Iklan

11 Mei 2012

Ikatan Ruhani Pesantren

 


Membincang masa depan pesantren, tentu tidak bisa lepas dari peran alumni. Sebagai output pendidikan, alumni adalah cerminan dari keberhasilan proses pendidikan di sebuah pesantren, sama juga dengan lembaga pendidikan lainnya.

Seorang alumnus yang lalu berperan aktif dan memberi manfaat di tengah masyarakat, secara tidak langsung, berarti ia juga turut berkontribusi terhadap almamaternya. Sebab, orang lain akan memberi penilaian berhasil terhadap pesantren yang telah mencetak pemimpin umat.

Dalam tataran inilah, maka posisi alumni menjadi sangat penting dalam mengharumkan citra pesantren. Oleh karena itu, sudah seharusnya seorang alumni tidak seperti "kacang yang lupa pada kulitnya". Hingga kapanpun, seorang santri akan terikat dengan pesantren.

Ikatan inilah yang disebut "shilah ruhiyah" atau ikatan ruhani antara santri dan kiai yang boleh jadi sulit ditemukan di lembaga pendidikan selain pesantren. Sebagai sub-kultur, pesantren menciptakan tradisi sendiri, khas santri. Kebiasaan cium tangan kiai, berharap berkah, mencari ridho, dan sebagainya adalah kultur khas pesantren.

Semua karakteristik ini terjalin berkat "shilah ruhiyah" yang dibangun oleh atmosfer pesantren. Hubungan antara kiai dan santri bukanlah "shilah tijariyah" atau koneksi yang sifatnya transaksional. Sebab, hubungan semacam ini lekas rapuh, tidak langgeng dan akan berakhir bila masing-masing pihak telah puas dan memperoleh keinginannya.

Di dalam lembaga pendidikan formal, meski tidak semuanya, hubungan antara guru dan siswa lebih bersifat transaksional. Entah kenapa justru koneksi tijariyah yang terlembaga. Apakah karena di sekolah formal ada SPP? Saya kira tidak juga. Sebab, di pesantren juga ada biaya syahriyah, bahkan ada juga yang angkanya lebih mahal daripada sekolah formal.

Tentu, jawaban sementara yang bisa ditemukan adalah bahwa aspek spiritual lebih banyak dikedepankan daripada sekedar proses pembelajaran. Di pesantren, tidak sekedar ta'lim atau transfer ilmu pengetahuan, juga tidak sebatas tadriis atau proses pembelajaran semata. Namun, lebih daripada itu, ada hakikat "tarbiyah". Apa itu?

Berakar dari kata "Rabb" yang bermakna "Tuhan", maka puncak tarbiyah atau pendidikan yang dikembangkan pesantren adalah bagaimana santri bisa mengenal Tuhannya, mencintai dan menyembah-Nya secara tulus dan ikhlas. Dalam perspektif inilah, maka pola-pola pendidikan yang dikembangkan pesantren sangat unik dan khas, beda dengan lainnya.

Di pesantren, santri digembleng untuk hidup mandiri, jujur, menghormati guru dan yang tak kalah pentingnya, santri diarahkan untuk memuliakan ilmu yang mereka pelajari. Nah, dalam rangka memuliakan ilmu itu, ternyata spektrumnya sangat luas. Tidak sekedar memuliakan kiai saja, tapi juga putra-putri dan keluarga ndalem, memuliakan pesantren dan semua hal yang ada di dalamnya, menghormati kitab kuning beserta muallifnya, dan banyak lagi.

Oleh karena itu, motto yang sering dibacakan adalah firman Allah yang artinya, "Allah akan mengangkat derajat (baca: memuliakan) kaum beriman dan orang-orang yang diberi ilmu". Ayat ini, secara implisit mengajarkan bagaimana seorang penuntut ilmu atau santri juga harus menghormati ilmu, memuliakan orang yang berilmu dan segala hal yang terkait dengan ilmu.

Sikap memuliakan ilmu yang dikembangkan pesantren dan itu dikemas dalam hubungan yang bersifat ruhaniyah, bukan tijariyah, adalah tradisi unik ala pesantren yang harus tetap dilestarikan hingga kapanpun juga, meski dinamika pendidikan modern terus berkembang dan berevolusi.

Jadi, walaupun proyek pesantren masa depan ada di hadapan kita, tapi tarbiyah dan shilah ruhiyah harus tetap dipegang teguh. Sebab, inilah sesungguhnya santri maupun alumni dalam melangkah menuju masa depan pendidikan Islam yang akarnya tetap menghunjam tajam di bumi, namun rantingnya terus melambung tinggi hingga ke angkasa raya.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar