Iklan

3 April 2023

Ustadz Muzakki, Alim Humoris

 


Ustadz Muzakki, sudah lama sekali saya mengenalnya. Tepatnya, ketika beliau menjadi dosen saya. Dulu, sekitar tahun 1996-an. Mata kuliah Ilmu Sharaf. Ya, ketika itu UIN Malang masih berstatus cabang IAIN Surabaya. Fakultas Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel Malang. Dari data ini saja sudah dapat diketahui, betapa Ustadz Muzakki telah sangat lama mengabdi di kampus “Ulul Albab” ini, sejak sarjana muda.

Dari dulu, kini dan selamanya, saya tetap memanggilnya Ustadz. Beliau adalah guruku yang alim, mumpuni ilmunya, dan disukai para mahasiswa. Penyampaiannya jelas, suaranya keras, di sela-sela kuliahnya kerap disisipi humor ringan khas Madura sehingga membuat suasana kelas menjadi hidup. Dan ternyata, style Ustadz Muzakki itu tetap istiqamah hingga di detik-detik kepergiannya untuk selamanya.

Dulu, beliau pernah kontrak rumah di kampung saya. Tidak lama. Ketika saya mengabarkan hal itu kepada Abah saya yang juga takmir masjid, saya diminta oleh Abah untuk menghubungi beliau agar bersedia menjadi khatib tetap di Masjid. Apa jawab beliau, “Jangan saya, Ji. Saya orang baru. Saya makmum saja. Masih banyak kiai sepuh yang jauh lebih pas daripada saya”.

Begitu rendah hati Ustadz Muzakki dan betapa besar rasa ta’dzimnya kepada para kiai dan guru. Pengabdiannya untuk NU, seperti umumnya santri Madura, sangat besar dan tanpa batas. Islam ya NU. NU ya manut kiai. Sesimpel itu. Terakhir beliau mampir ke rumah saya, Ahad, 1 September 2019. Ketika itu, beliau hadir sebagai narasumber di Masjid Muritsul Jannah pada acara Lailatul Ijtima MWC NU Kedungkandang Malang.

Masih terngiang pesan beliau, “Bapak Ibu, jangan sekali-sekali berpikir keluar dari NU. Ini rumah kita bersama yang kelak kita akan dikumpulkan bersama para kiai dan alim ulama”.

Pada Pebruari 2023 lalu, saya menjadwal beliau sebagai penguji proposal tesis bagi mahasiswa Magister PBA Pascasarjana UIN Malang. Tiba-tiba, Kiai Muzakki menelpon, “Maaf, Ji. Saya tidak bisa hadir menguji di kampus. Saya sedang diinfus. Nanti, mahasiswa saya uji mandiri”. Sontak saya terkejut, “Masya Allah, sakit apa Kiai?”. “Tolong jangan disebar ya. Saya sakit biasa aja kok”, jawabnya. 

“Semoga lekas sembuh, Ustadz. Panjenengan ditunggu ibu-ibu Muslimat dan mbak-mbak fatayat”, ujar saya, menghiburnya. Ustadz Muzakki pun tertawa lebar, sekali lagi, khas tawa lepas ala Arudam.

Bagi siapa saja yang sering berbincang dengan Ustadz Muzakki, pasti pernah dan bahkan sering mendengar joke dan humornya yang segar. Suatu hari, pernah saya iseng bertanya, “Kenapa nama jenengan “Akhmad” ada sisipan huruf “K”, umumnya kan cukup “Ahmad”? “Iya ya, mungkin ini ejaan kuno”, jawab beliau. Lalu, saya bilang, “Semestinya, huruf K itu diletakkan paling depan. Jadinya, K Ahmad Muzakki alias Kiai”. “Haha…”, beliau pun tertawa.

“Oiya, Ji. Perlu diketahui, meski nama saya “Muzakki” (orang yang berzakat), itu hanya lafdzi. Secara maknawi tetap “Muzakka” alias “orang yang berhak menerima zakat”, katanya. “Kwkw…kwkw…”, ganti saya yang dibuatkan terpingkal.

Kalau kita searching di internet dan mengetik kata “sastra arab akhmad muzakki”, pasti kita akan diperlihatkan rekam jejak karya tulisnya yang luar bisa. Ada “Stilistika Al-Qur’an” (2009), “Semiotika Memahami Bahasa Agama” (2007), “Kesusastraan arab : Pengantar Teori dan Terapan” (2006). Buku terakhir ini yang saya dapat langsung dari tangan beliau. Ketika itu, beliau manawarkan barter dengan buku saya, “Leksikologi Bahasa Arab”, tentu saja saya setuju. 

Selain buku, Kiai Muzakki juga produktif menulis artikel yang telah terpublikasi di jurnal ilmiah, proceding dan book chapter. Cek saja akun ‘Google Scholar’ Akhmad Muzakki, di sana banyak sederet karya tulisnya dan itu sudah menjadi indikasi bahwa sebagai akademisi dan penulis, beliau itu abadi.

Satu lagi yang sering beliau katakan kepada saya ketika berbincang tentang figur-figur kiai dan ulama NU. “Saya itu sangat kagum dan heran dengan Kiai Basori Alwi. Meski sudah sepuh, duduk di kursi roda, tapi tetap istiqamah mengajar dari pagi hingga larut malam. Kiai Basori itu kalau diundang mesti hadir, meskipun di langgar dalam kampung, di gang sempit, bahkan di pinggir sungai. Itu yang sulit diteladani”, kisah Kiai Muzakki.

Dari paparannya tentang jejak langkah para kiai itu, saya menyimpulkan bahwa Kiai Muzakki ini memang sosok pecinta ulama. Santri sejati. Beliau belajar tidak dari ilmunya para kiai saja, tapi juga dari akhlak dan perjuangannya. Tak heran, bila nilai-nilai positif itu menjadi karakter yang membangun jiwanya untuk selalu khidmat pada ilmu dan ahli ilmu.

Hari ini, Senin, 3 April 2023 bertepatan 12 Ramadan 1444, Kiai Muzakki kembali ke haribaan Allah SWT.  Tidak hanya keluarga, guru, murid, kolega, tapi semua jamaah dan orang yang mengenalnya, merasakan kehilangan. Beliau akan tetap dikenang untuk selamanya. Selamat Jalan, Kiai Muzakki. Sosok alim, produktif, humoris dan rendah hati.

Malang, 3 April 2023
www.taufiq.net

Tidak ada komentar:
Tulis komentar