsul Bahri menyamar menjadi tentara Belanda.  


Saat ekspedisi, Datuk  Meringgih memimpin suatu revolusi melawan pemerintah Hindia Belanda sebagai protes atas kenaikan pajak.  Letnan Mas nama samaran dari Syamsul Bahri ikut dalam perang tersebut sebagai bawahan pemerintah Belanda akhirnya menemukan Datuk Maringgih dan terjadilah pertengkaran dan perlawanan hebat dari keduanya hingga akhirnya Datuk Maringgih tewas dalam pertemuran jarak dekat tersebut dan Syamsul Bahri terluka Parah.  


Diakhir cerita, dia menemui ayahnya untuk meminta maaf yang akhirnya ia meninggal menyusul Datuak Maringgih serta Siti Nurbaya.  Cerita Rakyat Siti Nurbaya Kisah ini memang meninggalkan pesan moral serta kesedihan yang abadi. Kisah kasih yang terhalang jarak, balas dendam dan budaya membuat kisah ini menjadin kisah fenomenal hingga zaman yang sudah modern saat ini.  


Namun satu hal yang pasti, Siti Nurbaya cukup menjadi kisah legenda masa lalu yang hidup di masa lalu dan tidak diinginkan hidup di zaman sekarang. Cerita Rakyat di Padang Sumatera Barat ini bisa dijadikan inspirasi dan dikenang ketika berkunjung ke Kota Padang. 


Sumber: sumbar.inews.id



9 November 2022

Cerita Rakyat Malin Kundang


Dahulu kala di Perkampungan Nelayan Pantai Air Manis, hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah dan anak laki-lakinya, Malin Kundang. Mande Rubayah sangat menyayangi dan memanjakan Malin. Malin pun tumbuh jadi anak yang rajin dan penurut.



Ketika Mande Rubayah mulai menua, ia hanya bekerja sebagai penjual kue untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu hari, Malin jatuh sakit. Tubuh Malin mendadak panas sekali. Mande Rubayah pun berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Malin.


Berkat usaha keras ibunya sampai mendatangkan tabib, nyawa Malin berhasil diselamatkan. Setelah sembuh, ibunya semakin sayang kepada Malin. Begitu pula dengan Malin, ia yang amat menyayangi ibunya.


Kapal besar setahun sekali merapat ke Pantai Air Manis. Ketika sudah dewasa, Malin meminta izin ibunya untuk merantau dengan kapal itu. Awalnya ibunya ragu. Tapi dengan berat hati, akhirnya ia mengizinkan anaknya pergi.



Malin pun pergi berbekal tujuh bungkus nasi yang dibalut daun pisang dari ibunya. Malin juga menenangkan ibunya bahwa tidak akan terjadi apa-apa kepada dirinya di perantauan.


Setelah kepergian Malin, hari-hari terasa berjalan lambat bagi Mande Rubayah. Ia selalu memandang ke laut dan mendoakan anaknya agar selamat dalam pelayarannya.




Mande Rubayah selalu menanyakan kabar Malin setiap ada kapal besar yang merapat. Namun, jawaban dari nahkoda dan awak kapal tidak ada yang memuaskannya. Malin pun tidak pernah menitipkan barang atau pesan apa pun.



Doa Mande Rubayah yang tak putus-putusnya itu, terus dilakukan sampai ia semakin menua. Tubuhnya mulai dimakan usia dan jalannya mulai terbungkuk-bungkuk.


"Ibu sudah tua, Malin. Kapan kau pulang?" rintih Mande Rubayah tiap malam. Namun, Malin tak juga datang mengunjungi ibunya. Nahkoda kapal yang membawa Malin pun, membawa kabar kalau Malin sudah menikah dengan gadis bangsawan.



Keyakinan Mande Rubayah diaminkan dengan kedatangan kapal megah. Penduduk perkampungan menyambut gembira kapal itu. Mereka berkumpul di sekitar kapal itu karena mengira itu milik sultan atau pangeran.


Mande Rubayah pun turut berdesakan di dekat kapal. Ia melihat sepasang muda-mudi di anjungan kapal. Pasangan itu mengenakan baju berkilau dan tersenyum. Ibu Malin itu, mengetahui bahwa lelaki muda itu adalah anaknya.



Ibu Malin mendahului sesepuh kampung untuk menghampiri Malin. Ia langsung memeluk erat-erat seakan takut kehilangan anaknya lagi. Isak tangis Mande Rubayah pun pecah.


"Malin, anakku. Kau benar anakku, kan?" kata Mande. "Mengapa begitu lamanya kau tidak memberi kabar?" katanya lagi. Malin terkejut disambut oleh perempuan tua dan berpakaian compang-camping. Ia tak percaya bahwa perempuan itu ibunya.



Malin mengingat ibunya adalah perempuan tegar dan kuat menggendongnya ke mana saja sehingga ia tak percaya dengan orang yang memeluknya. Malin tidak sempat berpikir karena istrinya langsung mengatakan hal yang merendahkan.


"Wanita jelek inikah ibumu? Mengapa dahulu kau bohong padaku?" ucapnya sinis. "Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?" tanyanya lagi.


Mendengar perkataan istrinya, Malin pun mendorong Mande Rubayah hingga terguling ke pasir. Ibu Malin tidak percaya akan perlakuan anaknya. Ia jatuh dan berkata, "Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak?"



Malin tidak peduli perkataan ibunya. Ia tidak mau mengakui ibunya karena malu kepada istrinya. Mande bersujud di kaki Malin dan hendak memeluk kakinya. Namun, Malin malah menendangnya.


"Hai, perempuan gila! Aku bukan anakmu! lbuku tidak seperti engkau, melarat dan kotor!" kata Malin kepada ibunya. Mande Rubayah pun pingsan. Ketika ia tersadar, pantai sudah sepi dan kapal Malin sudah pergi menjauh.



Hati Mande Rubayah perih seakan ditusuk-tusuk. Ia tak menyangka anak laki-laki kesayangannya, tega kepada ibunya sendiri. Ia menengadahkan tangan ke langit dan berdoa dengan hati pilu.


“Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi, kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, ya Tuhan!” ucapnya pilu sambil menangis.


Tiba-tiba, cuaca di tengah laut yang cerah berubah menjadi gelap. Hujan lebat turun. Badai dan petir menghantam kapal Malin Kundang.



Badai yang datang tiba-tiba itu, menghancurkan kapal Malin Kundang hingga berkeping-keping. Puing kapalnya terbawa sampai ke pantai. Pagi harinya, terlihat puing kapal Malin Kundang yang terdampar telah menjadi batu.


Tubuh Malin Kundang pun turut menjadi batu. Ia dikutuk oleh ibunya karena durhaka. Di sela-sela batu, ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri berenang. Ikan itu berasal dari tubuh istri Malin yang mencari suaminya.


Itulah cerita Malin Kundang yang durhaka terhadap ibunya. Pesan yang bisa disampaikan ke anak dari kisah ini adalah sayangilah orangtua ketika gembira atau sedih. Jangan lupakan jasa mereka yang telah menyayangimu!


Sumber: idntimes


23 September 2022

Puisi Maulid Nabi

 

Bagaimana Aku Menirumu, O Kekasihku

oleh: KH Mustofa Bisri

Bagaimana aku menirumu, o kekasihku
Engkau mentari
Aku bumi malam hari
Bila tak kau sinari
Dari mana cahaya akan kucari?

Bagaimana aku menirumu, o kekasihku
Engkau purnama
Yang menebarkan senyum kemana-mana
Aku pekat malam tanpa rona

Bagaimana aku menirumu, o kekasihku
Engkau mata air
Aku di muara
Di mana kucari jernihmu

Bagaimana aku menirumu, o kekasihku
Engkau samudra
Aku di pantai
Hanya termangu
Engkau merdeka
Aku terbelenggu
Engkau ilmu
Aku kebodohan
Engkau bijaksana
Aku semena-mena

Diammu tafakkur
Diamku mendengkur
Bicaramu pencerahan
Bicaraku ocehan
Engkau memberi
Aku meminta
Engkau mengajak
Aku memaksa
Engkau kaya dari dalam
Aku miskin luar-dalam
Miskin bagimu adalah pilihan
Miskin bagiku adalah keterpaksaan
Bagaimana aku menirumu, o kekasihku

8 November 2019

Ya Habibi, Ya Rasul Allah

Image result for muhammad saw
Ya Habibi...Ya Rasul Allah

 يا حروفا لا تتوقفي 
امدحي لا تكتفي 
تعطري بذكر الامين الوفي 
يا كلمات بنوره اعترفي 
ويا قصائد باسمه اهتفي

Duhai Huruf janganlah berhenti
Jangan puas, teruslah memuji
Sebutlah semerbak al-Amin yg penuhi janji
Bersoraklah dengan namanya, duhai Puisi

أعيش سعيدة
بحبك فرحانة
أعانق السماء 
عشقا و لهفة
أتمنى قربك جالسة
أملي فيك شفاعة
وأحظى بها آخرة

Hidupku sudah bahagia
Mencintaimu gembira rasanya
Kupeluk langit
Asyik dan rindu
Kuingin duduk dekatmu
Kuingin lama bahagia demi syafaat
Kan kuraih kelak di akhirat

 محمد خير الخلق 
 نوره أبهى من البرق
ومن مثل محمد 
 ومن مثله في الخلق
انار بروج السما 
 وأنار الارض بالصدق

Muhammad itu makhluk terbaik
Cahayanya lebih bersinar dari kilat
Siapa yang menyamai Muhammad
Siapa lagi makhluk semisal Muhammad
Dia menerangi bintang di langit
Di bumi ia tanam kejujuran

أقبلت ليلة زانت بالقمر 
ليلة مولد خير البشر 
جمعتنا بالمحبة والسهر 
أحباب بحب أحمد تفتخر

Malam tiba berhias rembulan
Itulah malam lahirnya sebaik-baik manusia
Menyatulah cinta semalaman
Oh Ahmad, semua kekasih memadu kasih.

الصلاة والسلام عليك يانبي
يامن شرف كل العرب..
طوبى لارض مكة ويثرب
داستها اقدام الحبيب..
وجاد الله عليها باجل موكب

Shalawat dan salam, Duhai Nabi
Banggalah Bangsa Arab
Beruntunglah Mekah Madinah
Jejak tapak Nabi ada di sana
Allah muliakan pawai termegah

اللهم صَل و سلم و بارك على محمد
 و اله الطيبين الطاهرين عدد خلقك
 و رضاء نفسك و زينة عرشك
و مداد كلماتك ،
 صلاة تجيرنا بها من النار 
و تشملنا بها شفاعة رسولك محمد الكريم.

Haturkan shalawat, salam dan berkah atas Muhammad dan keluarganya nan suci bersih
Sebanyak ciptaan-Mu, hingga Kau ridha, seberat arasy-Mu, sejumlah kalimat-Mu
Shalawat yang selamatkan kami dari api neraka berkat syafaat kanjeng Nabi Muhammad

ان السلام علينا حق
على محمد خير الخلق
في الصلاة عليه عشق
و في اللسان أحلى ذوق
سلام عليك يا رسول الله
يوم ولدت يا ذا الجاه
حبيبنا إمام المرسلين 
حبيب كل العالمين.

Salam untuk kami adalah wajib
Bagi Muhammad, makhluk terbaik
Dalam shalawat, ada keasyikan
Dalam lisan, ada manisnya rasa
Salam untukmu, Ya Rasul Allah
Di hari kau lahir, Wahai Paduka
Kekasih kami, Pimpinan para nabi
Dialah kasih bagi semesta

يا أمة محمد يا أمة الإسلام
أنيروا الشموع و اقرؤوا السلام 
على رسول الله أتى بالامل
و أنار قلوبا عمها الظلام.

Wahai umat Muhammad, umat Islam
Nyalakan lilin dan sampaikan salam
Untuk Rasul Allah, pembawa harapan
Menyinari hati kita dan butanya kegelapan

نور انت بالارض السماء 
يا محمد إمام الأنبياء 
ولدت فعم الضياء 
نشرت الحق بالارجاء 
طوبى لمن له بك اقتداء 
شفاعتك وجنة غناء 
يا منبع الطهر والصفاء 
لك منا المدح والثناء

Kau cahaya bumi terangi langit
Duhai Muhammad, Imam para nabi.
Berkat lahirmu, sinar menebar
Kebenaran tersebar
Beruntunglah pengikutmu
Syafaatmu tuk meraih surga
Duhai sumber yang suci nan jernih
Bagimu puja dan puji

بوركت كل الأقلام 
التي نورت المقام 
بمدح خير الانام 
ومسك الختام 
صلاة وسلام 
على الهادي الإمام
محمد والآل الكرام 
دام لكم التألق والرقي وبوركتم.

Diberkatilah setiap pena
Yang menulis kemuliaan
Karena memuji sebaik insan
Aromanya harum semerbak
Shalawat dan Salam
Bagi Pembawa Petunjuk dan Pimpinan,
Muhammad dan keluarga mulia
Diberkati dengan cahaya selamanya

أضأت يا خير البرية الكون باﻷنوار
فانمحى الظلام من ظلمة اﻷشرار
ومشى العدل على قدميه بإصرار 
والدنيا رقصت طربا لمولد اﻷخيار.

Duhai manusia terbaik, kau sinari alam dengan cahaya
Lalu, lenyaplah gelapnya kedzaliman
Keadilan tegak kokoh di bawah kakinya
Dunia pun menari riang atas lahirnya manusia pilihan.

Selamat Hari Lahir Nabi Muhammad
Dariku yang mencintaimu,

Malang, 8 November 2019 | 12 Rabiul Awwal 1141 H

25 Oktober 2019

Pawang

Image result for gladiator vs lion
Hebatnya Pawang
Macam pun masuk kandang
Kini, waktunya Kadal
Basmi hingga terpental

Tukang Kayu itu, Dulu juga diragu
Dikira Badut yang Mudah Dirayu
Seiring Waktu, Satu Demi Satu
Lawannya Tertunduk, Malu

Ratu Laut juga begitu
Dikira norak dan belagu
Akhirnya semua tahu
Dia Bukan Teri, Tapi Hiu

Kini Abang Ojek, Juga Dibully
Semua Mengira, Doi Masih Bayi
Teruslah Melangkah, Jangan Nyerah
Biarkan Sampah, Sumpah Serapah

Diberi Jenderal, Terima Aja
Ada Hikmah, Yakini Aja
Hidup Ini Indah, Jangan Susah
Yuk Melangkah, Jangan Kalah

15 Desember 2012

Prinsip Prioritas dalam PBA


Dalam teori pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip prioritas yang perlu dimengerti guru dalam penyampaian materi pengajaran. Yang dimaksud dengan prinsip prioritas adalah mengajarkann yang terpenting sebelum yang penting. Meminjam istilah fiqih, “Taqdimul Aham ‘alal muhim”. Prinsip ini, sejatinya bertujuan agar proses penyampaian materi sesuai dengan perkembangan bahasa yang dialami peserta didik sehingga dengan prinsip ini diharapkan semua proses pembelajaran berjalan natural.

Ada 3 prinsip utama sebagai rincian dari prinsip prioritas tersebut. Pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.

Pertama, mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis.

Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia. Bahwa, setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.
Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga,yaitu:

  • Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam, baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati lalu secara lisan secara kolektif.
  • Guru bahasa asing (Arab) kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya. Misalnya: ه – ح, ء – ع س– ش, ز – ذ , dan seterusnya.
  • Selanjutnya, materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia) peserta didik, seperti: خ, ذ, ث, ص, ض dan seterusnya.
Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkah-langkah berikut.
  • Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing, kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang. Setelah itu, dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Misalnya : بى, ب, با, بو dan sebagainya.
  • Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau kata-kata untuk menirukan intonasi, cara berhenti, maupun panjang pendeknya.
Kedua, mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa

Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat (jumlah), sebaiknya guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar.

Oleh karena itu, seyogyanya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang. Jika kalimatnya panjang, hendaknya di penggal – penggal.

Contoh:

اشتريت سيارة جديدة في مالانج

Kemudian dipenggal – penggal menjadi: اشتريت – جديدة – في – سيارة - مالانج

Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari

Ungkapan sehari-sehari yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia, perlu dicarikan padanannya dalam bahasa Arab. Penggunaan ungkapan harian ini sangat penting agar bahasa dapat segera digunakan dan dipraktikkan secara kontekstual.

Seperti ucapan salam, السلام عليكم atau sapaan akrab seperti: كيف حالك؟, atau saat bertanya tentang jam, أي الساعة الآن, dan sebagainya.

Selain itu ungkapan (ta’bir) harian, dalam memilih kosakata, guru harus tepat memilih kosakata yang populer dalam bahasa Arab, bukan kosakata yang gharib atau jarang digunakan. Termasuk juga dalam memilih struktur kalimat dalam nahwu, hendaknya memilih susunan kaidah nahwu yang sering digunakan. Bukankah sangat jarang orang Arab sendiri menggunakan “maf’ul ma’ah, isytighal, tana’zu’ dan sebagainya”. Paling sering orang Arab menggunakan jumlah ismiyah atau fi’liyah sederhana dalam ungkapan sehari-hari, bahkan juga dalam bahasa tulis.