Iklan

23 Mei 2011

Islam FC

 

Seperti Chelsea FC, Barcelona FC atau Arema FC, yang dimaksud "Islam FC" adalah Islam Football Club. Maksudnya, Islam FC adalah nama klub sepakbola di sebuah negeri antabrantah yang digagas oleh seorang syekh. Menarik bukan?

Alkisah, seorang Syekh kaya raya membeli sebagian besar saham klub sepakbola. Tujuannya, ia ingin menampilkan sepakbola Islami. Entah apa maksudnya? Yang jelas, ia ingin kata Islam masuk ke dalam ranah olahraga paling populer sejagat raya ini. Menurutnya, Islam tidak sekedar substansinya saja, tapi namanya juga harus melembaga. Ia bukan sekedar ruh, tapi juga jasad. Karenanya, Islam sebagai hal yang universal pasti bisa dikolaborasikan dengan segala hal, termasuk juga dalam sepak bola.

Wah, boleh juga idenya yang rada-rada filosofis ini. Lalu, bagaimana pengelolaan klub sepak bola Islami? Aturan mainnya seperti apa? Demikian pertanyaan para petinggi klub yang lain. Para pemain, supporter, dan pihak sponsor juga kebingungan dengan ide syekh, sang pemilik klub Islam FC.

Menghadapi persoalan itu, sang syekh lalu mencanangkan reformasi total layaknya gaya total football. Semuanya ia ubah berdasarkan Islam, bila perlu tanpa sedikitpun menyisakan unsur budaya dan aturan main sepakbola pada umumnya yang ia nilai tidak Islami.

Pertama-tama, ia menunjuk semua praktisi dan petinggi klub dari kalangan umat Islam. Direktur teknis, menurutnya, tidak cukup seorang mantan pesepakbola, tapi kalau bisa harus ulama yang mengerti dalil-dalil sepakbola ala Islam. Lalu, manajer sekaligus pelatih, ia menunjukkan pelatih yang selain memiliki lisensi FIFA, juga harus punya sertifikasi dari MUI. Benar-benar aneh!

Demikian juga para pemain. Big Bos Syekh hanya ingin pemain muslim, diprioritaskan berdarah Arab seperti Zinedine Zidane, George Weah, Ozil, dan lainnya. Kapten tim harus diubah namanya menjadi "rois". Demikian juga "coach" atau "pelatih" diubah menjadi "Amir". Sedangkan ia sendiri dinamakannya "Kholifah". Wah...keren... Ini klub sepakbola atau sistem pemerintahan ya?

Syekh itu tidak peduli atas segala tudingan dan cibiran. Yang penting, reformasi total sepakbola atasnama Islam harus ada. Bahkan, nama gaya sepakbola yang ia usulkan juga unik. Kalo Brasil ala Samba, Argentina punya Tango, Total Football milik Belanda, Islam FC punya gaya sendiri, yaitu: Total Syariah.

Bagaimana dengan atribut partai? Ini yang menonjol. Lambangnya harus ada huruf Arab. Pemain dilarang pakai celana pendek, harus menutup aurat. Warna kaos harus putih dan nomor punggung kaos wajib dengan huruf Arab alias hindi. Setiap pemain wajib berjenggot dan memakai cincin, meski terbuat dari besi.

Bagaimana supporter? Yah, mereka juga tak luput dari aturan baru ala Islam FC. Korlap supporter disebut "musyrif". Lagu-lagu heroik harus digubah menjadi qasidah. Mereka dilarang menari dan bergoyang kecuali gerakan javin atau samar. Dilarang membawa alat-alat musik seperti gitar, piano, terompet, kecuali rebana dan seluring gembala.

Ada beberapa aturan lagi dalam permainan sepakbola yang hampir semuanya memiliki dalil. Misalnya, setiap pemain dilarang menjebol gawang sendiri atau "wa la tulquu bi aydiikum ilat tahlukah". Tidak boleh mensleding atau mencederai lawan yang seagama. Hukumnya haram karena "al-Muslim akhul muslim". Dilarang melakukan diving atau pura-pura jatuh, apalagi dikotak pinalti, sebab itu termasuk kebohongan. Jika terus-terusan, pemain yang bersangkutan akan dicap "munafik".

Wasit sebagai pengadil lapangan, keputusannya tidak boleh dibantah kecuali bila bertentangan dengan al-Quran dan al-Hadis. Semua pihak harus husnu-dzan kepada wasit maupun hakim garis. Pasalnya, mereka dikategorikan sebagai "ulil amri" di lapangan hijau. Langkah untuk mengatasi pelanggaran, pertama, wasit harus memberi "mauidzah hasanah". Bila pemain masih ngotot atau protes, wasit jangan terburu memvonis salah, tapi perlu "mujadalah" dengan memberi kesempatan pemain membela diri dengan mengetengahkan hujjah yang shahih.

Sebagai klub sepakbola, Islam FC benar-benar ingin tampil beda. Semuanya harus serba syariah dan segala keputusan dalam klub didasarkan pada khilafah sang syekh beserta amir-amirnya. "Apa yang melatarbelakangi Anda membangun Islam FC yang serba beda?", tanya seorang wartawan kepada Syekh dalam sesi "Lunching Klub".

Syekh yang juga akrab dipanggil khalifah itu menjawab dengan mengetengahkan dalil, "Man tasyabbaha bi qoumin, fa huwa min hum", siapa yang meniru satu kaum, maka ia tergolong sama dengan kaum itu. Karena sepakbola selama ini berkiblat kepada Barat yang jauh dari pranata agama dan ruh religius, maka Islam FC ingin tampil beda. Tidak sama dengan klub-klub bola yang ada selama ini, toh juga tidak melanggar statuta FIFA", demikian jawaban sang syekh.

Bagaimana, Anda tertarik menjadi fans Islam FC, bukan Islam Friend Chicken lho. Atau, Anda mau membikin sensasi yang mirip dengan ide sang syekh, meski bukan klub sepakbola? Ciptakan sensasi lho....!!

Tidak ada komentar:
Tulis komentar