Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

2 Mei 2026

Indonesia Ila Aina?

 


Jelang Hari Pendidikan Nasional 2026 ini, publik geger dengan rencana Kemdiktisaintek yang akan menutup Program Studi (Prodi) yang tidak relevan dengan kebutuhan industri. Tujuannya untuk mengurangi jumlah pengangguran yang setiap setiap tahun terus bertambah dan tidak sebanding dengan serapan tenaga kerja. Prodi harus fokus pada 8 industri strategis: energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju.

Tentu, rencana ini menuai pro-kontra, malah lebih banyak yang kontra, apalagi oleh prodi yang terancam ditutup. Padahal, tanpa rencana ini pun, seleksi alam telah berjalan. Ribuan sarjana muda, meminjam lirik Iwan Fals, resah mencari kerja, hanya mengandalkan ijazah, langkah kakinya terhenti di depan halaman sebuah jawatan. Belum lagi lulusan SMK, setelah pesta lulusan, esoknya langsung kelimpungan mau kemana?

Kondisi ini sudah lama terjadi, entah kelirunya dimana. Tapi anehnya, algoritma itu tetap ada dan bahkan mengakar ke dalam perut bumi pertiwi. Sekolah dan Perguruan Tinggi tetap jalan, bahkan berebut siswa dan mahasiswa. Semua berebut “calon pengangguran” dan anggaran. Profil lulusan yang akan diciptakan sekolah dan PT, itu hanya ada di lembar kurikulum dan diseminarkan dari tahun ke tahun. Sementara itu, pemerintah, ah sudahlah, pemerintah juga bingung mau membuat kebijakan apa.

Jika melihat ke belakang, Indonesia sejatinya adalah negara agraris yang mata pencaharian sebagian besar penduduknya bergantung sektor pertanian, juga perikanan dan peternakan. Tapi, prodi-prodi ini sepi peminat. Hidup petani menderita, ikan-ikan dicuri asing, peternakan kalah saing dengan pemodal besar, akhirnya prodi yang terkait dengan industri pangan ini sepi peminat, juga minim dukungan pemerintah. Sawah, kebun, ladang, tambak, semua terpaksa dijual untuk perumahan dan tempat wisata yang modalnya juga utang dari Bank. Klop! Bagi Gen-Z, jelas ogah jadi petani setelah kuliah 4 tahun. Enaknya ya ngopi atau bikin warkop (baca: cafe).

Ketika “dulu” industri manufaktur mulai tumbuh: pabrik tekstil, farmasi, elektronik, hingga rokok berkembang dan menyerap banyak tenaga kerja, sejatinya itu relatif berhasil mengurangi pengangguran. Akan tetapi, kini pabrik mulai lesu. Investor capek tanam modal di sini. Pajak tinggi, aturan ribet, birokrasi berbelit, preman banyak, barang ilegal menjamur. Udah, hancur. Pabrik tutup, buruh di-PHK, industri manufaktur di Indonesia lagi-lagi kalah dengan tetangga sebelah.

Ini masih industri pangan dan manufaktur, belum bicara energi, kesehatan, pertahanan, hilirisasi, digitalisasi dan pangan. Yang terakhir ini, urusan MBG. Entah, itu makhluk apa? Hehehe. Gak perlu dibahas. Sebab, bisa-bisa semua Prodi fokusnya ke sana. 

Pendidikan bukan hanya untuk pasar kerja, tapi untuk kewarganegaraan dan peradaban. Agama, filsafat, seni, sastra, sejarah -bisa saja tidak langsung terserap industri, tapi ia membangun kekuatan berpikir kritis. Tapi, lagi-lagi, sudahkah pendidikan kita dari dasar hingga perguruan tinggi mengajak peserta didik berpikir? Apalagi sudah ada AI dan smartphone.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026


2 Mei 2024

RPS MK Manajemen Kurikulum S3 PBA

 

CAPAIAN PEMBELAJARAN 

MANAJEMEN KURIKULUM BAHASA ARAB

  1. Memahami gambaran besar wilayah manajemen kurikulum
  2. Menganalisis siklus pengembangan kurikulum
  3. Menyusun dokumen kurikulum
  4. Menyusun RPS/Modul Ajar
  5. Menyusun rubrik penilaian dari berbagai aspek/domain belajar
  6. Menganalisis proses implementasi kurikulum
  7. Menganalisis pengembangan staf untuk mengimplementasikan kurikulum
  8. Menyusun instrumen penjaminan mutu kurikulum
  9. Mengevaluasi program kurikulum (internal dan eksternal)
  10. Analisis Kasus
  11. Menyusun Artikel dan Submit Jurnal



1 Mei 2024

4 Tipe Wali Murid

 


Ada 4 tipe wali murid untuk sekolah, madrasah, PT, pesantren, madin, TPQ, dan lembaga pendidikan lainnya.


Pertama, Mampu dan Peduli


Wali murid tipe pertama ini dambaan bagi pengelola lembaga pendidikan. Sekolah yang wali muridnya mampu dan peduli, pastinya lebih mudah dalam mengelola lembaga karena wali murid bisa diajak bahkan bisa dipaksa “bekerjasama”. Mampu di sini adalah punya kemampuan finansial yang lebih dari cukup, plus berpendidikan tinggi. Karena itu, dia peduli. Berapapun biaya yang dibutuhkan sekolah, demi anak, orang tua siap. Asalkan, layanan terjamin, prestasi sesuai ekspektasi, fasiltas memadai, maka wali murid siap lahir batin.


Sekolah yang wali muridnya tipe pertama, jelas lebih mudah maju. Manajer sekolah bisa bebas berkreasi karena dukungan wali murid sepenuh hati, jiwa, raga dan juga dana. Jika ada sekolah yang tidak maju, jalan di tempat, padahal kondisi wali murid mampu dan peduli, berarti ada yang error pada bagian manajemen. Kepala sekolah, guru atau siapa yang menjalankan pendidikan di sekolah itu harus segera diganti. Segera. 


Begitu asyiknya ada wali murid yang mampu dan peduli, kadang menggoda sekolah bertindak seenaknya menaikkan biaya pendidikan setinggi-tingginya. Tidak masuk akal. Sementara itu, sekolah di sekitarnya miskin dan makin tertinggal. Sulit dapat murid, jauh dari bantuan, dan merasakan berbagai penderitaan lainnya.


Kedua, Tidak Mampu dan Peduli


Wali murid level kedua adalah yang tidak mampu secara finansial. Hidupnya pas-pasan, ekonominya sulit, penghasilan tidak menentu. Biasanya, wali murid ini juga pendidikannya tidak tinggi. Hanya lulusan MI, Tsanawiyah atau pondok yang tidak sekolah formal. Biasanya, tidak semua. Akan tetapi, dia peduli dengan pendidikan anaknya. Dia sadar, bahwa dirinya tidak pintar, tapi ingin sekali anaknya sukses dan bisa sekolah. Paling tidak, melebihi dirinya.


Sekolah yang wali muridnya dihuni level dua ini, perlu kerja keras. Yayasan dan kepala sekolah, bahkan pemerintah, harus peduli kepada mereka. Sekolah harus mengusahakan diskon, beasiswa, cari bantuan, dan kerja apa saja untuk membantu mereka agar anak-anaknya bisa sekolah dan merasakan pendidikan yang berkualitas juga. Artinya, sekolah butuh kreativitas dan pengorbanan lebih.

 

Sebaliknya, wali murid tipe kedua ini juga harus peduli dan siap bekerjasama. Jika tidak bisa membantu dengan uang, boleh dengan tenaga, pikiran, atau jalan bareng sekolah untuk cari bantuan. Itu baru kolaborasi yang baik. Sama-sama peduli dan berjuang untuk peserta didik.


Ketiga, Mampu dan Tidak Peduli


Wali Murid tipe ketiga ini, biasanya orang sibuk, tapi dia kaya atau berpendidikan tinggi. Dia paham pentingnya pendidikan, bahkan siap saja bila dimintai donasi. Tapi, tidak peduli. Pokoknya, dia pasrah kepada guru dan sekolah. Tidak peduli anaknya nakal, prestasinya merosot, ada PR, dan segala yang dihadapi anak, dia tidak peduli.


Dia baru peduli kalau anaknya dikerasi oleh gurunya. Pokoknya, anaknya harus dimanja seperti raja. Tapi, orang tua tidak peduli blas.


Menghadapi wali murid seperti ini, guru harus bijaksana dan sabar tingkat dewa. Apalagi sekolah yang SPP-nya mahal, maka bersiaplah menerima konsekwensinya. Dimarahi, dituntut, di-viral-kan wali murid, dls. Jika sekolah mau menerima Wali Murid tipe ketiga, kuncinya harus siap jihad!


Keempat, Tidak Mampu dan Tidak Peduli


Tipe terakhir ini, berat. Sudah tidak mampu secara finansial, juga tidak peduli. SPP naik sedikit saja, protesnya sampai ke MK. Biasanya, orang tua jenis ini, pendidikan dan kesadarannya rendah. Dia hanya egois, bersembunyi dibalik narasi “miskin, tidak mampu, dipinggirkan”, dan sebagainya. Padahal, sekolah dan pemerintah sudah peduli, tapi dia sendiri tidak peduli.


Diundang rapat, sibuk. Diminta sumbangan, marah. Diajak diskusi, diam tidak tahu menahu. Pokoknya, ruwet. Sebaiknya, sekolah tidak menerima siswa dari wali murid jenis ini. Lha wong dia sendiri tidak peduli dengan pendidikan dan masa depan anaknya, kok sekolah dan pemerintah dituntut peduli. Kan aneh?


Itulah 4 tipe wali murid. Kira-kira, sekolah yang tidak maju, paling banyak dihuni wali murid tipe keberapa?


Apa perlu naturalisasi wali murid biar sekolah dan peserta didik bisa maju? Tanyakan STY (Sekolah Tidak Yes) 



22 Februari 2024

Orientasi MABA S2 PBA

 


Orientasi S2 PBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

27 Januari 2024

Keajaiban Statistik Kata Al-Quran

Fakta lain bahwa Al-Qur'an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kosa kata di dalamnya yang bersifat simetris.

Di era modern ini Al-Qur'an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer. Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur'an bisa dihitung dengan cepat dan mudah.

Perhatikan fakta-fakta berikut:


1. Kata ad-dunya (dunia) terhitung sebanyak 115 kali. Begitupun dengan kata al-akhirat (akhirat) sebanyak 115 kali.


2. Kata malaikat (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Begitupun dengan kata Syayatin (setan) sebanyak 88 kali.


3. Kata al-hayat (kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Begitupun dengan kata kematian sebanyak 145 kali.


4. Kata ash-shalihat (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Begitupun dengan kata as-sayyiat (amal buruk) juga sebanyak 167 kali.


5. Kata iblis (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Begitupun dengan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali.


6. Frasa "mereka berkata" terhitung sebanyak 332 kali. Begitupun dengan kata "katakanlah" juga sebanyak 332 kali.


7. Kata bulan sebanyak 12 kali.


8. Kata hari sebanyak 365 kali.


Ternyata itu belum selesai. Al-Qur'an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya. Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surah, seperti ق di surah Qaf, huruf س di surah Yasin, dan sebagainya.


Perhatikan beberapa contoh berikut:


1. Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57 dan 57 = 3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga, jumlah huruf ق di surah Qaf merupakan kelipatan 19. Ternyata, jumlah huruf ق di surah Asy-Syura juga ada 57.

Jika jumlah huruf di kedua Surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114 dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi.


2. Jumlah huruf ي di surah Yasin ada 237 dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 +48 = 285 dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi.


3. Jika initial حم yang terdapat pada Surat Al-Mu'min, Fussilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf dijumlahkan, maka dalam Surat Al-Mu'min terdapat 64 huruf ح dan 380 huruf م.


Surah Fussilat terdapat 48 huruf ح dan 276 huruf م. Surat Asy-Syura terdapat 53 huruf ح dan 300 huruf م. Surat Az-Zukhruf terdapat 44 huruf ح dan 324 huruf م. Surat Ad-Dukhan terdapat 16 huruf ح dan 150 huruf م. Surah Al-Jatsiyah terdapat 31 huruf ح dan 200 huruf م. Surat Al-Ahqaf terdapat 36 huruf ح dan 225 huruf م.

Jika dijumlahkan hasilnya adalah 2147، dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi.


4. Initial عسق di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini. Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 +54 +57 = 209 dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi.


5. Begitu pun initial كهيعص di Surat Maryam. Terdapat 137 huruf ك
175 huruf ه
343 huruf ي
117 huruf ع dan 26 huruf ص.


Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798, dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.


Jika Al-Qur'an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka kita tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini.


Satu catatan kajian yang dilakukan oleh seorang cendekiawan Islam dari Ikhwanul Muslimin, Dr. Tariq Al-Suwaidan, didapati bahwa terdapat beberapa "keajaiban" statistik di dalam Al-Quranul Karim. "Keajaiban" itu adalah terkait dengan keseimbangan antara perkataan dan bilangan.


Contohnya begini, "dunia" kebalikannya adalah "akhirat". Nah ternyata, di dalam al-Qur'an jumlah kata "dunia" dan "akhirat" itu sama persis, yakni 115.


Contoh lain simak di bawah ini :


* Al-Malaikat (malaikat) 88 kata, al-Syayateen (setan) juga 88 kata.

* Al-Hayat (kehidupan) 145 kata, al-Maut (kematian) juga 145 kata.

* Al-Rajul (lelaki) 24 kata, al-Mar'ah (perempuan) juga 24 kata.

* Al-Shahru (bulan) 12 kata, sama dengan jumlah bulan dalam satu tahun.

* Al-Yauum (hari) 365 kata, sama dengan jumlah hari dalam satu tahun.

* al-Bahar (lautan) 32 kata, sedangkan al-Barr (daratan) ada 13.


Jika digabungkan jumlah perkataan yang mengandung maksud "lautan" dan "daratan", jumlahnya adalah 45 (32 + 13) Dan jika dibuat perhitungan kira-kira begini :


* Lautan:32/45 X 100% = 71.11111111%

* Daratan: 13/45 X 100%= 28.88888888%.


Itu artinya, dari keseluruhan bumi, yang berbentuk daratan cuma 28.88888888%, sisanya berupa lautan.

 

14 November 2023

Dasar Leksikografi