Advertisement

19 November 2016

Resensi Buku Sepatu Dahlan

 

Judul                   :Sepatu Dahlan
Penulis                :Khrisna Pabichara
Penerbit              :Noura books ( PT Mizan Publika )
Ketebalan Buku :392 hlm
Panjang               :21 cm
Tahun Terbit      :Mei 2012
Dalam setiap buku , novel dan lainnya terdapat resensi yang berisi tentang keunggulan dan kelemahan suatu buku. Adapun resensi novel “Sepatu Dahlan” yaitu :
Karir Khrisna Pabichara sebagai penulis telah banyak melahirkan kumpulan cerita pendek, mengawini ibu: Senarai kisah yang menggetarkan (Kayla pustaka, 2010). Dan novel sepatu dahlan adalah buku ke-14 yang dianggitnya. Selain menulis Khrisna Pabichara juga bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam berbagai kegiatan literasi. Dia bisa disapa dan diajak berbincang berbagai hal, terutama pernak-pernik #bahasaindonesia, lewat akun twitter-nya: @1bichara.
Novel sepatu dahlan ini merupakan novel new release yang mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat. Ddengan begitu novel sepatu dahlan ini menjadi novel best seller di gramedia seluruh Indonesia.
Alur cerita Sepatu Dahlan cukup sederhana. Dahlan Iskan< remaja kebon dalem . Sebuah kampong kecil dengan enam buah rumah atau sebut saja gubuk, yang letaknya saling berjauhan. Jika berjalan seratus atau dua ratus langkah ke arah timur, sungai kanal segera terlihat. Di sepanjang sungai itu banyak pepohonan yang besar-besar, seperti trembesi, angsana, jawi dan jati. Di sebelah barat dan selatan hanya ada tebu. Ya, lading-ladang tebu terhampar sejauh mata memandang. Ada juga beberapa petak sawah yang ditanami padi atau jagung, tetapi tak seberapa dibanding tebu-tebu yang tingginya kini sudah nyaris dua
setengah meter. Disanalah, di lading-ladang tebu itu, aku mengais rezeki. Dan dari sanalah kehidupan Dahlan Iskan berlangsung.
Cerita ini diawali dengan keadaan yang kritis karena ia terkena penyakit liver akut. Pada saat di bius beliau bermimpi akan masa lalunya. Dahlan Iskan merupakan anak kecil yang bersekolah di sekolah rakyat takeran bersama teman[teman dekatnya Arif, Imran, Komaryah, Maryati, kadir. Ketika duduk di sekolah rakyat Dahlan tidak pernah merasakn bagaimana rasanya menggunkan sepatu. Ia berangkat ke sekolah dengan tidak menggunakan alas apapun, padahal Dahlan harus berjalan berkilo-kilo meter untuk sampai ke sekolahnya. Tapi Dahlan tidak pernah mengeluh akan keadaan yang dialaminya.
Ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinngi dahlan memohon kepada bapaknya untuk berekolah di sekolah yang di inginkannya, yaitu SMP 1 Magetan. Tapi karena tidak ada uang akhirnya dahlan melanjutkan ke tsanawiyah Takeran.
Dalam novel ini terdapat beberapa masalah yang ckup rumit untyuk di jalani seorang anak remaja. Dari mulai di tinggal pergi oleh ibunya, tidak dapat membeli makanan untuk makanan sehari-hari dan terpaksa mencuri tebu. Masalah-masalah it uterus datang menghampirinya.
Dahlan mempunyai mimpi untukmemiliki sepatu dan sepeda agar mempermudahnya untuk pergi kemana-mana. Impiannya itu dia dapatkan ketika satu per satu prestasi yang dapat ia dapatkan. Dia mendapat kesempatan untuk mengajar voli kepada anak-anak juragan kaya. Dan penghasilan darisana a gunakan untuk membeli sepatu dan sepeda. Sampai akhirnya ia tumbuh dewasa dan jatuh cinta kepada Aisha anak sorang mandor di kampungnya.
Pada segi lain, novel ini berhasil melontarkan sesuatu yang patut direnugnkan oleh pembacanya. Di samping itu, ceritanya cukup enak untuk dinikmati. Tanpa banyak tutur, Dahlan iskan berhasil melukiskan adegan demi adegan dengan gaya ceritanya yang lembut.
Setting ceitanya sendiri memang kehidupan di kampong maka tidak mengherankan apabila sering muncul  gurauan-gurauan dan humor versi anak-anak kampung kebon dalem.
Novel “Sepatu Dahlan” ini telah dikerjakan dengan keterampilan teknik bercerita, dengan gaya bahasanya yang lembut, serta dengan perasaan halus seorang lelaki.
Pada akhirnya disebutkan bahwa apabila kita menjalani kemiskinan dengan benar, kita akan mendapatkan pelajaran yang sangat berharga.

18 November 2016

Cara Merusak NU

 
Umpama sepakbola, NU seakan menjadi satu-satunya tim catenaccio ala Italia yang menerapkan pertahanan total dengan sesekali mengandalkan serangan balik. Demikian posisi NU dalam mempertahankan wajah Islam Indonesia yang secara akidah tetap berlandaskan Ahlussunnah Wal Jamaah dan berwawasan kebangsaan.

Hanya NU yang mampu mengakomodasi nilai-nilai budaya Indonesia yang majemuk dan menampilkan akhlak mulia. NU juga yang kali pertama menerima Pancasila sebagai dasar negara sehingga NKRI merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karenanya, NU setia dan siap mengawal NKRI dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kini, seiring dengan Arab Spring dan kekacauan di negara-negara muslim akibat mudahnya diadu-domba atasnama agama, madzhab, sekte, ras, dan sebagainya, NU menampilkan Islam Nusantara untuk peradaban dunia. NU menawarkan model keberagamaan yang moderat, toleran dengan tetap mengedepankan persatuan di antara semua elemen bangsa di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.

Konsep NU ini tampaknya mulai digoyah oleh berbagai kelompok yang tidak menginginkan Indonesia bangkit untuk mengejar ketinggalan. Kelompok dengan berbagai motif dan kepentingan itu tampaknya sadar betul, bahwa untuk menghancurkan Indonesia menjadi berkeping-keping, satu-satunya cara adalah merusak NU terlebih dulu. Sebab, NU adalah pagar baja NKRI, pertahanan terakhir berbasis ormas Islam yang menurut mereka, harus dipecah-belah.

Lalu, bagaimana caranya? Tentu yang pertama adalah membunuh karakter para ulama dan kiai NU, terutama di tubuh PBNU sebagai striker. Para kiai dan ulama sepuh yang kredibilitas keilmuannya tidak perlu diragukan lagi, justru oleh mereka di-stigma dengan berbagai cap negatif. Ada yang dilabeli liberal, syiah, sesat, melenceng dari Aswaja, munafik, dan banyak lagi. Apapun alasan dan analisisnya, jelas stigma ini bertujuan membunuh karakter para ulama dan kiai NU. Dengan begitu, sedikit demi sedikit, santri dan umat tidak lagi respek terhadap NU.

Cara kedua adalah memecah NU menjadi beberapa bagian. Cara ini memang butuh waktu lama, tapi mereka punya taktik jitu dengan mencatut nama NU, lalu muncul NU Garis Lurus, Aswaja Garis Lurus, NU Asli, dan banyak lagi yang ada embel-embel NU. Mereka tahu, jika tanpa mencatut nama NU, pasti tidak laku di pasaran. Pasalnya, mereka tidak punya umat kecuali "menunggangi" warga Nahdliyyin.

Cara ketiga adalah doktrinisasi Islam radikal dan ekstrim. Dengan alasan memurnikan ajaran Aswaja dan mengembalikan NU kepada khittoh, mereka menanamkan ajaran intoleran. Ada pesan politik dalam doktrin tersebut sehingga emosi umat terus diaduk-aduk agar tidak puas terhadap NU. Taktik ini mereka harapkan agar suatu saat NU bergerak melawan Pemerintah, TNI dan Polri. Dengan begitu, kekuatan NU dan NKRI makin terkikis yang pada akhirnya, Indonesia akan pecah berkeping-keping.

Cara terakhir, mereka tahu bahwa di mata Internasional, NU adalah representatif umat Islam Indonesia. Oleh karenanya, mereka menampilkan Islam Keras, memuja para teroris, mendukung aksi terorisme sebagai jihad dan menanamkan sikap intoleran, lalu kemudian dipublikasikan secara luas. Dengan image buruk ini, secara tidak langsung, citra NU turut tercoreng.


Selain cara-cara di atas, masih ada 1001 taktik untuk melemahkan NU dan NKRI yang langkah awalnya adalah mengganggu stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga energi NU akan habis untuk mengatasi taktik licik mereka.