Iklan

6 April 2017

Sepakbola Bersyariah

 

Rupanya, kata "Bersyariah" kembali ngtrend, viral dan laris manis. Mulai dari Bank Syariah, Ponsel Syariah, Jilbab Syar'i, Mall Syariah, Klub Malam Bersyariah sampai roti dan sabun. Bagi pebisnis, label ini merupakan pasar potensial. Karenanya, perlu aji mumpung supaya tidak kehilangan momen. Nah, bagaimana kalau Sepakbola juga Bersyariah? Ini yang menarik. Mungkinkah?

Mestinya bisa. Asal, semua pihak siap "baiat" secara ikhlas untuk jihad memperjuangkan sepakbola secara kaffah. Sepakbola Bersyariah adalah solusi untuk mengatasi rendahnya prestasi olahraga paling populer se jagat raya ini. Untuk melawan raksasa bola dan menembus World Cup, kuncinya cuma satu, Khilafah! Bagaimana teknisnya?

Pertama, liga dan klub harus diubah namanya. Misalnya, Liga Indonesia Bersyariah. Lalu, jabatan Ketua PSSI harus diganti menjadi "Khalifah PSSI". Manajer Klub jadi "Imamul Klub" dan Pelatih (Coach) disebut "Amirul Klub". Kapten kesebelasan, namanya Rois. Intinya, harus ada tajdid bahasa di semua sektor sepakbola.

Nama pemain juga harus diubah. Zainudin jadi Zinedine, Ibrahim jadi Ibrahimovic, Gatot jadi al-Khatthath, Messi jadi al-Masih, Neymar jadi al-Qomar, Buffon jadi Affan, Conte jadi Ente, hehehe... Setiap pemain wajib berjenggot dan memakai cincin, meski terbuat dari besi atau kayu kaukah. Tidak boleh pakai celana pendek, harus panjang dan cingkrang.

Di sesi latihan, pemain tidak hanya latihan menendang bola, tapi juga dibekali dalil-dalil dan nilai akhlaq. Misalnya, tidak boleh menendang bola ke gawang sendiri karena bunuh diri itu balasannya neraka. Pemain haram mencederai lawan. Hukumannya qisos yang setimpal, jadi tidak cukup kartu kuning, merah, apalagi kartu sepakbola pintar plus-plus.

Merayakan gol dengan melepas kaos apalagi celana, jelas haram sebab membuka aurat. Pura-pura jatuh (diving), apalagi di kotak pinalti, disebut pemain munafik. Melawan keputusan wasit, namanya makar. Ada tendangan bebas (free kick) tapi tidak boleh terlalu bebas sebab itu namanya liberal. Oiya, memulai Kick Off tidak boleh dengan undian koin karena tasyabbuh dengan judi, tapi istikharah dulu.

Wasit sebagai pengadil lapangan, keputusannya tidak boleh dibantah kecuali bila bertentangan dengan dalil syar'i. Semua pemain dan official harus husnu-dzan kepada wasit maupun hakim garis. Sebab, mereka itu "Ulil Amri" di lapangan hijau. Langkah untuk mengatasi pelanggaran, pertama, wasit harus memberi "mauidzah hasanah". Bila pemain masih ngotot atau protes, wasit jangan terburu memvonis salah, tapi perlu "tabbayyun", lalu "mujadalah". Beri kesempatan kepada pemain untuk membela diri dengan mengetengahkan hujjah yang shahih.

Bagaimana supporter? Ya, mereka harus diedukasi supaya lebih syar'i. Korlap supporter disebut "musyrif". Lagu-lagu heroik sebaiknya digubah menjadi qasidah. Dilarang menari dan bergoyang kecuali gerakan javin atau samar. Dilarang membawa alat-alat musik seperti gitar, piano, terompet, kecuali rebana dan fentung. Bawa slayer, spanduk, bendera juga boleh, tapi akan lebih sopan jika bersurban.

Klub, kaos, sepatu, bola, hingga rumput harus berlabel "halalan thayyiban". Klub bisa ikut liga, jika sudah mendapat sertifikat sah dari FIFA dan fatwa MKQ (Majelis Kurotil Qodam). Pengajuan sertifikat ini harus dikawal, bila perlu didukung aksi turun jalan supaya legalitasnya diakui dan terakreditasi "halal-surgawi".

Gaya dan filosofi Sepakbola Bersyariah juga beda. Kalau Brasil ala "Samba" atau "Jogo Bonito", Argentina punya "Tango", Inggris dikenal dengan "Kick and Rush", Italia mengandalkan "Cattenacio" alias Pertahanan Grendel, lalu Belanda punya "Total Football", maka di bumi datar, gaya dan filosofinya bernama "Soccer Kaffah".

Itulah sedikit ilusi sepakbola bersyariah ala khilafah. Kalau sudah paham, ambil sana sepedanya, hehehe....

Tidak ada komentar:
Tulis komentar