Iklan

8 Februari 2011

Negara Arab, Ada Apa?

 

Referendum di Sudan sudah usai. Yaman pun tampaknya akan menyusul seiring perang saudara berkepanjangan. Lalu, Tunisia habis melakukan revolusi dengan menumbangkan rezim yang telah berkuasa lebih dari 30 tahun. Kini, Mesir pun bergejolak. Jutaan rakyatnya berdemontrasi menginginkan perubahan. Rakyat Yordania juga tak mau kalah. Demikian juga Arab Saudi yang kemungkinan besar menunggu gendrang ditabuh.

Rakyat Afganistan juga mulai menampakkan ketidak puasan terhadap pemerintah bentukan Amerika. Termasuk juga warga Irak yang dahulu berjingkrak saat Saddam tumbang, kini mereka kelihatan tidak kuasa bersabar melihat posisi pemerintahan yang terus-menerus dalam keadaan transisi. Lalu, apa kabar Palestina? Negara yang selalu menjadi bulan-bulan Israel ini masih tetap saja menderita. Pakistan juga kerepotan menghadapi pihak-pihak yang diklaim sebagai teroris.

Berbeda dengan Republik Islam Iran. Negara yang dipimpin Ahmadinejad ini makin menampakkan taringnya. Setelah memproklamirkan diri sebagai "negara nuklir", Iran tidak henti-hentinya mengkritik Amerika dan negara-negara barat yang selama ini memandang sebelah mata terhadap kekuatan negara muslim di Timur Tengah. Uni Emirat Arab juga tumbuh sebagai negara makmur dengan sentuhan modernitas, meski akhir-akhir ini juga terancam oleh lilitan hutang luar negeri.

Benarkah gerakan revolusi rakyat di negara-negara muslim itu murni akibat faktor ekonomi? Atau, seperti biasanya, ada agenda tersembunyi dari pihak luar yang sengaja menciptakan instabilitas negara dengan teori konspirasi dan manajemen konflik untuk memancing di air yang keruh? Atau, boleh jadi telah tiba masa kebangkitan dan perubahan di negara-negara Arab di Timur Tengah dan sekitarnya.

Jika gejolak itu dinilai sebagai akibat dari faktor ekonomi yang itu adalah korupsi, kesenjangan dan kemiskinan, maka alasan ini bukanlah akar dari permasalahan. Sebab, korupsi dan kemiskinan hanyalah bagian dari ekses kekuasaan yang diselewengkan. Jadi, kemiskinan adalah akibat, bukan sebab. Alasan yang boleh jadi tepat adalah eksistensi pemerintahan boneka dari negara-negara adidaya yang selama ini memback-up para raja, presiden atau perdana menteri di negara-negara Timur Tengah.

Dengan kalimat sederhana, sesungguhnya gejolak yang kini merebak di dunia Arab adalah ulah para penguasa mereka sendiri yang selama berkuasa hanya berorientasi untuk mempertahankan status quo. Dengan digdaya, mereka berani berlama-lama untuk berkuasa karena ada pihak asing yang berdiri di belakang mereka. Para penguasa itu bisa berada di pucuk pimpinan karena sebelumnya mereka juga diangkat oleh pihak asing yang sebenarnya memiliki "kepentingan terselubung", yakni menguras kekayaan negara dan hasil bumi di Timur Tengah alias The Black Gold (minyak).

Jadi, ada semacam "hutang" atau "balas budi" dari para pemimpin di negara Arab terhadap kekuasaan Barat yang dahulu pernah mendudukkan mereka dalam kekuasaan. Kini, setelah alam demokrasi telah benar-benar terbuka dan kesadaran akan "kekuasaan adalah milik bersama" telah tumbuh subur, maka rakyat pun semakin cerdas dan mampu membedakan mana pemimpin yang benar-benar mengayomi dan berpihak kepada mereka, dan mana pemimpin yang menjadi kepanjangan tangan pihak asing.

Saat kesadaran itu muncul yang diikuti oleh kondisi ekonomi yang terus terpuruk, rasa keadilan dan kesejahteraan yang tidak merata, maka endapan emosi itu meluap menjadi demonstrasi massal mulai dari aksi damai hingga brutal.

Namun, ada satu catatan yang perlu diingat, bahwa kekuasaan di negara-negara Arab tidak pernah lepas dari sejarah. Secara historis, model kepempinan monarkhi dan kerajaan merupakan warisan budaya yang sangat sulit dihilangkan. Bukan hanya di negara Arab saja, bahkan di negara maju pun, gaya kepemimpinan dan kekuasaan monarkhi juga masih lekat pada sistem demokrasi.

Itu artinya, bila revolusi dan reformasi yang diusung oleh rakyat Sudan, Tunisia, Mesir, Afghanistan, Yaman dan sekitarnya hanya berakhir pada agenda menumbangkan tirani kekuasaan yang ada, lalu dalam mendirikan pemerintahan baru masih disertai intrik politik, perebutan kekuasaan dan dukungan pihak asing lagi, maka sebenarnya gerakan itu sama saja dengan mengobati luka dengan racun yang baru.

Arab memang tidak sama dengan Islam. Arab belum tentu Islam, dan Islam pun tidak hanya Arab. Meski demikian, Arab masih identik dengan Islam sehingga segala gejolak politik, penderitaan dan dilema yang dialami bangsa Arab, jelas akan menjadi keprihatinan bagi seluruh penduduk dunia, terutama umat Islam dimana pun mereka berada.

Selain itu, Nabi Muhammad saw sendiri menghimbau umatnya, "Cintailah bangsa Arab karena: 1) Aku orang Arab, 2) Al-Quran berbahasa Arab, dan 3) Bahasa Surga adalah bahasa Arab".

Hadis di atas menunjukkan betapa pentingnya posisi bangsa Arab terhadap eksistensi umat Islam. Tulisan ini bagian dari keprihatinan terhadap "fitnah" yang kini merebak di negara-negara Arab. Dan, keprihatinan adalah bagian dari bentuk perhatian. Sedangkan perhatian merupakan titik adanya cinta.

Jika memang, saudaraku di negeri-negeri Arab ingin berubah, maka silahkan melakukan perubahan. Tapi dengan satu syarat, kalian harus merubah nasib (baca: pemerintahan) kalian sendiri oleh tangan kalian sendiri. Jangan sekali-kali menjadi "boneka" dari pihak asing, sebab hal itu hanya akan melahirkan pemerintahan baru yang diktator dan tidak berpihak kepada rakyat di masa yang akan datang. Percayalah, kalian pasti bisa.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar