19 Mei 2019

Puasa dan Bikhsu

 


Masih teringat, tahun 2013 lalu, usai acara diskusi keagamaan di Thailand, saya bersama Bhiksu Dutavira diminta menikmati aneka hidangan tersaji lengkap. Saya pun agak bingung memilih mana makanan yg "halal", soalnya beragam sekali.

Lalu, Bhiksu Dutavira yg juga biasa dipanggil "Benny" ini mendekati saya dan mengarahkan saya agar memilih daging ayam dan sapi yang terletak di sudut ruangan resto. Rupanya, Sang Bhiksu  mengamati saya.
"Loh, Pak Bhiksu ngak ikut makan?"
"Saya sedang puasa", jawabnya.
"Puasa? Puasa apa?", tanyaku lagi, penasaran.
"Saya puasa tidak makan daging", jawabnya.

Hmm... Ternyata benar, ritual puasa ini sudah "tertulis" dan sudah ada sejak dulu kala sebelum monaslimin tercipta, hehe... Bukan hanya di kalangan muslim, tapi hampir semua agama, keyakinan, sekte, madzhab, memiliki lelaku puasa. Bahkan, dalam tradisi Jawa, kita  mengenal ada puasa mutih, puasa ngerowot, puasa pati geni, dan banyak lagi.

Tidak hanya manusia, binatang pun berpuasa agar "derajat"nya naik kelas, seperti ulat yg berpuasa menjadi kepompong bila ingin berubah wujud kupu-kupu, burung  rajawali di usia 40 tahun harus puasa menyendiri agar bulu dan kukunya  kembali tajam serta panjang umur hingga usia 100 tahun, dan banyak lagi makhluk Allah yang berpuasa. Itu artinya, puasa adalah lelaku yg mesti dijalankan untuk menjaga eksistensi sekaligus naik kelas ke level yg lebih tinggi.

Nah, ketika saya naik pesawat dari Bangkok menuju Hatyai, seorang pramugari menawari saya makan dengan menyajikan 2 bungkus yg saya harus memilih salah satunya: daging atau ayam. Saya pun memilih daging. Eh ternyata, pria yg duduk di sebelah saya melarang dan berkata, "Maaf, pilih itu saja, karena yg ini daging babi".

Saya pun berterima kasih kepadanya yg telah memberi saya "petunjuk" memilih yg benar, sebab saya tadi mengira, itu daging sapi. Rupanya dia tahu, kalau saya muslim yg haram mengkonsumsi daging babi. Meski kemudian, saya hanya minum doang, hehe

Pengalaman ini memberi saya pelajaran indahnya toleransi, saling memahami, sekaligus menegaskan bahwa puasa adalah bagian dari lelaku fitrah makhluk yg harus dijalani, jika ingin tetap eksis dan sempurna.

Selamat Berpuasa.
www.taufiq.net

Tidak ada komentar:
Tulis komentar