Iklan

23 September 2011

Palestina dalam Nestapa

 


Rakyat Palestina tengah memperjuangkan nasibnya. Negara mereka ingin diakui oleh dunia internasional, khususnya Barat, melalui forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Yah, mereka cuma ingin menjadi anggota saja. Tapi ternyata, tidak semua negara mau secara legowo menerimanya.

Ada apa ini? Mengapa Amerika yang sedari awal menyatakan diri sebagai negara paling demokratis, justru masih pikir-pikir untuk menerima "pinangan" Palestina? Bahkan, kabarnya USA mengancam akan mengeluarkan "hak veto"-nya untuk menolak mentah-mentah harapan rakyat Palestina sehingga muncul 2 kubu; antara yang menerima dan yang menolak.

Rusia, Cina, India yang notabene-nya adalah negara-negara yang mayaritas penduduknya tidak memeluk agama samawi (baca: Islam, Kristen, Yahudi), justru mendukung negara Palestina merdeka. Artinya, mereka sangat paham betul dengan arti kemanusiaan. Mereka justru lebih mendalami pentingnya nilai-nilai humanitis dan lebih mengedepankan arti persamaan sebagai warga dunia daripada negara-negara yang selama ini "dekat" dengan ajaran samawi tapi malah mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Menyebut "Palestina", pasti yang tergambar adalah bahwa negara itu adalah negara Islam yang dihuni oleh mayoritas umat Islam. Apakah negara-negara Barat, terutama Amerika yang pada jajaran kekuasaan politik maupun ekonomi dikuasai Yahudi dan Nasrani, mereka menolak Palestina hanya gara-gara beda agama. Sementara dalam melihat Israel, mereka justru membela mati-matian meski secara faktual, telah berkali-kali Israel memakan korban di Palestina?!

Ataukah, boleh jadi Amerika dan sekutunya yang menolak kemerdekaan dan keanggotaan Palestina di PBB memang menghendaki Palestina akan terus berkobar dalam konflik dan membara dalam perang agar supaya USA dan NATO bisa bebas melakukan intervensi di Timur Tengah atasnama perdamaian, padahal sejatinya mereka sengaja ingin tetap menerapkan teori konspirasi lalu memanfaatkan konflik sebagai "barang dagangan".
Atau, boleh jadi, kaum Yahudi dan Nasrani di belahan dunia manapun, termasuk di USA masih tidak bisa melupakan "luka lama" terhadap Islam. Padahal, antara Islam, Nasrani maupun Yahudi, secara genelogi, masih satu kerabat alias sama-sama anak turun Nabi Ibrahim. Tidak bisakah ada perdamaian?

Sebuah pertanyaan yang mudah disampaikan atau bahkan dijawab, tapi tidak mudah diterapkan. Inikah yang dimaksud oleh Al-Quran, "Wa Lan Tardha 'Ankal Yahudu Wa Lan Nashaara.....", bahwaa Yahudi dan Nasrani tidak akan rela terhadap kamu (Muhammad/Islam) hingga umat Islam mengikuti aturan atau ajaran mereka? Inikah yang dimaksud oleh Allah, bahwa memang kaum Yahudi "assyaddu kufran wa nifaqan", mereka lebih keras dalam menentang dan memerangi umat Islam?

Benar kata Gus Dur, “Selama Amerika menerapkan “Standard Ganda”, maka perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah terwujud”. Yah, selama USA, PBB, Nato, negara-negara Barat tidak adil, membela Israel di satu sisi, tapi membiarkan Palestina menderita di sisi lain. Memerangi terorisme di satu sisi, tapi di sisi lain juga menyerang dan melakukan agresi militer terhadap negara lain yang telah berdaulat.

Jika masing-masing pemeluk agama hanya melihat pada teks, lalu mengingat-ingat peristiwa perang atasnama agama di masa lampau, maka hingga kapanpun luka lama itu tidak akan sembuh. Dendam, iri hati, bibit permusuhan akan terus bergejolak selama masing-masing menyembah teks, mempertahankan ideologi dan harga diri.

Seharusnya, selain teks, kita semua dan negara-negara Barat khususnya, juga melihat konteks, melihat realitas masyarakat dunia yang kini mulai tumbuh kesadarannya untuk hidup damai dan berdampingan. Apa yang terdapat dalam teks, selalu tidak lepas dari interpretasi demikian pula dalam membaca konteks.

Oleh sebab itu, sebaiknya ego-ego pribadi maupun golongan atasnama apapun, termasuk atasnama agama, harus dikesampingkan demi terciptanya perdamaian abadi. Menolak Palestina atau negara manapun di dunia untuk bisa masuk ke dalam organisasi PBB, sama dengan menolak terciptanya persamaan hak asasi dan mencederai rasa kemanusiaan.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar