Iklan

22 Mei 2011

Nabi: Carilah Manusia Misterius itu!

 

Dalam keheningan kota Madinah menjelang tengah malam, tampak dua orang memasuki masjid Nabawi. Dari gelagatnya, kedua pria gagah itu seperti berusaha datang secara sembunyi agar tak diketahui para sahabatnya. Kebetulan, tak seperti biasanya, masjid Nabawi saat itu terlihat sepi. Beberapa sahabat yang biasa duduk lesehan di serambi masjid telah tertidur lelap. Kedua pria itu langsung bersandar di tiang masjid. Raut mukanya tampak tegang. Dalam hati mereka bertanya, ada apa gerangan? kenapa Nabi memanggilnya? Oh, rupanya mereka sedang menunggu Muhammad saw, sang manusia teladan.
Tak lama kemudian, Nabi pun keluar dari rumah sederhananya yang berdampingan dengan masjid dan beliau langsung menghampiri kedua pria itu. "Maaf, sudah lama menunggu ya?", tanya Nabi. "Baru saja, Ya Rasul", jawab salah seorang.

"Tahukah kalian, kenapa aku menyuruh kalian datang kemari?", tanya Nabi lagi. "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu", jawab keduanya serempak. Sebuah jawaban khas para sahabat Nabi yang bergelar radiyallahu anhu.

Nabi bersabda, "Umar, Ali, mendekatlah!". Ternyata, kedua pria itu adalah Umar, sang pembeda antara yang hak dan yang batil, dan Ali, pemegang kunci ilmu pengetahuan. Tatkala keduanya hanya berjarak kurang dari sehasta, Nabi menyampaikan sebuah pesan dengan suara pelan hampir seperti berbisik. "Kelak, jika kalian melihat kekacuaan di Madinah dan kota ini menghadapi problem berat yang tidak bisa kalian atasi, maka carilah seseorang bernama Qais al-Qarani. Mintalah supaya dia berdoa untuk kota Madinah sebab doanya pasti dikabulkan oleh Allah". Demikian wasiat Nabi kepada 2 tokoh sahabat itu.

Beberapa tahun kemudian, saat Umar bin Khattab menjadi khalifah memimpin Madinah, kota Nabi itu sedang menghadapi problem berat. Banyak terjadi kekacauan dan protes dari beberapa warga atas musibah kelaparan yang menimpa mereka. Musim kemarau berlangsung cukup lama sehingga persediaan makanan menjadi minim, ternak banyak yang mati, ekonomi pasar sepeti lumpuh.

Tragedi ini mendorong mereka yang imannya lemah memberanikan diri mencuri atau merampas hak milik orang lain. Problem itu membuat Sang Presiden, Umar merasa sangat sedih. Lama dia duduk termenung memikirkan solusi hal itu. Tidak mungkin baginya bertindak keras dan tegas lalu menghakimi para perusuh dengan hukuman berat sementara kekacauan itu adalah dampak eksternal dari musibah alam, yaitu musim panas dan kemarau panjang yang berakibat terjadinya kelaparan dan berujung pada kerusuhan.

Tiba-tiba, Ali bin Abu Tholib bertamu ke rumah Umar. Ketika Umar curhat tentang masalah tersebut kepada Ali, lalu suami Siti Fatimah itu memberikan sebuah saran, "Apa tidak sebaiknya kita gunakan senjata pamungkas kita?". "Apa maksud Anda?", tanya Umar tidak mengerti.

Ali menjelaskan, "Apakah Khalifah tidak ingat wasiat Nabi supaya kita mencari seseorang bernama Qois al-Qorni, manusia misterius yang doanya pasti mustajabah". Umar langsung setuju atas usul cemerlang itu. Bagi al-Faruuq, usulan itu bagai oase di tengah padang pasir. Mereka berdua pun langsung bersiap-siap melakukan perjalanan panjang untuk menemukan si manusia misterius itu. 
Berkali-kali Ali mengusap keringatnya dengan serban hijau yang dililitkan di kepala sebagai pelindung panas. Di wajahnya tampak guratan keletihan setelah menempuh perjalanan tak tentu tujuan. Singgah dari satu desa ke desa yang lain, dari satu bukit ke bukit yang lain. Melihat temannya kelelahan, akhirnya Umar memecah kesepian padang pasir. "Ali, ayo kita beristirahat lebih lama di desa itu", ucap Umar sambil mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah desa terpencil di depan mereka.

Setelah kuda mereka berdua melewati tapal batas desa, mereka segera menghampiri seseorang yang sedang sibuk di kandang unta.

"Assalamualaikum", kata Umar. "Waalaikumussalam", jawab pria setengah baya itu agak terkejut. Pria berbadan tambun itu tengah bekerja memerah susu unta. "Maaf Pak, boleh kami singgah sebentar untuk beristirahat sejenak saja, kami dari Yatsib", kata Ali memperkenalkan asalnya. Pria itu menjawab, "Oo.. silahkan. Kisanak pasti kelelahan. Kalau boleh saya tahu, ada perlu apa toh ke desa ini? Mungkin bisa saya bantu". "Syukron. Kami jauh-jauh kemari karena ingin bertemu dengan seseorang bernama Qois. Apa bapak mengenalnya?", tanya Ali. Pria tua itu mengernyitkan dahinya. Sepertinya, ia sedang mengingat-ingat sesuatu.

Belum sempat berucap apa-apa, tiba-tiba Ali menambahkan, "Nama lengkapnya Kiai Qois al-Qorni. Doanya terkenal mustajabah, Pak". Pria itu makin kebingungan dengan informasi tambahan ini. Akhirnya pria itu berkata, "Yaah saya ingat, di desa ini memang ada yang bernama Qois, tapi dia bukan kiai, apalagi kiai khos yang kata Sampeyan doanya mustajabah. Dia cuma seorang pemuda pendiam, tapi orangnya santun dan murah senyum. Dia jarang bergaul dengan orang desa, sebab ia selalu sibuk merawat ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Mungkin, ibunya telah meninggal dunia, saya kurang tahu".

Jawaban pria itu sama sekali tidak melegakan hati Umar. Padahal sebelumnya ia sangat berantusias mendengar ucapan orang itu yang diawali kalimat "Yaah saya ingat". Itu artinya, Qois yang diucapkan pria itu bukan Qois yang ia cari selama ini. Akan tetapi, Ali segera berkata, "Khalifah Umar, apa tidak sebaiknya kita temui dulu pemuda bernama Qois yang dijelaskan Bapak ini?". "Oke kalau begitu saya setuju"'.

Atas petunjuk pria itu, akhirnya Umar dan Ali pun tiba di sebuah rumah reyot yang atapnya terbuat dari pelepah kurma. "Assalamualaikum". Tiba-tiba seorang pemuda muncul dari dalam rumah, "Alaikumussalam, silahkan, silahkan", jawab pemuda tampan itu dengan suara bernada rendah hampir tak terdengar telinga. Tapi melihat isyarat tangannya, Umar dan Ali segera paham bahwa pemuda itu tengah mempersilahkan keduanya masuk ke dalam rumahnya.

Tanpa basa-basi, Umar bertanya kepada pemuda itu, "Benarkah Anda bernama Qois al-Qorni". "Benar, tapi nama saya hanya Qois. Al-Qorni itu adalah nama kakek moyangku". "Benarkah doa anda selalu dikabulkan Allah", tanya Ali penasaran. "Saya hanya hamba Allah, jiwa dan ragaku telah aku pasrahkan kepada-Nya. Aku tak berwenang sedikitpun atas sebuah kehendak, sebab kehendak yang menjadi kenyataan hanya kehendak Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya". Jawaban itu, secara tersirat menunjukkan ketinggian maqom pemuda itu. Bagi Ali yang cerdas dan Umar yang memiliki ketajaman insting, jelas pemuda tampan dan berpenampilan sederhana yang ada di hadapan mereka berdua, dia tidak lain adalah Qois al-Qorni yang selama ini mereka cari-cari sesuai wasiat Rasulullah saw.

"Kami datang kemari, sebenarnya meminta Anda supaya berkenan untuk berdoa demi kota Madinah, kota peninggalan kekasih kami, Muhammad saw. Mohonlah kepada Allah supaya masalah yang dihadapi penduduk Madinah segera tuntas sehingga warganya sejahtera". Mendengar nama Nabi disebut, kontan pemuda itu membaca sholawat dan salam untuk Rasulullah saw. Kedua mata pemuda itu mulai berkaca-kaca. Ia tampak sedih sekali.

Umar kembali berkata, "Maaf, jika berita tentang kota Madinah membuat Anda sedih. Maaf juga jika permintaan kami memberatkan Anda, karena sebenarnya orang yang menyuruh kami meminta doa kepada Anda adalah Muhammad, utusan Allah". 

Air mata tak bisa terbendung lagi. Sekalipun kedua kelopak matanya telah berusaha ditutup rapat, tapi air mata kesedihan itu pun meleleh, mengalir deras ke pipi pemuda itu. Bahkan kini ditambah suara isak tangis. Walaupun lirih tapi tangisan itu sanggup mengguncang hati Umar dan Ali. Mereka berdua pun seakan hanyut dalam tangis kesedihan.

Pemuda itu, setelah beberapa lama tak bisa berkata-kata, kini ia dengan sisa-sisa tenaganya berusaha bercakap. "Sebenarnya, yang membuatku sedih ini bukan karena masalah besar yang menimpa kota Madinah, atau musim kemarau dan berbagai macam kerusuhan yang melanda kota itu. Akan tetapi, yang membuatku sedih adalah karena hingga hari ini, aku tidak pernah bertemu dengan kekasih hatiku, Muhammad utusan Allah. Ketahuilah, air mataku ini bukan hanya kesedihan, tapi juga air mata kebahagiaan. Kenapa? Itu karena namaku pernah disebut oleh sang kekasih hati, Muhammad, rasul Allah melalui pesan yang telah kalian sampaikan tadi".

Subhanallah, sungguh ini adalah mahabbah nabi kelas tinggi. Pemuda itu sangat mencintai Nabi sekalipun tak pernah melihatnya, dan nabi pun merespon cinta itu dengan cinta sepanjang masa. Bagi Qois, doanya untuk Madinah atas wasiat Nabi merupakan penghormatan dari kekasih Allah untuk dirinya. Sebaliknya, jika doa itu terkabulkan, bagi Qois itulah salah satu yang bisa ia lakukan demi mahabbah abadiyyah.

"Bismillah, semoga segala hajat kalian dikabulkan Allah. Sekarang, segeralah antum berdua pulang". Singkat sekali doa itu. Umar dan Ali hanya berucap, "Amin". Sebelum keduanya beranjak keluar, tiba-tiba Qois berkata, "Maaf, sebelum antum pulang, saya ingin berkenalan dulu, siapakah nama kisanak berdua?". "Saya Ali bin Abu Tholib, keponakan Nabi. Dan ini adalah al-Faruq Khalifah Umar bin Khottob". Setelah mendengar penuturan Ali tersebut, pemuda bernama Qois itu langsung menundukkan punggungnya, ia ingin segera mencium tangan Umar dan Ali. Dengan muka ketakutan, Qois berkata, "Tolong maafkan saya karena kurang menghormati Anda berdoa. Ternyata tamu saya hari sangat istimewa, keluarga Nabi dan Presiden kota Nabi, tolong maafkan kekurangsopanan dan sambutan saya di rumah ini".

Ali tidak mau kalah, "Oya, sebelum kami pulang, kami ingin tahu apa rahasia Anda sehingga Nabi memastikan bahwa doa Anda yang masih muda ini pasti terkabul". "Aku tidak punya amalan top apapun. Aku hanya pasrah 100 persen kepada Allah. Aku hanya cinta kepada Rasulullah melebih cintaku pada diriku sendiri, dan aku sangat menghormati ibu sebab doa dan karmanya tak pernah ditolak Allah. Ibuku telah lumpuh karena usianya yang sudah sangat tua, tapi kini ia telah pergi ke rahmatullah. Aku pernah menggendongnya mulai dari pasar Madinah hingga ke desaku ini. Semua keperluannya ketika sakit di masa-masa akhir hidupnya, selalu aku turuti sebab aku khawatir tidak memiliki kesempatan birrul-walidain lagi".

Itulah rahasia misterius dari manusia misterius yang sanggup diungkap oleh Ali, sang pemegang kunci ilmu. Sehingga, tak salah jika Nabi hanya berbisik kepada Ali dan Umar sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas Madinah.

Alhasil, ketika Umar dan Ali tiba kembali di Madinah, keduanya amat terkejut sebab air-air di sungai mulai mengalir, sumber air pun tampak segar lagi, hujan juga telah turun berkali-kali dan warga menyambutkan Khalifah Umar beserta Ali dengan sambutan meriah. Menurut penduduk Madinah, kepergian Umar dan Ali dalam beberapa hari terakhir ini telah membuahkan hasil. Madinah telah kembali bercahaya.

Ternyata, banyak di luar sana manusia misterius yang kedudukannya lebih tinggi daripada kita yang ada di kota dan buta karena gemerlapnya dunia. Ada juga di antara kita, manusia yang kurang terkenal di kalangan kita yang merasa terkenal. Tapi, justru ia telah dikenal di alam lain di luar kita, alam spirtual, alam ghaib, alam makrifat, alam dimana doa langsung dikabulkan Allah, Sang Ghaib tanpa hijab satupun. Jadi, carilah manusia misterius itu...!

Suramadu, 19 Juni 2009


5 komentar:
Tulis komentar
  1. Tambahan nih, manusia ghaib itu adalah manusia yang menjaga hatinya dari 6 hal: Mata, Lisan, Pendengaran, Penglihatan, Kedua Tangan dan Kedua Kaki. dengan menjaga 6 hal tesebut, hati kita akan terjaga dari godaan syaitan dan kita-pun dapat menjadi manusia ghaib yang pak tauifiq sebutkan.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  3. Apakah sama Qois al-Qorni dengan Uwais al-qorni? Karena ceritanya gk ada beda.

    BalasHapus