Iklan

8 September 2011

Menyaksikan Allah

 


Pada suatu malam, Rasulullah saw bersama para sahabatnya sedang duduk-duduk. Tiba-tiba, beliau saw bersabda, "Sesungguhnya kalian akan melihat Allah seperti halnya kalian melihat bulan purnama yang tidak terhalang dalam melihatnya. Jika kalian sanggup, maka janganlah menyerah dalam melakukan salat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari" (HR Bukhari-Muslim).

Hadis ini merupakan kabar gembira bagi kita sebagai umat Nabi dan makhluk Allah swt. Bahwa sebenarnya, Allah itu bisa disaksikan, dilihat, lalu diimani dan diyakini keberadaan-Nya dan segala kekuasaan-Nya.

Menurut sebagian ulama, analogi "melihat bulan purnama" bukan berarti melihat bulan. Apa yang kita lihat sebagai bulan di saat purnama, sebenarnya itu bukanlah bulan, tapi hanya cahaya. Bulan yang sebenarnya, tidak atau belum kita saksikan.

Namun, benarkah pendapat itu. Wallahu A'lam. Sebab, bisa jadi analogi "melihat Allah laksana melihat bulan purnama di malam hari" justru menunjukkan kemudahan bagi kita dalam menyaksikan Allah sebagaimana kita menyaksikan bulan purnama. Begitu terang, begitu utuh, begitu jelas dan mudah untuk disaksikan dan dinikmati. Apalagi, dalam hadis tersebut tidak dijelaskan kapan kita bisa menyaksikan Allah; apakah semasa masih hidup atau setelah mati? Saat kita di dunia atau kelak di akhirat?

Artinya, sangat boleh jadi dan bahkan sudah seharusnya, kita bisa menyaksikan Allah sejak kita bersaksi "Tiada tuhan selain Allah". Bagaimana mungkin kita bersaksi bahwa hanya Dialah Tuhan bila kita tidak atau belum melihat dan menyaksikan-Nya dengan segala perangkat yang diberikan Allah kepada kita, mulai dari akal pikiran, indera, insting, alam di sekitar kita dan sebagainya.

Jelas, penciptaan kita dan alam semesta ini merupakan tanda akan kekuasaan dan wujud Allah swt. Tentu saja, pernyataan dan kesaksian seseorang dalam menyadari keberadaan Allah, berbeda-beda. Ada yang cukup dengan disebutkan nama Allah, lalu hatinya bergetar. Ada pula dengan mendengar ayat-ayat-Nya dibacakan, sebagaimana Umar bin Khattab mendengar adiknya membaca al-Quran, hatinya telah luluh dan memperoleh hidayah Allah. Ada pula yang sampai melihat mukjizat Nabi, baru ia bersaksi akan keesaan Allah swt.

Selalu merasakan kehadiran Allah dekat dengan kita dan menyaksikan-Nya dalam setiap langkah kita, adalah bagian dari ihsan. Dan, ihsan itulah yang seharusnya terus diperjuangkan seseorang sebagaimana ia memperjuangkan dan mempertahankan islam dan imannya.

Selama ini, telah banyak hijab yang menjadi tabir penghalang bagi kita untuk selalu bisa menyaksikan Allah, melihat kekuasaan-Nya dan menyebut asma-Nya. Kita telah sering diberi pelajaran bahwa Allah itu jauh ada di atas sana, bahwa Allah itu tidak bisa dilihat karena gaib, bahwa Allah itu hanya bertugas mengawasi amal kita dan kelak akan menyiksa kita bila kita melanggar perintahnya.

Sesungguhnya pelajaran itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Kita harus memberi pelajaran yang bernuansa "hidayah" untuk menunjukkan Allah dan segala kebesaran serta kemurahan-Nya. Sesungguhnya Allah dekat, Dia Maha Kasih dan Sayang, Dia itu Pemurah. Jika kita mendekat kepadanya dengan cara berjalan, Dia akan mendekati kita dengan berlari. Jika kita memohon ampunan atau beristighfar, Dia segera menyambut istighfar kita.

Sebenarnya, apa saja yang kita butuhkan telah dipenuhi-Nya, sebab Dia Maha Adil dan tidak pernah sedikitpun mendzalimi hamba-Nya. Perasaan kita yang serba kurang dan hidup yang kita rasakan sempit, hanya karena kita sering melupakan-Nya. Bila kita melihat kemurahan-Nya, pemberian-Nya, keagungan dan kebesaran-Nya, maka hati kita pun akan damai. Di saat kita merasa terus bersama-Nya dan Dia pun kita rasakan dekat dan bahkan sering kita saksikan, maka sesungguhnya inilah persaksian yang hakiki yang didalamnya ada surga dan kenikmatan tiada tara.

Persaksian itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mengenal dirinya. Sebab, siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya ia telah mengenal Tuhannya. Yang terus mengenal dan rela bahwa Allah sebagai tuhannya, maka tidak akan ada lagi hijab antara dirinya dengan Dia, Allah swt.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar