Iklan

6 November 2011

Malam Di Muzdalifah

 


Gambaran suasana padang mahsyar kelak, saat semua manusia dikumpulkan menjadi satu, sering dihubungkan dengan peristiwa wukuf di Arafah. Dan ternyata, memang begitulah penjelasan kitab-kitab agama selama ini.

Ketika semua manusia tumplek blek menjadi satu di padang Arafah, mereka semua dalam keadaan ihram yang dilarang memakai pakaian berjahit, memakai wangi-wangian, memotong tumbuhan dan larangan-larangan ihram lainnya, semua itu kian menunjukkan kesamaan dengan suasana di alam mahsyar kelak. Berpakaian ihram yang sama-sama putih, bermunajat bareng, memuja kepada satu tuhan, dan sebagainya, sekali lagi kian menambah bayangan manusia tentang mahsyar!

Tapi, kesamaan itu, saya kira hanya bisa dirasakan oleh para haji tempo dulu. Yakni, ketika Arafah masih tandus, ada hamparan yang luas dan panas, tenda-tendanya juga sederhana dan sebagainya. Jamaah haji saat ini, akan terasa sulit membayangkan mahsyar saat di Arafah. Mengapa?

Arafah di era milenium ini sudah tampak subur, tidak lagi gersang. Banyak pohon-pohonan. Tenda-tenda ber-AC yang sejuk juga banyak didirikan. Hamparannya bukan lagi padang pasir, tapi sudah di-paving, berlantai. Jalanannya juga beraspal. Aneka fasilitas, seperti: makanan catering, minuman segar, buah-buahan, alat transportasi yang memadai, semuanya menjadi wajah baru Arafah sehingga tampak "jauh" jika Arafah digambarkan dengan padang mahsyar, mengingat semua yang ada di Arafah sudah serba modern.

Saya justru merasakan "dahsyatnya suasana bagai di Mahsyar", ketika berada di Muzdalifah pada tengah malam. Di Muzdalifah, saya melihat para jamaah haji diterlantarkan di sebuah lapangan luas, di atas batu-batu kerikil, tidak bertenda, berada di gelapnya malam, dalam kelelahan dan ngantuk. Semua peluh-kesah, rasa capek, meningkatnya emosi ketika berada di Muzdalifah, menurut saya, semua ini justru lebih mendekati suasana mahsyar seperti digambarkan kitab-kitab klasik, bukan lagi Arafah karena Arafah tidak lagi tepat di sebut "Padang Arafah". Ke depan, ia justru lebih cocok disebut "Kebun Arafah".

Sesungguhnya, yang ingin saya katakan adalah bahwa ketika fasilitas modern yang serba memudahkan telah dirasakan para haji di tanah suci termasuk di Arafah, maka dalam perspektif rohani, justru hal itu seringkali kian menjauhkan ilustrasi seseorang terhadap gambaran-gambaran tentang kehidupan akhirat, sekaligus makin menjauhkan dari keaslian menapak-tilasi manasik haji ala Rasulullah saw yang natural.

Tidak salah memang menggunakan teknologi modern dalam proses perjalanan haji karena memang tujuan teknologi adalah mempermudah umat manusia. Itulah manfaat ilmu pengetahuan. Namun di satu sisi, sebenarnya ada juga yang menghilang akibat kemudahan dan kelengkapan fasilitas berhaji. Yakni, kedekatan dengan realitas spiritual dalam menapak-tilasi manasik haji ala Rasulullah saw. Mengingat, beliau pernah bersabda: "Ambillah manasik haji kalian dariku".

Yah, hanya tersisa Muzdalifah yang masih lebih mendekati suasana spiritual yang natural. Meskipun, di sana saat ini sudah ada transportasi kereta cepat yang jika benar-benar dioperasikan, maka kemudahan demi kemudahan makin dirasakan para jamaah haji. Sedangkan suasana Arafah, apalagi arena jamaraat, semuanya telah bersentuhan dengan modernisme.

Karena itu, yang sulit bagi jamaah haji saat ini adalah mengambil hikmah spiritual dan merasakan aspek kedekatan dengan Allah seiring dengan wajah modernisme dan teknologi canggih di tengah menjalankan manasik haji. Ketika situs-situs bersejarah berubah wajah menjadi fasilitas modern dan pelaksanaan haji kian mudah, maka sangat boleh jadi kemudahan ini bisa menjauhkan seorang haji dari pendekatan kepada Allah swt.

Hanya orang yang benar-benar berdzikir dan mendapat ma'unah Allah, yang akan terus menikmati kedalaman spiritualitas haji di tengah gemerlapnya modernisme dan teknologi canggih!

Tidak ada komentar:
Tulis komentar