Iklan

9 Desember 2011

Sekolah Tanpa PR

 

PR atau Pekerjaan Rumah dari sekolah, kerapkali membuat orang tua kelabakan. Ibu-ibu yang dahulu pernah mengeyam bangku pendidikan hingga tinggi, barangkali tidak masalah untuk mengajari putra-putrinya mengerjakan PR, tapi tidak bagi ibu yang keilmuannya minim atau yang full sibuk bekerja.

Orang tua yang tidak memahami pelajaran SD, pasti kesulitan membantu anaknya mengerjakan PR. Apalagi, bagi orang tua yang seharian bekerja, jelas PR adalah momok yang mengkhawatirkan. Inilah kendala yang kenyataannya dihadapi orang tua murid. Apalagi, pelajaran SD dinilai lebih sulit daripada yang dulu mereka terima. PR demi PR setiap hari selalu ada sehingga menjadi beban bagi orang tua.

Salahkah guru memberi PR? Jelas tidak! Soal-soal yang harus dikerjakan siswa di rumah adalah berfungsi untuk menambah frekuensi belajar siswa, sekaligus juga bertujuan untuk melibatkan orang tua supaya memiliki rasa tanggung jawab terhadap prestasi belajar putra-putri mereka. Oleh sebab itu, PR tetap penting sebagai bahan evaluasi dan alat komunikasi antara pihak orang tua dan guru.

Hanya masalahnya, yang terjadi bukan demikian. Orang tua yang "kurang" bertanggung jawab, merasa tidak mampu, terlalu sibuk dan menginginkan keberhasilan instant, lalu mengikut sertakan putra-putrinya dalam les, kursus atau lembaga bantuan belajar.

Bagi orang tua yang secara ekonomis tergolong mampu, boleh jadi tidak masalah membayar biaya les yang ternyata lebih mahal dari SPP sekolah yang gratis karena ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun, bagi orang tua yang tidak mampu, hal ini justru menjadi beban berat. Di satu sisi, ia harus bertanggung jawab terhadap PR anaknya, tapi di sisi lain ia terkendala masalah biaya. Sangat dilematis!!

Memang, beberapa sekolah maju yang menerapkan "Full Day School" sudah tidak membebani orang tua dengan PR anaknya. Semua pelajaran habis dikaji di waktu sekolah. Akan tetapi, sekolah semacam ini biayanya mahal sehingga hanya terjangkau oleh beberapa gelintir masyarakat. Sementara itu, SD kelas menengah ke bawah yang ada di perkampungan dengan waktu sekolah yang normal, mau tidak mau perlu memberi PR. Inilah yang memberatkan orang tua.

Terlepas dari posisi PR sebagai alat komunikasi antara guru, orang tua dan siswa, kenyataannya, keberadaan PR yang bertubi-tubi sangat dirasa berat di mata para orang tua siswa. Mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik, apalagi juga disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari, maka PR dari sekolah dan rengekan anak-anaknya merupakan beban berat.

Karena itu, sering muncul pertanyaan: apa tidak bisa sekolah tidak memberi PR? Tidak mampukah pihak sekolah menuntaskan pelajaran di waktu sekolah? Sebab, jika harus ada PR dan orang tua murid tidak mampu, maka mereka harus memaksakan diri untuk mengkursuskan putra-putrinya. Artinya, sekali lagi lagi, hal ini akan menambah biaya pendidikan!!

Jadi, kapan sekolah dasar bebas PR sehingga beban orang tua sedikit lebih berkurang?

Visit my web
www.taufiq.net

Tidak ada komentar:
Tulis komentar