Iklan

17 Desember 2013

Kekayaan Organisasi

 


Setelah semua person memahami diri sendiri, mengerti bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam struktur organisasi, maka langkah selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah menginventarisir kekayaan organisasi.

Menginventarisir kekayaan organisasi bisa dimaknai mendata atau mengumpulkan aset-aset yang dimiliki organisasi. Sebenarnya, langkah ini adalah bagian dari memahami diri sendiri. Dengan meraba dan berusaha mengetahui asetorganisasi, seperti dalam dunia bisnis, berarti memahami apa saja modal yang dimiliki organisasi? apa saja yang diperlukan? siapa orang tepat untuk tugas dan posisi tertentu? dan sebagainya.

Aset yang dimaksud adalah segala hal yang terkait dengan organisasi. Orang-orang atau anggota dalam organisasi adalah aset paling penting. Oleh sebab itu, mereka harus didata dan diidentifikasi untuk kemudian diberdayakan sesuai dengan skill dan kemampuannya.

Karenanya, dalam hal teknis, biasanya diperlukan kartu anggota atau paling tidak, data yang jelas tentang siapakah orang-orang yang  termasuk ke dalam organisasi, apa posisinya, bagaimana kemampuannya, dan sebagainya. Jika data tentang mereka tidak ada, identitasnya tidak jelas, maka biasanya, organisasi rentan disusupi. Mereka yang terdata adalah orang-orang yang sejak awal menyatakan setia (loyal) untuk berorganisasi, bersama-sama bergerak untuk mewujudkan cita-cita organisasi. Dan, loyalitas inilah ruh dari organisasi.

Jadi, semua anggota yang tergabung dalam organisasi, baik yang tercantum dalam struktur maupun yang tidak, mereka semua adalah aset paling penting. Tanpa anggota, tidak ada organisasi, laksana tubuh tanpa organ tubuh. Karena itu, semua data tentang anggota, harus dimiliki organisasi, baik data yang bersifat kualitas maupun kuantitas.

Dengan data yang lengkap, organisasi dapat dengan mudah mengoptimalkan dan mendayagunakan semua potensi yang dimiliki anggota. Apa yang menjadi minat dan bakan si A, si B, si C, dan seterusnya? Mengapa jumlah anggota minim dan bagaimana cara merekrut anggota baru agar organisasi menjadi besar? Dengan anggota sebanyak ini, bagaimana memaksimalkan semuanya secara adil dan merata? Pertanyaan-pertanyaan ini akan mudah dijawab setelah data-data tentang anggota diketahui.

Selain data tentang seluruh anggota, hal lain yang perlu diinventarisir sebagai kekayaan organisasi adalah segala hal yang dimiliki organisasi, baik berupa barang maupun jasa (kegiatan, program, acara, agenda kerja, dsb). Barang-barang yang dimaksud, misalnya, kantor, alat tulis, komputer, stempel, kendaraan, alat komunikasi, dan sebagainya. Semua aset miliki organisasi ini, harus didata dan dicatat dengan baik oleh sekretaris atau orang yang ditugaskan untuk ini. Bahkan, jika organisasi itu besar, setiap seksi perlu menginventaris apa yang dimiliki dan apa yang dibutuhkan. Barang-barang ini harus diketahui hal-ikhwalnya; apakah masih layak? Perlukan peremajaan atau penambahan? Mana yang sudah tidak bisa digunakan? Dan sebagainya.

Termasuk barang adalah uang. Berapa dana yang dimiliki organisasi? Darimana sumber dana itu? Apakah mencukupi ataukah kurang bila dijadikan “modal” penyelenggaraan organisasi? Jika kurang, apa langkah terbaik untuk menambah kas organisasi? Lalu, tentang aset berupa jasa, misalnya, mengindentikasi sekaligus mengevaluasi kegiatan yang sudah ada sebelumnya? Apakah kegiatan, acara, program dan sebagainya itu perlu dipertahankan, dikembangkan, disempurnakan, dan seterusnya?

Kuncinya, menginventarisir aset-aset organisasi adalah langkah teknis paling penting agar organisasi menjadi lebih tahu tentang potensi yang dimilikinya. Dengan mengetahui potensi diri sendiri, kelebihan dan kekurangannya, organisasi dapat terus bergerak maju berdasarkan pada pijakan data dan informasi yang jelas terkait aset-aset tersebut.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar