Advertisement

1 Februari 2017

Umat Kompor

 
Sejak kasus Ahok mengemuka, entah berapa banyak energi, biaya, pikiran, tenaga hingga kuota internet dari bangsa ini yang terbuang sia-sia hanya untuk eker-ekeran yang ujung-ujungnya demi kekuasaan beberapa gelintir orang saja. Apa tidak capek? Yang waras, pasti berharap Pilkada cepat selesai. Yang menang, ya berkuasalah dengan penuh amanat. Yang kalah, ya bersikaplah legowo.

Nah, khusus kasus Ahok ini memang fantastik. Asalnya sih sederhana, tapi karena -meminjam istilah Gus Mus- digoreng sedemikian rupa, akhirnya menggurita, lalu muncul aneka macam aksi dengan seperti 411, 212, 123, dst. Tak hanya itu, aksi saling lapor juga masih terus terjadi, termasuk pengerahan massa. Dari tuduhan penistaan, kerusuhan, makar, aksi pengantin bom, isu PKI, Asing-Aseng, phone sex, dan entah apalagi.

Di dunia maya, lebih kejam lagi. Berita hoax sudah jadi santapan sehari-hari. Hampir semua orang dari yang berilmu hingga yang unyu-unyu, hobinya sama, steak hoax. Pada akhirnya, kebohongan, fitnah, hinaan, pelecehan, dan kekejian lainnya menjadi lalapan sehari-hari. "Mari cerdaskan kehidupan bangsa dengan hoax", begitu kalimat sindiran yang mengemuka.

Yang terbaru, tentu saja "oleh-oleh" dari sidang ke-8 kasus Ahok. Jelas, Ahok dan Tim Kuasa Hukumnya "mencederai" warga NU atas sikap yang kurang sopan terhadap KH Ma'ruf Amin sebagai Kiai Sepuh NU yang dihormati. Banser NU juga bereaksi keras atas rencana pelaporan KH Ma'ruf Amin oleh Tim Ahok. Meskipun, saya yakin, Ahok tidak akan berani.

Ternyata benar. Tidak kurang dari 24 jam, Ahok menyatakan minta maaf. Dia mengaku tidak bermaksud sedikitpun melecehkan Kiai Ma'ruf Amin, apalagi berhadapan dengan warga NU, terutama Banser Ansor. Kabarnya, Ahok juga akan sowan langsung ke Kiai Ma'ruf Amin untuk meminta maaf atas keteledorannya itu. Jadi, tanpa aksi jilid I, II, III, sudah keok, hehehe....

Saya pun yakin, warga NU dan Banser akan menerima maaf dan terjadi islah. Sebab, begitulah NU itu, seperti samudera. Luas, tidak suka anarkis, dan selalu mengedepankan kepentingan bangsa yang lebih besar. Dengan sikap dan posisi ini, wajar jika NU tetap berwibawa dan disegani.

Yang aneh itu, justru orang-orang di luar NU yang selama ini tidak suka NU, atau ngaku NU, padahal NU-nya masih perlu garisan supaya lurus. Keanehan mereka itu seperti kesurupan, teriak-teriak agar warga NU bangkit membela ulama, padahal sebenarnya mereka sedang jadi "kompor" supaya warga NU marah.

Sory ya, Bro... Sebagai santri, jelas warga NU tidak rela jika kiai NU dilecehkan. Tapi, warga NU telah belajar ilmu segoro dari Gus Dur, Gus Mus, Habib Lutfi, Kiai Said, dan kiai-kiai NU lain yang telah mengajarkan bagaimana bersikap dewasa, berjuang dan berkorban untuk bangsa demi menjaga kebhinekaan dan toleransi.

Warga NU dan Banser punya cara sendiri, ala santri di pesantren. Jika ada orang bersalah dan meminta maaf, ya dimaafkan. Dengan memaafkan, tidak akan berkurang kredibilitas dan marwah NU. Justru, sikap patriot ini yang menjadikan NU selalu disegani. Kebesarannya adalah samudera, keberaniannya adalah matahari, dan kesabarannya adalah bumi.

Beda dengan umat di bumi datar yang saat ini mulai terpecah-pecah. Mereka tampak bersatu, tapi hatinya "syatta" alias punya kepentingan sendiri-sendiri. Kini, mereka teriak #saveulama,#savekiaima'ruf, dan tagar-tagar lainnya. Tujuannya satu, menjadi kompor supaya warga NU marah dan negara kacau, lalu mereka mengambil sarinya. Sementara getahnya diberikan ke NU.

Jika benar mereka ini peduli terhadap kiai-kiai NU, ya mestinya dari dulu dong mereka tidak sepakat dengan fitnah dan pelecehan yang menyerang Gus Dur, Kiai Said, Gus Mus, KH Quraisy Syihab, Habib Luthfi, dlsb. Mereka ini cuma teriak #saveulama jika memang menguntungkan kepentingan mereka. Padahal tujuannya, supaya sikap warga NU terpecah. Itu saja.

Umat bumi datar ini adalah umat kompor yang hobinya memang selalu bikin ramai karena dengan ramai itulah, mereka bisa hidup dan eksis.

Ayo warga NU dan Banser, tetap rapatkan barisan dan jangan mudah terprovokasi. Kasus Ahok ini hanya masalah kecil, tidak ada kasus dan fitnah yang lebih besar melebihi pelengseran Gus Dur dari kursi presiden. Tapi, Gur Dur telah mengajarkan bagaimana menjadi "Pagar Baja" NKRI yang sebenarnya. Siap berjuang dan berkorban asal bangsa ini tidak terpecah-belah hanya karena politik kekuasaan yang sesaat.

Semoga Kiai Ma'ruf Amin, Kiai Said Aqil, Gus Mus, dan ulama-ulama NU lainnya selalu dianugerahi umur panjang dan kesehatan sehingga tetap menjadi pelita di tengah umat.

Salam Nahdliyyin

25 Januari 2017

Al-Habib KH Said Aqil Siradj

 


Mungkin masih banyak yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, bahwa Ketua PBNU, Prof. Dr. KH Sa'id Aqil Siradj juga seorang "Habib" alias keturunan (dzurriyah) Rasulullah saw. Ini nih silsilah lengkapnya supaya paham, kalau perlu dihafal, hehehe...

KH. Said Agil Siradj bin KH Agil bin KH Siradj bin KH Said (gedongan) bin KH Murtasim bin KH Nuruddin bin KH Ali bin Tubagus Ibrahim bin Abul Mufakhir (Majalengka) bin Sultan Maulana Mansur (Cikaduen) bin Sultan Maulana Yusuf (Banten) bin Sultan Maulana Hasanuddin bin Maulana Syarif Hidayatulloh (Sunan Gunung Jati) bin Abdullah bin Ali Nurul Alam Syeh Jumadil Kubro bin Jamaludin Akbar Khan bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin Abdul Malik al-Muhajir (Nasrabad India) bin Alawi Ammil Faqih ( Hadrulmaut) bin Muhammad Shohib Mirbat Ali Kholi' Qosam bin Alawi atsani bin Muhammad Shohibus Saumi'ah bin Alawi Awwal bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa ArRumi bin Muhammad an Naqib bin Ali 'Uraidhi bin Ja'far as Shodiq bin Muhammad al Baqir bin Ali Zaenal Abidin bin Husein As-Sibth bin Ali bin Abi Thalib wa Fathimah Az-Zahra Ra binti Sayyidina wa Maulana Rasulullah Muhammad SAW.


Menurut versi lain (yang lebih shahih), yakni menurut ketua Naqobah kesultanan Banten (Zein Sempur Al bakri). KH Said Aqil Siraj adalah keturunan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon) melalui jalur nasab Kraton Gebang Ilir Kuningan Cirebon.. bukan melalui jalur sultan Banten seperti yang banyak beredar di dunia maya. Nasab KH Said Aqil Siraj yg benar adalah sbb:

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatul Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan Al Husein bin
• Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
• Sayyid ‘Umdatuddin Abdullah Al-Khan bin
• Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan
• Pangeran Pasarean @ Pangeran Muhammad Tajul Arifin
• Pangeran Dipati Anom @ Pangeran Suwarga @ Pangeran Dalem Arya Cirebon
• Pangeran Wirasutajaya ( Adik Kadung Panembahan Ratu )
• Pangeran Sutajaya Sedo Ing Demung
• Pangeran Nata Manggala
• Pangeran Dalem Anom @ Pangeran Sutajaya ingkang Sedo ing Tambak
• Pangeran Kebon Agung @ Pangeran Sutajaya V
• Pangeran Senopati @ Pangeran Bagus
• Pangeran Punjul @ Raden Bagus @ Pangeran Penghulu Kasepuhan
• Raden Ali
• Raden Muriddin
• KH Raden Nuruddin
• KH Murtasim ( Kakak dari KH Muta’ad leluhur pesantren Benda Kerep & Buntet )
• KH Said ( Pendiri Pesantren Gedongan )
• KH Siraj
• KH Aqil
• KH Said Aqil Siraj ( Ketua PBNU )

Nah, terlepas dari perbedaan versi di atas, tapi jelas kan, bahwa garis nasab beliau ini sambung hingga ke Rasulullah saw. Bahkan, Kiai Sa'id juga keturunan para wali dan ulama top. Namun, seperti kebanyakan kiai dan ulama NU, banyak yang namanya tidak diberi "Habib". Bagi warga NU, guru harus dihormati, entah dia habib atau bukan, bergelar akademik tinggi atau tidak, setiap guru harus dihormati. Inilah akhlaq.

Jika di antara guru, kiai, gus, habib, ustadz terjadi ikhtilaf, warga NU yang awam mesti bersikap "mauquf" alias mendiamkan. Mereka paham bahwa dibalik ikhtilaf mesti ada rahmat. Nah, rahmat inilah yang perlu dipetik hikmahnya. Paham kan?

Kalau belum, saya beri ilustrasi. Jika ada supir truk bertengkar dengan supir truk tentang mesin truk, maka tukang becak yang masih unyu-unyu, masih belajar bersurban dan bisanya teriak "Takbir", apalagi masih muallaf, maka lebih baik ngak usah ikut-ikutan!!! Apalagi, bergaya "keutem" (bahasa Ngalam) dan toro' bunte' (bahasa Arudam) ikut menghujat dan mensigma sesat, kafir, liberal, pro-asing, dls.

Jadi, mending belajar lagi dan banyak baca. Jika ada berita negatif, biasakan segera tabayyun (klarifikasi). Jangan lupa, check and recheck terus supaya tidak termakan hoax. Perlu diketahui, dari dulu Ketua PBNU terus digoyang dan difitnah, baik dari dalam maupun luar NU. Dulu Gus Dur, sekarang Kiai Sa'id. Tapi ingat, itu semua tidak menyurutkan warga Nahdliyyin dalam menghormati para ulama.

Akhlaq dan keyakinan warga NU ini demi menjaga keutuhan hidup berbangsa dan bernegara. Jadi, demi kepentingan yang lebih urgen, lebih besar dan lebih mulia. Bukan atas dasar nafsu dan kepentingan politik sesaat, apalagi untuk gagah-gagahan. Paham? Kalau masih belum, ya gak papa, la wong NU-nya masih perlu garisan supaya lurus. Atau, kalau belum ngerti ya mungkin karena terlalu lama di bumi datar. Sekali-sekali lihatlah lambang NU yang ada bumi bulatnya, hehehe...

Salam Satu Jiwa