Iklan

4 Januari 2012

Kelemahan E-Learning

 


Segala sesuatu, ada kelemahan dan kekurangannya. Hanya Allah Yang Maha Sempurna. Demikian pula dengan model pendidikan dan berbagai aneka produk teknologi. Meski terlihat hebat, baru, mewah dan wah, tapi tetap saja ada kekurangannya.

Tulisan ini sedikit akan membahas kelemahan E-Learning sebagai sebuah sistem dan konsep pendidikan berbasis elektronik dan mengandalkan jaringan internet. Ada memang kelebihan e-learning dan banyak juga dibanding model pendidikan konvensional atau tradisional yang diterapkan selama ini. Namun, sekali lagi, e-learning juga memiliki ruang kelemahan yang dengan mengetahuinya bisa diantisipasi oleh pada akademisi dan praktisi pendidikan yang hendak menerapkan e-learning.

Menurut Bullen (2001) dan Beam (1997), paling tidak ada 8 kekurangan dalam pembelajaran berbasis elektronik dan networking, yaitu:

1. Kurangnya interaksi antara dosen dan mahasiswa atau bahkan antar mahasiswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar.

Interaksi secara face to face, bahkan harus dilakukan untuk beberapa mata pelajaran tertentu, seperti: belajar ilmu tajwid atau baca al-Quran yang menurut para ulama Quran harus musyafahah (saling melihat lisan) sehingga keharusan ini jelas tidak mungkin pada model e-learning. Mungkin, bisa saja belajar face to face ilmu tajwid melalui e-learning karena saat ini sudah ada jaringan super cepat semisal 3.5 G yang memungkinkan ada model video call, atau murid bisa merekam bacaannya lalu dikirim ke guru. Namun, tehnik semacam ini jelas butuh waktu lebih lama daripada model konvensional, butuh koneksi cepat, butuh dana besar, dan yang jelas makin ribet. Karena itu, tidak semua pelajaran bisa dengan e-learning.

2. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis (komersial). 

Adanya programmer yang bisa membuat program berwajah pendidikan, jelas membuka ruang bisnis. Seorang guru bisa saja membuat pasword untuk file-nya lalu file itu dijual dengan paswordnya. Tanpa paswaord, pengguna hanya bisa merasakan trial-nya saja. Bukankah hal-hal semacam ini, yang berbau komersial akan sangat mudah diterapkan dalam model e-learning? Disinilah kelemahan yang cukup mengkhawatirkan!

3.  Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.

Jika pendidikan mengarah pada pendewasaan dan penanaman budi pekerti, maka e-learning akan lebih banyak mengarah pada pelatihan sesaat yang itu sangat jauh dari proses pembentukan jiwa. Apalagi, jika proses pembelajaran ala e-learning masih membutuhkan trik dan `cara penggunaan sotfware, maka jelas pelatihan yang lebih dominan daripada pendidikan.

4. Berubahnya peran dosen atau guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan TIK.

Perubahan peran ini, di satu sisi akan kian memperkuat bagaimana posisi guru atau dosen hanya sekedar fasilitator dan bukan lagi sebagai sumber ilmu. Jika demikian kenyataannya, ada satu hal yang perlu dipertanyakan: jika guru hanya sekedar fasilitator –atau yang lebih ektrem saya sebut hanya sebagai “makelar”-, maka mungkinkah siswa memiliki kepercayaan yang dalam terhadap gurunya? Padahal, dalam pendidikan, faktor kepercayaan itulah yang justru penting dan saat ini makin menipis akibat banyak didengungkannya fungsi guru hanya sebagai fasilitator!

5.  Mahasiswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

Dengan e-learning, mahasiswa yang tidak punya minat terhadap teknologi modern, tidak punya dana untuk memiliki perangkat keras yang memadai, maka ia jelas akan tertinggal oleh rekan-rekannya yang itu berarti ia tengah menuju kegagalan.

6.  Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet.

7.  Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki ketrampilan internet.

8.  Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

Bagaimana menurut Anda? Meski e-learning memiliki kekurangan, tapi ke depan, era pendidikan bersistem e-learning akan menghampiri dunia pendidikan. Karenanya, dengan mengetahui kelemahan itu, para praktisi pendidikan dapat mengantisipasinya sejak sekarang agar jangan sampai teknologi modern di dunia pendidikan diacuhkan hanya gara-gara kita tidak mampu mengatasi kekurangan itu.

2 komentar:
Tulis komentar
  1. elearning adalah solusi meminimalkan jam kosong :D
    namun tetap sebagaimana fungsinya, elearning hanya sebagai pendukung saja, tetap diutamakan tatap muka

    BalasHapus
  2. makasih banyak pak!
    sangat membantu

    BalasHapus