Iklan

5 Juli 2017

Nostalgia Mudik Madura 2017

 

Tahun ini, 2017, kembali saya mudik ke Madura. Sebab, seperti biasa, dalam 4 tahun terakhir ini, saya diminta memberi sambutan -menggantikan almarhum kakek- atasnama Ketua Yayasan Pendidikan Islam "Nurul Ulum" dalam acara Haflah Imtihan MI Irsyadul Mubtadiin, Dusun Tangkor, Desa Labang, Kec. Sreseh, Kab.Sampang, Madura.
Memang, saya lahir di Malang, tapi kedua orang tua, kakek-nenek, semuanya lahir dan asli Madura. Sejak kecil, bahkan masih bayi, saya sering dibawa "toron" alias mudik ke kampung halaman kakek-nenek. Meski jarang, terkadang setahun sekali, tapi kenangan mudik ke Madura semasa kecil, hingga kini masih teringat jelas.
Masih seperti dulu, kampung halaman di Madura tetap sepi, bahkan banyak rumah yang mulai tidak berpenghuni karena ditinggal mati pemiliknya, sementara ahli warisnya ada di perantauan. Secara geografis, Dusun Tangkor Labang seperti berada di tengah pedalaman. Begitu senyap, tidak terdengar derung mobil atau motor. Tidak ada polusi udara, tapi cuacanya tetap panas sebab jarak menuju laut tidak jauh.
Sawah, ladang, juga masih terhampar luas, tapi tetap saja tidak sesubur di Jawa, karena pasokan air untuk pertanian tidak banyak. Jika pun ada, kualitas airnya sangat tidak baik, bahkan tidak layak untuk dikonsumsi. Bila ingin air minum, warga harus mengambil air dari sumber air yang jaraknya lumayan jauh sehingga perlu tenaga ekstra untuk mengangkutnya.
Listrik sudah lama ada, bahkan warganya sudah banyak yang memiliki ponsel walaupun sinyalnya masih sering lenyap. Siaran televisi juga sudah bisa dinikmati, tapi orang kampung lebih suka acara sepakbola, tinju atau akademi dangdut. Hiburan paling digemari adalah musik dari tape atau radio, apalagi lagunya Bang Haji Rhoma, dijamin orang Madura sangat suka, hehehe...
Mayoritas warga Tangkor Labang berprofesi sebagai petani. Usai menempuh pendidikan dasar, biasanya mondok ke pesantren atau merantau ikut kerabatnya di luar Madura untuk bekerja. Tradisi inilah yang menyebabkan kampung di Madura selalu sepi. Suasana Dusun Tangkor menjadi ramai hanya pada saat liburan hari raya atau ada hajatan kemanten. Selebihnya, sepi dan cocok untuk bertapa atau bikin anak, hehehe....
Saya amati, rumah peninggalan kakek-nenek, masih banyak yang tidak berubah. Dari dekat, saya terkenang bagaimana dulu kakek duduk di pelataran rumah, dikelilingi kerabat dan sanak famili yang datang menyambut dan bersilaturahmi. Mereka berkumpul, bercerita, bercanda tawa sambil menikmati secangkir kopi pahit dan kepulan asap rokok kretek.
Dari sudut dapur, saya seperti melihat nenek sedang menyuruhku dan adik-adikku untuk makan, menikmati masakan kuah "adun" (kare ayam) khas Madura yang rasanya tiada tara. Saya pun seakan melihat abah asyik duduk di surau (langgar kayu), merasakan hembusan angin sepoi-sepoi di tengah teriknya hawa panas pulau garam.
Tiba-tiba, saya juga melihat beberapa orang yang dulu merasakan indahnya suasana mudik lebaran di Madura seperti paman, sepupu, dan banyak lagi. Mereka pernah ada di kampung Madura ini. Jika begadang, pasti sampai larut malam. Obrolan dan candaan mewarnai acara cangkrukan yang hampir digelar sepanjang hari, pagi, siang hingga larut malam.
Namun, mereka semua kini telah tiada. Yang tersisa hanya kenangan yang sulit aku lupakan. Oh, betapa ramah dan sayangnya mereka semua. Terima kasih, Ya Allah, yang telah menghadirkan mereka di tengah kehidupanku sehingga dunia ini tidak hampa.
Mereka yang kini telah tiada, pasti telah pergi, entah kemana. Saya hanya bisa berdoa, semoga jiwa mereka tenang dan menjadi bagian dari hamba-hamba Allah yang dipanggil ke haribaan-Nya dalam keadaan ridha dan diridhai, serta masuk ke dalam surga, tempat yang lebih indah dari dunia ini.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar