Iklan

21 September 2016

Aku Memilih UIN Malang

 


Tak lama setelah merayakan kelulusanku dari MA al-Maarif Singosari Malang, kembali aku dihadapkan pada dua pilihan antara menetap di pesantren sebagai santri atau melanjutkan studiku ke bangku kuliah. Jika pilihan pertama yang kutempuh, itu artinya, aku harus menunda atau bahkan mengubur impianku menjadi sarjana untuk selama-lamanya. Namun, jika aku menentukan pilihan kedua, maka kesempatan emas untuk berkhidmat kepada kiai di pesantren, harus aku kesampingkan. Lalu, apa yang harus aku lakukan?
Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab untuk remaja seusiaku yang masih mencari jati diri dan berharap meraih cita-cita yang sebenarnya masih belum aku ketahui, entah menjadi apa aku kelak? Hatiku terus merasa gundah dan pikiranku tidak tenang. Hingga suatu hari, aku bertemu salah seorang sahabat karibku yang sebentar lagi akan diwisuda dan berhak atas gelar sarjana. Ia bercerita panjang lebar tentang almamater yang telah membesarkan dirinya. Dari raut wajahnya, ia tampak optimis menatap masa depan dengan semua bekal ilmu dan pengetahuan yang telah ia peroleh dari masa perkuliahan selama 4 tahun.
Dari sahabatku itu, aku mengenal UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebuah kampus yang memadukan antara kehidupan intelektual ala perguruan tinggi dan tradisi pesantren. Kampus yang tidak hanya membekali keluasan ilmu, tapi juga kedalaman spritual, keagungan akhlak dan kematangan profesionalisme.
Akhirnya, dengan mantap aku memilih kuliah. Akan tetapi, keputusanku ini belum final. Sebab, aku harus menyampaikannya kepada orang tuaku dan juga kepada kiai yang selama ini telah mendidik jiwaku. Ketika aku bercerita tentang UIN Malang, aku melihat kedua mata orang tuaku berkaca-kaca. Mereka bahagia dan bangga melihat tekad besarku yang ingin menuntut ilmu agama sekaligus ilmu umum. Namun demikian, orang tuaku menyatakan setuju, asalkan kiai juga setuju. Mereka pasrah terhadap apapun yang menjadi keputusan kiai.
Tanpa menunda waktu lagi, aku pun segera menghadap kiai. Di depan beliau, aku bersimpuh dan menghaturkan maksud kedatanganku. Mendengar penuturanku, kiai langsung berkata, “Jika kamu kuliah ke UIN Malang, aku rela. Sebab, di sana kamu tidak hanya menjadi mahasiswa, tapi juga mahasantri”.
Kalimat sang kiai ini bagaikan mutiara yang tak ternilai harganya. Itu artinya, beliau rela jika aku boyong dari pesantren dan melanjutkan studi ke UIN Malang yang konon telah mencetak ribuan ulama yang intelek dan intelektual yang ulama. Bagiku, tidak ada yang lebih menggembirakan melebihi persetujuan orang tua dan ridha kiai.
Pada akhirnya, aku memahami, bahwa ternyata UIN Maulana Malik Ibrahim Malang adalah sebuah jawaban dari kegundahanku selama ini, sekaligus jawaban untuk masa depanku.
*****
Nama
:
R. Taufiqurrochman
Alamat asal
:
Jln Kebalen Wetan 98 B Kotalama Malang, Jawa Timur
Pesantren
:
PIQ Singosari Malang
Sekolah
:
MA al-Maarif Singosari Malang



Tulisan ini adalah contoh penulisan esai bebas
Teks lengkap dan ketentuan tugas, dapat dilihat dan didownload di bawah ini

Tidak ada komentar:
Tulis komentar