Iklan

19 Agustus 2009

Munafik Bangsa

 






Merenungkan kemerdekaan sebuah bangsa dari kolonialisme penjajah, selalu tidak lepas dari rasa syukur kepada Allah atas rahmat-Nya itu. Sebagai anak bangsa, tiap kali kemerdekaan dirayakan, seharusnya terbayang perjuangan para pahlawan pendahulu yang telah rela mengorbankan harta, jiwa dan raga demi berkibarnya merah putih dari Sabang sampai Merauke.

Di dalam tanah air ini, telah tumpah darah, tertanam raga dan regangan nyawa yang tak terkira jumlahnya. Jadi, jika bangsa ini ingin menjadi bangsa yang besar, maka jasa pahlawan harus tetap dikenang. Para pejuang dahulu, tak peduli siapapun orangnya, apapun agamanya, dari suku manapun asalnya, jika mereka mati demi membela lahirnya kemerdekaan, maka harus disebut pahlawan. Kenapa? sebab ternyata, tidak semua orang ternyata berani mengorbankan yang ia cintai demi membela bangsa Indonesia.


Tatkala menyaksikan film-film perjuangan, timbul sebuah pertanyaan: "Jika kita hidup di saat itu, apakah kita tetap diberi keberanian untuk berjuang dan rela berkorban?". Ketika, misalnya, melihat film The Message yang bercerita tentang perang Badar dan Uhud dimana terjadi duel face to face antara pejuang dan musuh, lalu sekali lagi, hati bertanya: "Jika kita hidup di masa itu, di posisi manakah Allah menempatkan kita; di pihak pejuang, pihak musuh atau pihak orang-orang munafik?".

Intinya, dalam renungan kemerdekaan ini, bagi semua anak bangsa harus mempersembahkan hanya puji-syukur kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Siapa yang mensyukuri nikmat (baca: kemerdekaan), nikmat itu akan ditambah. Tapi, siapa yang mengkufurinya, mengingkarinya, dia layak mendapat siksa yang pedih. Statemen Allah dalam al-Quran itu patut menjadi bahan renungan di tengah masih banyaknya ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah dalam berbagai hal. Tentunya, setelah para pejuang mengantarkan kita ke pintu gerbang kemerdekaan, syukur itu selain dimaknai mengenang jasa mereka, juga harus ditindaklanjuti dengan upaya-upaya kongkrit oleh generasi sekarang untuk melanjutkan cita-cita mulia para pahlawan, yaitu terciptanya kehidupan yang adil, makmur dan sentosa secara merata.

Memang, angka kemiskinan di negara ini masih banyak. Tidak sedikit rakyat yang masih hidup menderita, pengangguran di mana-mana, korupsi telah merata, kasus kriminal hampir tiap hari selalu ada, hutang negara juga belum lunas, investasi dan eksploitasi asing juga tumbuh subur, percikan pemberontakan di beberapa tempat sering meletup, apalagi terorisme yang kian menjadi-jadi dan belum tumpas hingga ke akar-akarnya. Sekalipun demikian babak belur negara kita, tapi cinta tanah air tidak boleh pupus. Rasa nasionalisme tidak boleh luntur hanya karena ketidakpuasan nafsu kita untuk turut mencicipi hasil kemerdekaan. Kobaran semangat juang demi membela negara, tidak boleh kalah oleh semangat lain yang bertujuan memberontak kepada negara atasnama apapun dan demi alasan apapun. Dalam frame kehidupan berbangsa dan bernegara, ideologi kebangsaan yang berasaskan pancasila dan UUD 1945 tidak boleh dikalahkan oleh ideologi apapun!!

Sesungguhnya, dalam kehidupan ini, hanya ada 2 pilihan; benar atau salah, hitam atau putih, cinta atau benci, membela atau melawan. Jika meminjam istilah agama, ada pilihan mukmin atau kafir, loyal atau kufur. Jika seseorang atau kelompok berposisi abu-abu, tidak jelas, kadang tampak iman tapi sering juga ingkar, maka dia disebut orang munafik. Siapakah orang munafik itu? Kenapa dia sangat dibenci, bahkan kelak ditempatkan di Jahim, neraka paling bawah?

Dalam pandangan Islam, karakter orang munafik amat banyak. Antara lain, ingkar janji, suka bohong, berkhianat, plin-plan, kufur nikmat, dan masih banyak lagi. Orang-orang munafik tampak sebagai pejuang yang gagah berani atasnama pembebasan, tapi di balik itu mereka berencana memasung kemerdekaan.
Kelompok munafik bangsa memang pintar mengobarkan semangat juang dengan menawarkan ideolagi baru, membawa nama tuhan, mengeraskan teriakan suci, tapi ada agenda lain di balik itu yang bertujuan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Munafik bangsa tidak rela melihat rakyat hidup tenang, bersatu, bertoleransi, berdampingan, guyup dan gotong royong. Mereka hanya ingin hati masyarakat tidak dipenuhi rasa syukur dengan nikmat yang ada.

Mereka ingin semua orang selalu hidup menuntut tanpa bisa menerima, meminta tanpa rela memberi, bisanya melawan tak mau membela, bertindak keras tanpa punya kasih sayang, menghalalkan semua cara asal tujuan tercapai, memaksakan kehendak apapun resiko. Itulah para munafik bangsa!!

Di alam kemerdekaan, kok masih ada orang-orang atau kelompok yang menyatakan bahwa memberi hormat kepada sangsaka merah-putih hukumnya haram. Upacara bendera disebut bid'ah. Menyanyikan lagu kebangsaan dianggap sia-sia. Dasar negara dinilai sesat. Mentahlili dan mendoakan pahlawan dikatakan maksiat dan pemborosan. Jika mereka tidak mau dicap sebagai pemberontak, lebih tepat jika mereka disebut kaum munafik yang tidak mau mensyukuri indahnya kemerdekaan dan lebih mengharapkan kerusakan di bumi pertiwi!! 

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: "Jika kau tak mau bersabar dengan cobaanKu, tak mau mensyukuri nikmatKu, tak rela dengan keputusanKu, pergi dari bumi! Cari tuhan lain selain Aku!"
Maka, kepada kaum munafik bangsa yang tidak memiliki rasa hormat terhadap jasa para pahlawan, yang tidak puas dengan tatanan negara, yang selalu mengajak perpecahan, yang selalu meneriakkan permusuhan, yang kerap melakukan kerusakan, yang tidak menebarkan kedamaian, segeralah angkat kaki dari tanah air Indonesia.

19 Agustus 2009

Tidak ada komentar:
Tulis komentar