Iklan

25 April 2010

Pola Serapan Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia

 


Pendahuluan

Telah banyak usaha yang dilakukan oleh para ilmuwan tentang permasalahan dalam bahasa Indonesia dan hubungannya dengan bahasa Arab. Forum-forum diskusi, seminar, penataran dan bahkan sampai ke tingkat kongres bahasa Indonesia, terlebih lagi setelah bahasa Arab menjadi salah satu bahasa resma PBB mendampingi bahasa Rusia,Cina, Francis dan Spanyol. 

Bahasa Arab dan bahasa Indonesia adalah dua bahasa yang sangat berbeda karena kedua bahasa tersebut memiliki kudrat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan vang paling mendasar adalah perbedaan ras bangsa dan bahasa dimana bahasa Arab berasal dari rumpun bahasa Semith (Assamiyah) dan bahasa Indonesia dari rumpun bahasa Austronesia. 

Meskipun demikian, bahasa Arab mempunyai peranan sangat penting dalam menambah perbendaharaan kata bahasa Indonesia di samping bahasa yang lain, hal ini disebabkan adanya hubungan antara orang-orang Arab dengan orang-orang Indonesia baik hubungan dagang maupun hubungan penyebaran agama, yang pada akhirnya membawa pengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia. 

Selain itu, bahasa Indonesia mempunyai sifat terbuka sehingga memungkinkan untuk menerima unsur bahasa lain yang diperlukan, termasuk bahasa Arab. Unsur serapan bahasa Arab dalam bahasa Indonesia lebih banyak terarah kepada unsur Ieksikal (perbendaharaan kata), tetapi tidaklah berarti unsur-unsur lain seperti fonem, morfem dan unsur gramatikal yang lain terlepas dari kajianini,karena unsur-unsur tersebut rnelekat pada unsur leksikal. 

Jika kita telaah Kamus Besar bahasa Indonesia, cukup banyak kosa kata bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa Arab. Kosa kata itu adalah yang dapat diidentifikasikan sebagai kosa kata yang berasal dari bahasa Arab, bahkan terdapat pula kosa kata yang tidak terlihat lagi ciri kearabannya. Hal ini disebabkan oleh keakraban pemakainya dengan kosa kata itu disamping karena kosa kata itu sudah menyatu dengan lidah pemakai bahasa Indonesia.Misalnya banyak orang menduga kata walau, rela, saham dan mungkin bukan berasal dari bahasa Arab. 

Dalam kaitan itulah, perlu dikemukakan unsur-unsur serapan bahasa Arab dan proses penyerapannya dalam bahasa Indonesia, dengan membandingkannya dengan bahasa sumber yaitu bahasa Arab, sehingga kita dapat melihat perubahan-perubahan yang terjadi setelah bahasa Arab itu diserap ke dalam bahasa Indonesia. 

Pengertian Unsur Serapan
 
Dalam Kamus Umum bahasa Indonesia, unsur serapan di defenisikan sebagai berikut: 

Unsur adalah bahan asal, zat asal, bagian yang terpenting dalarn suatu hal, sedangkan serapan adalah pemasukan kedalam, penyerapan masuk ke dalam lubang-Iubang kecil (Poerwadarminta, 1985). Menurut Samsuri (1987) serapan adalah “pungutan”, sedangkan Kridalaksana (1985) memahami kata serapan adalah “pinjaman” yaitu bunyi, fonem, unsur gramatikal atau unsur leksikal yang diambil dari bahasa lain. 

Dari beberapa pendapat diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa unsur serapan adalah: unsur dari suatu bahasa (asal bahasa) yang masuk dan menjadi bagian dalarn bahasa lain (bahasa penerima) yang kemudian oleh penuturnya dipakai sebagaimana Iayaknya bahasa sendiri. 

Bahasa Sumber
 
Sekalipun jumlah bahasa di dunia banyak, pengambilan kosa kata tidak selalu berlangsung dari banyak arah. Artinya, banyak bahasa yang hanya sedikit saja memberi, atau bahkan sama sekali tidak memberi, tetapi banyak sekali mengambil kata. Sebaliknya, banyak bahasa yang sedikii saja mengambil, tetapi banyak memberi. Bahasa yang memberi kepada bahasa lain atau bahasa yang kosa katanya diambil oleh bahasa lain disebut bahasa sumber pengambilan, disingkat bahasa sumber (Sudarno, 1990). Proses penyerapan bahasa lain termasuk bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia berdasarkan cara pengintegrasiannya, dapat dibagi menjadi dua bagian : 

Melalui pemakaian bahasa sehari-hari
 
Cara pengintegrasian seperti ini disebabkan adanya hubungan atau kontak langsung antara penutur asli (penutur sumber) dengan penutur bahasa Indonesia dalam pergaulan hidup sehari-hari. 

Melalui pengajaran dan tulisan
 
Melalui pengajaran yang dilakukan lewat penyebaran agama Islam di Indonesia disamping pengajaran bahasa Arab itu sendiri baik di bangku sekolah maupun di luar sekolah. Melalui tulisan berupa buku-buku ilmu pengetahuan, seni, kebudayaan dan sarana tertulis lainnya, seperti surat kabar dan majalah.

Jika kita menelaah penyerapan kosa kata Arab ke dalam bahasa Indonesia akan terlihat bahwa kosa kata Arab yang memperkaya kosa kata Indonesia itu tidak semuanya diterima secara utuh, tetapi ada juga yang diserap melalui penyesuaian huruf dan lafal atau pengucapannya. 

Hal ini terjadi karena kedua bahasa itu mempunyai perbedaan sistem bunyi dan lambang bunyi. Perbedaan bunyi antara kedua bahasa itu disebabkan oleh adanya bunyi bahasa dalam bahasa Arab yang tidak dimiliki oleh bahasa Indonesia. Demikian pula lambang bunyi antara kedua bahasa tersebut tidak sarna. Bahasa Arab mempunyai lambang bunyi yang disebut huruf hijaiah, sedangkan bahasa Indonesia menggunkan lambang bunyi yang disebut abjad. 

Karena perbedaan-perbedaan tersebut di atas, maka pada tahun l987, Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan Bersama yang berisi tentang Pedornan Transliterasi Arab-Latin. 

Pola Penyerapan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia
 
Pada garis besarnya ada tiga macam pola penyerapan kosa kata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yaitu: 

Pola penyerapan penuh
 
Penyerapan penuh adalah penyerapan fonem secara utuh tanpa ada perubahan karena fonem bahasa Arab setelah ditransIiterasi mempunyai kesamaan dengan fonem bahasa Indonesia. Contoh : kata “bab”, ”muslim”, “masjid” setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan, tetap menjadi kata bab, muslim dan masjid (mesjid). 

Pola penyerapan sebagian
 
Penyerapan sebagian adalah sebagian fonem yang terdapat dalam sebuah kata disesuaikan ke dalam bahasa Indonesia. Hal itu dilakukan karena dalam bahasa Indonesia fonem itu tidak ada. Penyesuaian ini bisa berupa penghilangan fonem atau pergantian fonem. 

Contoh: “Qira”ah” setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kiraat”. Transliterasi fonem hamzah (‘) dihilangkan, sedangkan “mu’tamar” setelah diserap menjadi “muktamar”. Transliterasi fonem harnzah (‘) diganti dengan /k/. 

Pola penyesuaian lafal
 
Penyesuaian lafal yang dimaksud terdapat dalam kata-kata Arab yang mengandung vokal panjang, serta gugusan konsonan yang tcrdapat diakhir kata. Penyesuaian ini bisa berupa penambahan fonern, penghilangan fonern, pergantian fonem, bahkan penghilangan suku kata.

Contoh : 

o   “Sabr” setelah diserap menjadi “sabar” ( penambahan vokal /a/ )
o   “Jild” seteIah diserap menjadi “Jilid” ( penambahan vokal /i/ )
o   “Hukm” setelah diserap menjadi ”hukum” ( penambahan vokal /u/ )
o   “Nafakah” setelah diserap menjadi “nafkah” (penghilangan vokal /a/ )
o   “Kafir” setelah diserap menjadi “kafir” ( penghilangan vokal panjang /a/ )
o   “Dalil” seteIah diserap menjadi “dalil” ( penghilangan vokal panjang /i/ )
o   “Masyhur” setelah diserap menjadi “masyhur” (penghilangan vokal panjang /u/ )
o   “Hayran” setelah diserap menjadi “heran” ( pergantian fonem /ay/ menjadi /e/ )
o   “Sadaqah” setelah diserap rnenjadi “sedekah” (pergantian voka /a/ menjadi /e/ )
o   “Tarikat” setelah diserap menjadi “tarekat” ( pergantian vokal /i/ menjadi /e/ ) “Ruh” setelah diserap menjadi “roh” (pergantian vokal /u/ menjadi /o/ )
o   “Istirahat” setelah diserap menjadi “rehat” ( penghilangan suku kata )
o   “Isnayn” setelah diserap rnenjadi “senin” (penghilangan suku kata) 

Penyimpangan Penyerapan
 
Dalam proses penyerapan dari suatu bahasa sumber ke dalam bahasa lain, termasuk penyerapan dari bahasa Arab ke dalarn bahasa Indonesia, sering kita menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan baik dari segi pola penyerapan maupun dari segi makna. Hal ini rnenjadi sesuatu yang terabaikan dan kurang dipertimbangkan oleh ahli-ahli bahasa dalam menyerap kosa kata-kosa kata dari bahasa sumber. 

Penyimpangan-penyimpangan yang dimaksud adalah sebagai berikut : 

Penyimpangan Pola Penyerapan
 
o   Fonem /kh/, sesuai dengan pola penyerapannya tetap menjadi /kh/. Namun pada kenyataannya dalam beberapa kata, fonem /kh/ berubah menjadi fonem /k/.
o   Contoh : “khabr” rnenjadi “kabar” semestinya “khabar”, “naskhah” menjadi “naskah” semestinya “naskah”
o   Fonem /d/ sesuai dengan pola penyerapannya tetap menjdi /d/, namun dalarn kenyataanya ditemukan ada fonem /d/ berubah menjadi /l/.
o   Contoh : “rida” menjadi “rela” semestinya “rida”,“fard” menjadi “perlu” semestinya “fardu”
o   Fonem /z/ sesuai dengan pola penyerapannya tetap menjadi /z/, namun pada kenyataannya dalam beberapa kata ditemukan fonem /z/ berubah menjadi /s/ ).
o   Contoh : “majàz” menjadi “majas” semestinya “majaz”, “markaz” menjadi “markas” semestinya “markaz”

Dan masih banyak lagi contoh penyimpangan dari segi pola penyerapan yang tidak sempat penulis sebutkan pada kesempatan ini karena keterbatasan waktu. 

Penyimpangan Makna
 
o   Makna kata adalah sesuatu yang sangat urgen dalam suatu bahasa sehingga salah satu cabang dari ilmu bahasa yaitu semantik, membahas khusus rnasalah ini. Namun dalam proses penyerapan suatu bahasa ke bahasa yang lain, hal ini seringkali terabaikan. Berikut ini akan dikemukakan beberapa contoh tentang fenomena tersebut:
o   “Kalimah” dalam bahasa Arab berarti kata, dan setelah kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia makna itu berubah menjadi “kalimat” yaitu susunan dari beberapa kosa kata.
o   “Kulliah” dalam bahasa Arab berarti Fakultas, setelah kata ini diserap ke dalam bahasa Indonesia, makna “kuIiah” berubah menjadi “pelajaran”.
o   “Ulama” daiarn bahasa Arab mempumyai makna jamak yaitu banyak orang berilmu, namun setelah kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia, makna itu berubah menjadi tunggal yaitu seorang yang berilmu. 

Penutup
 
Bahasa Arab dan bahasa Indonesia mempunyai perbedaan sistem aksara, struktur fonologis dan morfologis, sehingga penyerapan kosa kata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia mengalami beberapa proses yaitu pengintegrasian yaitu melalui pemakaian sehari-hari, pengajaran dan tulisan, Selain itu, penyerapan kosaa kata bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia harus berdasarkan pola-pola yang ada, yaitu proses penyesuaian fonem, proses penyesuaian lafal dan terdapat pula proses penyerapan penuh jika fonem yang ada diantara kedua bahasa tersebut setelah ditransliterasi adalah sama. Meskipun pola-pola penyerapan te!ah ada, ternyata penyimpangan-penyimpangan tetap saja ada baik dari segi pola itu sendiri maupun dari segi makna. 

Anda menemukan pola serapan dan contohnya, silahkan ditambahkan.

1 komentar:
Tulis komentar
  1. lalu bagaimana dengan kata Chajj yang menjadi haji. apakah ch yang berubah menjadi h termasuk penyesuaian lafal atau penyimpangan penyerapan??

    BalasHapus