Iklan

15 Desember 2012

Prinsip Prioritas dalam PBA

 


Dalam teori pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip prioritas yang perlu dimengerti guru dalam penyampaian materi pengajaran. Yang dimaksud dengan prinsip prioritas adalah mengajarkann yang terpenting sebelum yang penting. Meminjam istilah fiqih, “Taqdimul Aham ‘alal muhim”. Prinsip ini, sejatinya bertujuan agar proses penyampaian materi sesuai dengan perkembangan bahasa yang dialami peserta didik sehingga dengan prinsip ini diharapkan semua proses pembelajaran berjalan natural.

Ada 3 prinsip utama sebagai rincian dari prinsip prioritas tersebut. Pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.

Pertama, mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis.

Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia. Bahwa, setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.
Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga,yaitu:

  • Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam, baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati lalu secara lisan secara kolektif.
  • Guru bahasa asing (Arab) kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya. Misalnya: ه – ح, ء – ع س– ش, ز – ذ , dan seterusnya.
  • Selanjutnya, materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia) peserta didik, seperti: خ, ذ, ث, ص, ض dan seterusnya.
Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkah-langkah berikut.
  • Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing, kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang. Setelah itu, dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Misalnya : بى, ب, با, بو dan sebagainya.
  • Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau kata-kata untuk menirukan intonasi, cara berhenti, maupun panjang pendeknya.
Kedua, mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa

Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat (jumlah), sebaiknya guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar.

Oleh karena itu, seyogyanya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang. Jika kalimatnya panjang, hendaknya di penggal – penggal.

Contoh:

اشتريت سيارة جديدة في مالانج

Kemudian dipenggal – penggal menjadi: اشتريت – جديدة – في – سيارة - مالانج

Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari

Ungkapan sehari-sehari yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia, perlu dicarikan padanannya dalam bahasa Arab. Penggunaan ungkapan harian ini sangat penting agar bahasa dapat segera digunakan dan dipraktikkan secara kontekstual.

Seperti ucapan salam, السلام عليكم atau sapaan akrab seperti: كيف حالك؟, atau saat bertanya tentang jam, أي الساعة الآن, dan sebagainya.

Selain itu ungkapan (ta’bir) harian, dalam memilih kosakata, guru harus tepat memilih kosakata yang populer dalam bahasa Arab, bukan kosakata yang gharib atau jarang digunakan. Termasuk juga dalam memilih struktur kalimat dalam nahwu, hendaknya memilih susunan kaidah nahwu yang sering digunakan. Bukankah sangat jarang orang Arab sendiri menggunakan “maf’ul ma’ah, isytighal, tana’zu’ dan sebagainya”. Paling sering orang Arab menggunakan jumlah ismiyah atau fi’liyah sederhana dalam ungkapan sehari-hari, bahkan juga dalam bahasa tulis.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar