Iklan

8 Januari 2018

UJIAN AKHIR DI MENIT AKHIR

 

Jelang semester baru adalah musim mahasiswa mendaftar ujian akhir, entah proposal skripsi, skripsi, bahkan tesis dan disertasi. Entah kenapa? Sependek pengetahuan dan pengalaman saya, antrian daftar ujian karena faktor ekonomi, hehe...

Kok bisa? Ya iyalah, jika sampai semester baru tiba dan belum juga mendaftar ujian skripsi, itu artinya harus ikut semester depan. Berar
ti, wajib bayar SPP lagi. Nah, agar terhindar dari 'musibah' ini, mau tidak mau, bisa tidak bisa, terpaksa proposal dan laporan riset harus selesai. Apapun caranya!

Yang penting, iktiyar, nekat, banyak berdoa, lalu tawakkal. Perkara isi proposal dan hasil penelitian, semua serahkan pada 'yang di atas', hm.. enak bangets ya, hehe...

Akibat kebut-kebutan dan kejar-kejaran dengan deadline waktu pembayaran SPP, ajaibnya proposal dan laporan riset pun bisa selesai. Bila perlu, pihak kampus dan dosen pembimbing terus 'diteror' agar mau tanda tangan. Dengan rahmat Allah, semua berjalan sesuai rencana dan siap maju untuk ujian. Alhamdulillah.

Begitulah sebagian pengalaman dan fenomena mahasiswa di tingkat akhir. Ayo, ngaku aja! Hehe... Menurut psikolog, keadaan tertekan dan stress seringkali membuat seseorang justru naik adrenalinnya sehingga di saat terjepit itu justru muncul banyak solusi. Bahasa agamanya, "Bersama satu kesulitan, ada dua kemudahan".

Justifikasi ini ada benarnya. Namun, jika ditelusuri lebih mendetail, ternyata proposal dan laporan riset hasil kebut-kebutan ala Valentino Rossi itu berimplikasi pada kualitas riset. Judul keren yang diinginkan mahasiswa idealis, akhirnya berubah menjadi tema asal-asalan. Hal yang bukan menjadi masalah, direkayasa menjadi masalah sehingga rumusannya membingungkan.

Karena rumusan tidak berangkat dari fenomena yang benar-benar menjadi akar masalah, maka tujuan, manfaat, hipotesis dan seterusnya juga masih ngambang kayak jomblo yang kehilangan arah dan tujuan. Padahal, sebuah fenomena bisa menjadi masalah selalu berdasarkan analisis mendalam setelah peneliti melakukan "GAP Analysis" sehingga ia menemukan adanya 'gap' antara realitas 'yang ada' dan realitas ideal 'yang seharusnya ada' berdasarkan teori-teori yang sudah dibaca dan dikuasai peneliti.

Itulah pentingnya kajian teori di Bab II yang semestinya dibangun oleh peneliti sendiri, bukan hasil copy-paste dari laporan riset orang lain hanya karena tema dan judulnya mirip-mirip antara si dia dan Fakhri, hehehe....

Intinya, kalau banyak baca dan sensitif dengan fenomena, akan menemukan banyak masalah yang perlu dirumuskan. Dari situ, muncul ide dan judul penelitian yang ideal seperti yang diharapkan peneliti sehingga hasratnya makin kuat untuk menuntaskan masalah tersebut dalam bentuk tulisan akademik. Syaratnya sederhana, segera laksanakan dan tidak perlu ditunda-tunda.

Jika syarat sederhana ini diabaikan, pada akhirnya akan terjepit oleh keadaan sehingga tema dan judul yang dipilih hanya berdasarkan motif tergesa-gesa, yang itu biasanya, sudah menyimpang dari rencana ideal yang pernah diinginkan. Jika ini pilihannya, maka langkah selanjutnya juga seadanya, sebisanya dan sejadi-jadinya, yang penting selesai. Toh, skripsi yang baik adalah yang selesai, hehe....

Keadaannya mirip jomblo yang pingin nikah. Awalnya idealis, pilih-pilih, sesuai rumusan dan tujuan. Tapi, karena terjepit keadaan, maka seadanya, sebisanya, dan secepatnya, yang penting nikah. Toh, jomblo yang sukses adalah yang berhasil nikah, hehe...

Tidak ada komentar:
Tulis komentar