1 Juli 2013

Lama Tak Menulis

 


Hampir tiap hari, jika tak menulis artikel, serasa ada yang kurang, seperti harus melunasi hutang. Yah, hampir 6 bulan terakhir, tepatnya sejak akhir Januari 2013 hingga kini, Juli 2013, saya tidak meng-upload tulisan di catatan facebook.

Beberapa teman ada yang meng-inbox dan bertanya tentang tulisan terbaru saya. Rupanya, ada pula yang menunggu goretan tanganku yang sebenarnya masih dalam tahap belajar untuk menulis. Atas apresiasi teman-teman itu, saya sampaikan terima kasih.

Maaf, sepeninggal nenekku tercinta, gairah untuk menulis artikel seperti ikut sirna. Beliau laksana azimat dan ruh dalam setiap langkahku menapaki tangga-tangga kehidupan menuju puncak. Kini, setelah kepergiannya, rasa kehilangan ini seakan masih tetap membekas, meski saya terus menampakkan diri seolah-olah dapat melupakannya.

Kini, saya kembali tersadarkan, bahwa sebenarnya, menulis juga laksana ruh. Ia adalah spirit agar kita bisa eksis. "Dengan menulis, saya ada", begitulah kira-kira kalimat yang pas untuk mengekspresikan pentingnya menulis. Bahkan, untuk bisa menjadi "abadi", salah satu kuncinya adalah menulis dan mewariskan karya untuk generasi mendatang.

Walaupun lama tidak menulis dalam bentuk artikel yang biasa saya upload ke media jejaring sosial, namun, alhamdulillah, dalam tahun ini, sejak Januari 2013, beberapa buku telah selesai saya tulis. Pertama, buku biografi Menteri Agama RI, Dr. H. Suryadharma Ali yang saya beri judul "Sang Nakhoda". Buku terbitan Pebruari 2013 ini tergolong spesial. Sebab, saya menulisnya dalam 7 hari 7 malam dan telah diterbitkan UIN Maliki Press, Malang.

Berikutnya, sebuah kamus spesialis, yakni, "Kamus Kedokteran, Indonesia-Arab Arab-Indonesia". Kamus Arab model baru ini hanya memuat sekitar 10.000 istilah ilmiah populer di bidang kedokteran. Fakultas Kedokteran, Jurusan Farmasi, Akademi Keperawatan hingga dunia pendidikan dan ketenagakerjaan untuk Timur Tengah, saya kira akan sangat membutuhkannya sebagai media bantu memahami istilah medis. Kini, kamus tersebut juga sedang proses penerbitan di Yogyakarta.

Setelah itu, beberapa buku saku tentang Khutbah Jumat yang merupakan kumpulan khutbah saya selama ini, sebagiannya juga telah selesai. Rencananya buku-buku khutbah ini akan dicetak secara serial sesuai dengan tema, even dan waktu. Ada sekitar 10 buku dan tiap buku berisi 10 judul khutbah. Hanya saja, untuk buku serial khutbah ini sengaja tidak akan saya terbitkan atau saya perjual-belikan. Sebab, materi khutbah tersebut hanyalah koleksi pribadi untuk kalangan sendiri.

Selain itu, ada beberapa buku lagi yang rencananya juga akan saya selesaikan di tahun 2013 ini. Karenanya, untuk menulis sebuah artikel seperti kehabisan energi. Sebab, "peluru" yang saya miliki, sementara saya fokuskan untuk penulisan buku.

Satu hal lagi yang amat sangat menguras energi, yakni menyelesaikan disertasi. Sejatinya, proses riset yang meliputi kajian pendahuluan, pengambilan data baik dari pustaka maupun lapangan, serta buku-buku referensi, semuanya telah mencukupi. Yang tersisa adalah proses analisis data dan penulisan laporan penelitian. Namun, sekali lagi, tugas akhir perkuliahan baik itu skripsi, tesis atau disertasi, saya akui sangat berbeda. Ada banyak faktor dan kendala yang tanpa disadari, nyatanya memang menghambat penyelesaian disertasi saya.

Entah mengapa hal itu sering menimpa mahasiswa tingkat akhir? Untuk meraih gelar sarjana, magister apalagi doktor, harus diakui, tidak semudah membincang wacana. Selain kesungguhan, kemampuan finansial, intelegensi dan kekayaan inspirasi, untuk menyelesaikan tugas akhir diperlukan sikap ajeg dan istiqamah. Dalam arti, ajeg pikiran untuk tetap fokus dan istiqamah bersabar dalam menyelesaikan tugas utama dengan memanajemen waktu dan tenaga seefektif dan seefisien mungkin.

Lama tak menulis "artikel" adalah bagian dari kelemahan. Lemah bukan berarti tidak mampu. Sebab, setiap kita telah diberi potensi oleh Allah yang apabila dilatih dan dikembangkan, ia akan menjadi power kita. Lemah di sini adalah sifat asasi manusia yang tak luput dari salah dan lupa. Salah karena tidak terus menulis dan lupa karena mengabaikan potensi.

Sesungguhnya, menulis adalah proses menuangkan ide dan pikiran. Ide inilah yang mahal harganya. Sebuah inspirasi yang kita publikasikan, tidak lantas membuat kita kering dan kehabisan akal. Justru inspirasi itu akan terus melahirkan inspirasi baru. Inilah ilham. Mensyukuri ilham adalah dengan menulis. Maka, dengan menulis pula ilham itu akan terus ada dan berkembang pesat.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar