Iklan

25 Januari 2018

Chandra Nandini

 

Lagi, pemirsa ANTV dimanjakan hadirnya sinetron India berjudul "Chandra-Nandini". Serial bergenre sejarah ini memang menarik. Tidak hanya dari aktor-aktrisnya yang bikin jomblo baper, tapi kemasan alur cerita yang dibumbui intrik politik, cinta, dendam, semuanya sanggup mengaduk-aduk emosi pemirsa hingga lupa tahun 2018 adalah tahun politik, hehe...
Chandra-Nandini berkisah tentang lahirnya Kekaisaran Maurya diperintah oleh Dinasti Maurya yang didirikan oleh Candragupta di Pataliputra (sekarang disebut Patna) di Magadha, India timur laut. Pada 322 SM, Chandragupta naik tahta hasil dari kudeta yang dipimpinnya dari dinasti Nanda (Patnananda, ayah Nandini).
Pada masa pemerintahan Chandragupta merupakan persinggungan antara India dengan bangsa asing, tepatnya kekaisaran Macedonia yang dipimpin oleh Alexander Agung. Peristiwa ini berlangsung 2 tahun sebelum Chandragupta naik tahta. Kedatangan Macedonia selain dengan maksud politis, juga dengan maksud menyebarkan kebudayaan barat ke timur. Pasca ekspansi bangsa barat adalah kemunculan budaya hellenisme, yakni perpaduan antara budaya timur dengan budaya barat (helenis : Yunani, yang sedang berkembang saat itu).
Chandragupta naik tahta beberapa saat pasca kematian Alexander Agung. Ia berhasil menguasai daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Macedonia, dan bahkan berhasil menjalin hubungan dengan musuh Alexander Agung, Seloucos Nicator (penguasa Yunani di Asia Barat) yang kemudian banyak membantu Chandragupta dalam menuliskan sejarah India.
Menurut kitab Wisnu Purana, jumlah raja-raja Dinasti Maurya ada sepuluh dan memerintah selama 137 tahun, yaitu: Candragupta, Bindusara, Asoka-wardhana, Suyasas, Dasaratha, Sanggata, Salisuka, Somasarman, Sasadharman, dan Brihadratha.
Masih ingat sinetron "Asoka"? Tentu dong. Ternyata, Asoka adalah cucu kesayangan Chandagupta. Asoka adalah putra maharaja Maurya, Maharaja Bindusara dari seorang selir yang pangkatnya agak rendah bernama Subhadrangi yang akhirnya disebut Dharma karena ia mengikuti jalan kebenaran. Asoka memiliki beberapa kakak dan hanya satu adik, Drupadh. Karena kepandaian otaknya dan kemampuannya berperang, Asoka menjadi cucu kesayangan Maharaja Chandragupta Maurya.
Seperti diceritakan dalam bentuk legenda, ketika Candragupta Maurya meninggalkan kerajaannya untuk hidup sebagai seorang Jain, ia membuang pedangnya. Asoka menemukan pedangnya dan menyimpannya. Konon, berkat pedang itu Asoka tumbuh menjadi kesatria sejati nan pemberi mewarisi karakter kakeknya, Maharaja Chandragupta.
Di bawah kekuasaan Asoka, kekaisaran Gupta berkembang pesat. Asoka mampu menguasai sebagian besar anak benua India, yang sekarang disebut Afganistan sampai Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore. Ia mampu menyatukan wilayah yang sangat luas, bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India dewasa ini.
Sang penulis Britania, H. G. Wells menulis tentang Asoka:
"Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut diri mereka sendiri ‘Yang Agung’, ‘Yang Mulia’ dan ‘Yang Sangat Mulia’ dan sebagainya. Mereka bersinar selama suatu waktu singkat, dan kemudian cepat menghilang. Tetapi Asoka tetap bersinar dan bersinar terang seperti sebuah bintang yang cemerlang bahkan sampai hari ini".
Baru hampir 2.000 tahun kemudian di bawah kepemimpinan Akbar yang Agung dan cicitnya (buyutnya) Aurangzeb, sebuah bagian besar anak benua India yang pernah diperintah Asoka, dipersatukan lagi di bawah satu kepemimpinan. Tetapi akhirnya, orang Inggris di bawah Kekaisaran Britania Indialah yang menyatukan anak benua yang terpecah-belah ini menjadi sebuah satuan politik dan merintis jalan menuju munculnya kembali negara Bharata modern yang sembari memakai lambang Asoka, diilhami oleh ajarannya yang penuh dengan rasa kepemimpinan kuat dan rasa kasih sesama.
Jadi, sinetron "Chandra-Nandini" terkait erat dengan kisah "Asoka" dan bersambung hingga ke serial "Jodha-Akbar". Antara Chandra, Asoka dan Jalaluddin Akbar, ternyata se-nasab. Benar, jika ada pepatah: "anak singa tetaplah singa, ngak mungkin unta, apalagi kuda", hehe...
Yang belum disentuh dalam sinetron "Chandra-Nandini" ini adalah sejauhmana perpaduan budaya barat (Yunani) yang mulai masuk ke India (Budha). Beda dengan kisah "Jodha-Akbar" yang banyak menampilkan akulturasi budaya Islam dan India (Hindu-Budha). Menarik sebetulnya. Tapi, pemirsa lebih suka konflik keluarga dan cinta, ya akhirnya itu itu saja yang disuguhkan.
Tak terasa, beberapa batang rokok ikut terbakar bersamaan dengan terbakarnya hati asmara antara Chandra-Nandini di tengah intrik politik antara dendam dan cinta. Selamat menikmati, cayya... cayya...

Tidak ada komentar:
Tulis komentar