Iklan

28 Juni 2012

Respect for Mosque

 


Respect for Mosque (memuliakan masjid) merupakan kewajiban bagi seorang muslim. Tidak sempurna iman seseorang yang hatinya tidak muta'alliq (terikat) dengan masjid. Sebab, masjid merupakan tempat suci di muka bumi. Ia disebut "Baitullah" atau "Rumah Allah". Istilah ini mengindikasikan bahwa sudah seharusnya, masjid dihormati. Setiap muslim harus peduli dengan masjid, tempat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Masjid Tempat Orang Suci

Nabi SAW bersabda, “Semua orang dilahirkan dalam keadaan fitrah atau dengan iman yang benar. Adalah orang tuanya dan lingkungannyalah yang mengalihkan dia dari keimanan yang benar dan membuat dia menjadi Yahudi atau Kristen atau lainnya”. Karena itu ajaran agama Islam sangat berlawanan dengan kepercayaan Kristen yang menganggap bahwa tiap-tiap manusia lahir dengan membawa dosa sejak lahir, dan Yesus disalib untuk mencuci bersih dosa-dosa orang Kristen.

Karena kehadiran keimanan yang sangat benar yang terpatri dalam sanubari manusia kepada Allah SWT inilah sehingga mereka menerima petunjuk yang dikirim kepada mereka melalui para Nabi. Allah SWT membimbing siapapun yang Ia kehendaki.

Di manakah bisa ditemukan orang-orang seperti ini? Orang-orang ini biasanya ditemukan di dalam rumah Allah SWT atau masjid yang mendirikan shalat dan membiasakan diri mereka dengan banyak-banyak berzikir kepada Allah SWT.

Oleh karena itu kita harus memuliakan - menunjukkan rasa hormat yang besar terhadap masjid. An Nur 36 - 38

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

Cinta Allah, Cinta Rasul, Cinta Masjid

Anas RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun yang mencintai Allah SWT, harus mencintai aku. Siapapun yang mencintai aku harus mencintai Sahabat-Sahabatku. Siapapun yang mencintai Sahabat-Sahabatku, harus mencintai Al Qur’an. Siapapun mencintai Al Qur’an, harus mencintai masjid. Masjid adalah rumah Allah SWT. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk memuliakannya. Allah SWT telah memberkati tempat ini dan orang-orang yang menempatinya untuk urusan yang benar. Allah SWT melindungi masjid-masjid ini dan penghuninya. Para penghuni ini mendirikan shalat di dalam masjid-masjid ini. Allah SWT memenuhi kebutuhan mereka dan mengabulkan doa-doa mereka. Allah SWT melindungi harta-harta mereka selagi mereka berada di dalam masjid.” (Qurtubi)

Derajat Masjid

Ada banyak karakteristik masjid yang mengangkat derajatnya di atas daripada tempat-tempat lain. Abu Omama RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun yang memulai dari rumahnya menuju suatu masjid dengan mengambil wudhu akan mendapat pahala yang setara dengan pahala seseorang yang meninggalkan rumah nya dengan Ihram untuk Haji. Siapapun yang telah mempunyai wudhu kemudian meninggalkan rumahnya menuju masjid untuk shalat akan mendapat pahala setara dengan umrah. Jika orang ini tinggal di dalam masjid setelah shalat dan menantikan shalat yang berikutnya, namanya akan dicatat dalam Illiyiin.” (Muslim)

Burada RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang berangkat ke masjid dalam kegelapan, sampaikan padanya bahwa ia akan mendapat penerangan pada Hari Akhirat”. (Muslim)

Abu Hurrairah RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Berdo’a di dalam satu masjid adalah lebih baik daripada berdo’a di rumah atau di tempat lain.” Sesungguhnya, ketika seseorang berangkat dari rumahnya menuju masjid dengan berwudhu dengan niat hanya untuk berdo’a disana, maka tingkatannya diangkat oleh Allah SWT lebih tinggi dan semakin tinggi seiring dengan setiap langkahnya sampai ia tiba di masjid. Ketika ia sedang menunggu di dalam masjid berdo’a berjamaah, ia menerima pahala dari Allah SWT seolah-olah ia sedang mendirikan shalat. Malaikat akan terus berdo’a untuk dia selama menunggu ini asalkan ia tetap menjaga wudhunya dan tidak merugikan siapapun. Para Malaikat meminta kepada Allah, ‘Ya Allah SWT limpahkanlah RahmatMu kepada orang ini dan ampunilah dosanya’” (Muslim)

Diriwayatkan oleh Hakam bin Umar RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Hiduplah di dunia ini seolah-olah kamu adalah seorang tamu disini. Anggaplah masjid sebagai rumahmu. Lunakkanlah hatimu dan bukalah hatimu untuk menjawab panggilan Allah SWT. Ingatlah akan karunia yang banyak dari Allah SWT yang telah dianugerahkanNya padamu. Menangislah karena kesadaran atau ketakutan terhadap Allah SWT. Jangan turutkan bujukan duniawi untuk membangun istana yang mewah yang mungkin tidak sempat kau huni. Hindarilah menghimpunkan kekayaan melebihi kebutuhanmu. Jangan mencoba untuk mengikuti hawa nafsu yang mana kamu tidak mungkin mencapainya.” (Qurtubi)

Jadikan Masjid sebagai Rumah

Abu Al Darda RA menasihati anaknya untuk menganggap masjid sebagai rumahnya karena ia mendengar Nabi SAW bersabda, “Siapapun yang menganggap suatu masjid sebagai rumahnya, Allah SWT menjamin kedamaian hati baginya dan akan membuat penyeberangan di ‘Jembatan Siratalmustaqim’ mudah baginya pada Hari Akhirat.” (Qurtubi)

Nabi SAW bersabda, “Di akhir zaman sebagian orang akan duduk dalam berbagai kelompok di dalam masjid dan hanya sibuk membicaraan duniawi yang menandakan cintanya terhadap kehidupan duniawi. Jangan duduk dengan mereka, karena Allah SWT tidak memerlukan orang-orang seperti itu di dalam masjid.” (Qurtubi)
Said bin Al Mussayib meriwayatkan, “Siapapun yang sedang duduk di dalam rumah Allah SWT, ia sedang duduk bersama Allah. Ia seharusnya hanya melibatkan dirinya dalam kebaikan dan pembicaraan yang baik.” (Qurtubi)

Para ulama sudah menguraikan sedikitnya 15  hal untuk memuliakan masjid:

1. Ucapkan salam ketika masuk ke dalam masjid jika orang-orang tidak sedang shalat atau membaca Al Qur’an atau berzikir. Jika tidak ada orang di masjid, ucapkanlah “Salam bagi kita dan bagi orang-orang yang saleh” Tentu saja, Malaikat akan menjawab salam ini, jika kelihatannya tidak ada siapapun disana.

2. Dirikanlah shalat dua raka’at untuk memuliakan tempat ini (disebut Tahiyyatul Masjid), asalkan bukan pada salah satu dari ke tiga waktu dimana dilarang untuk shalat. Tiga waktu itu adalah ketika matahari terbit dan terbenam, dan ketika ia tepat berada di atas kepala di siang hari.

3. Jangan sibuk membicarakan perniagaan di dalam masjid.

4. Jangan mengeluarkan pedang/senjata.

5. Jangan membuat pengumuman tentang barang-barang hilang.

6. Jangan mengeraskan suara di dalam masjid.

7. Jangan sibuk membicarakan urusan duniawi.

8. Jangan bertengkar dengan orang lain.

9. Jangan memaksakan diri diantara dua orang yang bersebelahan jika tidak cukup tempat.

10. Jangan berjalan di depan seseorang yang sedang mendirikan shalat.

11. Usahakan untuk tidak meludah atau membersihkan hidung di dalam masjid.

12. Jangan membunyikan persendian tulang.

13. Jangan bermain-main dengan bagian manapun dari tubuh. Terutama ketika mendengarkan Khutbah Jum’at.

14. Jagalah kebersihan dan jangan membawa anak-anak yang masih bayi atau orang gila ke dalam masjid.

15. Sibukanlah diri dengan banyak-banyak berdzikir kepada Allah SWT. (Qurtubi)

Di dalam ayat 37 An Nur dijelaskan tanda-tanda laki-laki yang selalu berada di dalam masjid. Kata ‘laki-laki’ di dalam ayat ini menunjukkan bahwa masjid itu sesungguhnya untuk digunakan oleh laki-laki. Shalat untuk seorang perempuan lebih baik dilakukan di dalam rumah nya daripada di dalam masjid.

Ummi Salma meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Masjid yang terbaik bagi seorang perempuan adalah di dalam rumahnya”. (Musnad Ahmad dan Bahiqi)
Ini berarti bahwa lebih besar pahalanya bagi seorang perempuan untuk shalat di dalam rumahnya. Bagaimanapun, dia boleh berada di dalam masjid jika ada suatu tempat yang terpisah untuk wanita-wanita.

Wanita-wanita perlu dianjurkan untuk pergi ke suatu masjid jika ada beberapa kegiatan di bidang pendidikan yang berlangsung di dalamnya. Pendidikan adalah sangat penting dan sungguh disesalkan bahwa wanita-wanita mendapat peluang yang sangat terbatas untuk menerimanya. Seharusnya, tentu saja, diusahakan adanya tempat yang terpisah untuk wanita-wanita di masjid.

Di dalam ayat 37 An Nur, tanda-tanda orang yang sering berada di dalam masjid ini diuraikan dengan sangat tepat:

(a). Perniagaan dan jual beli tidak mengalihkan perhatian mereka dari banyak-banyak berdzikir kepada Allah SWT.

(b). Mereka mendirikan shalat.

(c). Mereka membayar Zakat.

(d). Hati mereka bergetar bila mengingat Hari Akhirat ketika mata dan hati akan dijungkirbalikkan karena kengerian terhadap Hari Akhirat itu. Karenanya penghuni masjid ini tidak pernah menyombongkan segala bentuk ibadahnya terhadap Allah SWT. Mereka memilih merendahkan dirinya dalam mencari-cari Rahman Allah SWT.

Tanda-tanda Orang yang memakmurkan Masjid

Berikut ini adalah suatu pertanyaan yang baik, siapakah yang berhak menjalankan urusan suatu masjid? Jawaban terhadap pertanyaan ini disampaikan dalam At Taubah 18

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Karenanya tanda-tanda orang yang pantas menjalankan urusan suatu masjid adalah sebagai berikut:

(a). Mereka beriman kepada Allah SWT.

(b). Mereka beriman kepada Hari Akhirat.

(c). Mereka mendirikan shalat.

(d). Mereka membayar Zakat.

(e). Mereka tidak takut kepada siapapun kecuali Allah SWT.

Abu Said Al Khudri RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kamu harus bersaksi terhadap keimanan seseorang jika ia datang ke masjid secara teratur.” (Tirmidzi, Ibnu Majah)

Jamaah Masjid adalah Tamu Allah

Salman Faris RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapapun yang datang ke masjid, ia seperti seorang tamu yang berniat untuk mengunjungi Allah SWT dan Allah SWT menghormati tamu Nya.” (Mazari)

Kata “ya’muru” di dalam ayat 18 At Taubah berarti:

  1. Untuk membangun masjid.
  2. Untuk memelihara masjid.
  3. Untuk menjalankan urusan masajid.
  4. Untuk menggunakan masjid untuk banyak-banyak berdzikir, shalat dan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, tidak dibenarkan untuk melarang seseorang menggunakan suatu masjid untuk banyak-banyak berzikir kepada Allah SWT dan shalat. Al Baqarah 114

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam Masjid-Masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (Masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Karenanya melarang orang-orang untuk menggunakan suatu masjid adalah sangat berdosa. Menurut suatu hadis, salah satu tanda telah dekatnya Hari Akhirat adalah bahwa masjid akan dibangun sangat mewah, tetapi orang-orang yang hadir pada setiap masjid sangat sedikit.

Istiqamah ke Masjid, Prilaku Mulia

Ali RA meriwayatkan ada enam perihal penting yang menunjukkan perilaku yang manusiawi dan terhormat.

Sebanyak tiga hal bisa diamati ketika kita berada didalam rumah, dan tiga yang lain ketika sedang dalam perjalanan:

  1. Membaca Al Qur’an.
  2. Mengunjungi masjid secara teratur.
  3. Mengumpulkan orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT.
  4. Berbagi makanan dengan orang miskin.
  5. Memperlihatkan akhlak yang baik.
  6. Memperlakukan musafir dengan ramah sambil tetap menjaga diri kita di dalam aturan Allah SWT.

Semoga Allah menerima shalat kita dan ibadah-ibadah lain di dalam masjid, dan membuat kita menjadi orang yang selalu mengunjungi rumah Allah SWT (masjid) secara teratur. Amiin

Tidak ada komentar:
Tulis komentar