Iklan

28 September 2011

Tips Memilih Judul Skripsi

 


Musim skripsi telah tiba. Tidak sedikit mahasiswa maupun dosen sekalipun, yang sering kebingungan ketika dihadapkan pada proses penyusunan karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi). Tulisan singkat hasil sharing ini, semoga bisa mengobati kebingungan dalam memilih judul skripsi atau karya ilmiah lainnya yang hendak diteliti sebagai tugas akhir.

MEMILIH TOPIK

Bagian terberat sebelum memulai menulis sebuah karangan ilmiah adalah memilih topik. Sebenarnya, Anda yang masih pemula tidak perlu kuatir. Semua penulis baik karangan ilmiah, fiksi, atau menulis apapun memang tidak mudah untuk memperoleh sebuah topik, terlebih bila hasil penulisan tersebut harus dipertanggungjawabkan dalam sebuah forum institusi maupun forum publik.

Bagaimana caranya supaya ide tersebut bisa muncul? Ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

1.   Mengamati suatu keadaan atau fenomena.

Misalnya bila Anda melihat suatu kejadian A, namun bila ada pikirkan lebih lanjut, seharusnya keadaan seperti itu tidak seharusnya terjadi. Atau secara sederhana dikatakan terjadi suatu ‘kesenjangan’ dengan keadaan nyata. Istilahnya, ada yang kurang pas antara “teori” dan “praktik”, antara fakta di lapangan dan di buku. Dari sanalah topik atau ide untuk diulas akan muncul.

2.   Brainstorming

Ada bisa melakukan ‘curah gagasan’ atau istilah kerenanya brainstorming dalam menemukan topik untuk menulis karya ilmiah. Tapi untuk memastikan mendapat ide yang lumayan brilian pilih orang yang Anda ajak berdiskusi, misalnya dengan teman yang IP nya lumayan tinggi atau dengan dosen, bahkan bila perlu dengan Pembicara sebuah seminar atau diskusi ilmiah.

3.   Membaca banyak buku teks (text book) atau buku acuan (literature book).

Ide juga bisa muncul dengan membaca buku teks wajib dari mata kuliah Anda ataupun juga membaca buku literatur. Pada umumnya buku-buku teks hanya memuat sangat sedikit  penjabaran dari sebuah topik atau konsep. Untuk melengkapinya, Anda perlu mencari tahu lebih banyak dari buku literatur. Buku seperti ini pada umumnya, membahas sebuah topik secara lebih detil bahkan beberapa di antaranya sudah langsung membahas secara aplikatif dalam kehidupan nyata.

4.   Membaca karya dan jurnal ilmiah dari peneliti lain.

Bila Anda teliti membaca buku teks atau buku acuan Anda, dalam daftar pustaka, dapat ditemukan berbagai jenis jurnal ilmiah maupun berbagai macam publikasi lainnya. Anda dapat melakukan penelitian dengan memilih topik yang sama. Namun yang perlu Anda ingat, jangan sampai tergoda untuk menjiplak karya ilmiah tersebut, karena tentu saja hal ini melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) si penulis.  Sebetulnya banyak cara yang bisa dilakukan dengan topik tersebut, misalnya dengan mengganti obyek penelitian, menambahkan variabel yang hendak diteliti, mengganti metode perhitungan maupun pendekatan penelitian itu sendiri.

Dari jurnal dengan topik/ide yang sama dapat memberikan hasil penelitian yang berbeda. Perbedaan ini dapat digunakan untuk pengembangan topik/ide selanjutnya, termasuk bila kita jeli membaca keterbatasan penelitian tersebut.

Selain itu, dari jurnal dapat diperoleh arah positif atau negative terhadap suatu variabel penelitian. Anda dapat menguji kembali apakah kencederungan juga terjadi pada penelitian Anda. Bahkan dengan kondisi yang unik di Indonesia tidak jarang hasil penelitian Anda dapat berlawan dengan penelitian aslinya, bahkan dengan teori yang Anda ambil dari buku acuan.

5.   Internet sumber informasi yang tak terbatas

Internet adalah suatu keajaiban masa kini. Dari internet, kita bisa memperoleh berbagai macam informasi tentang berbagai pekembangan terkini. Mulai dari fenomena, paradigma baru, debat teori, paradoks maupun penelitian dan eksperimen yang tengah belangsung. Dengan jumlah informasi yang dapat dikatakan ‘hampir tidak terbatas’ ini, seharusnya Anda tidak lagi kesulitan untuk menemukan topik karya tulis Anda.

MERUMUSKAN MASALAH

Tahap berikutnya setelah menemukan topik adalah merumuskan masalah yang akan diangkat sebagai obyek penelitian. 

Dalam mencoba merumuskan suatu permasalahan ada beberapa hal yang perlu dicermati:

  1. Masalah yang diangkat tidak harus dalam bentuk pertanyaan, namun juga bisa dalam bentuk pernyataan.
  2. Permasalahan harus cukup fokus, tidak terlalu sempit sehingga menyulitkan pada waktu pembahasan atau terlalu melebar sehingga jawaban yang disampaikan pada simpulan mengambang atau membingungkan.
  3. Sifat pertanyaan atau pernyataan haruslah netral dan tidak boleh bersifat mendukung opini atau simpulan tertentu.
  4. Pertanyaan dan pernyataan bersifat menarik dan unik. Jangan mengangkat permasalahan yang sudah jelas jawabannya.
  5. Permasalahan dapat dipecahkan dan dijawab dengan pendekatan dan data yang ada. Bila Anda bersifat mencoba pendekatan baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yakinkan bahwa penelitian Anda tidak tergolong dalam kriteria eksperimen. Eksperimen memiliki metodologi sendiri yang berbeda dengan apa yang sedang kita bahas di sini.
  6. Jika menggunakan jurnal yang penelitiannya tidak dilakukan Indonesia, Anda perlu cermati bahwa suatu kejadian antar Negara dapat berbeda. Masalah yang diangkat perlu sesuaikan dengan peristiwa, kondisi, perlakuan dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Hal ini untuk menghindari “tidak nyambungnya” perumusan masalah Anda dengan kondisi aktual di Indonesia.
  7. Dan hal terpenting dari permasalahan adalah sesuai dengan topik dan judul yang telah dipilih. Harus ada ‘benang merah’ yang dijaga, sampai penulisan tersebut  rampung pada bagian simpulan.
MEMBERI JUDUL PENELITIAN

Sebenarnya memberikan judul adalah bagian termudah dari sebuah penulisan ilmiah. Pada umumnya perumusan masalah merupakan judul dari sebuah karya ilmiah. Namun ada kalanya kita perlu mempertimbangkan apakah bila judul tersebut kita gunakan, pembaca menjadi kurang mengerti atau bahkan menafsirkan secara lain. Bila terpaksa menggunakan judul yang sedikit berbeda dengan perumusan masalah pastikan pembaca atau orang lain tidak bingung atau salah tafsir.

MENCIPTAKAN LATAR BELAKANG

Penulis pemula banyak yang “salah kaprah” ketika menulis latar belakang. Dibutuhkan berlembar-lembar kata-kata untuk mengungkapkan latar belakang yang ingin dibahas. Selain agar dikatakan lengkap, pada umumnya alasan menulis latar belakang yang panjang adalah untuk membuat karya tulis menjadi ‘tebal’ dan  ‘berbobot’. Padahal, dengan latar belakang yang panjang, tidak ada manfaat yang dapat kita peroleh selain pembaca yang bosan, bingung dan lelah.  Bila Anda ingin menciptakan karya yang baik, sebenarnya bagian yang seharusnya ‘tebal’ dan ‘berbobot’ adalah pada bagian “ANALISA DAN PEMBAHASAN”, karena pada bagian inilah sebenarnya tingkat wawasan penulis akan diukur.

Bagaimana menuliskan latar belakang yang ideal? Berikut ini tipsnya:
  1. Buatlah suatu latar belakang yang lugas, jelas dan tidak bertele-tele. Langsung menuju pada permasalahan yang akan diangkat atau fenomena yang ada.
  2. Masukkan kutipan dari buku maupun publikasi apabila memang kalimat maupun tersebut berasal dari seorang ahli, pembicara ataupun peneliti lain. Tidak perlu terlalu banyak, cukup yang mendukung topik saja.
  3. Jangan menggunakan kalimat tanpa dasar argumentasi yang kuat.
  4. Sebaiknya panjang latar belakang sekitar 2 halaman untuk kertas ukuran A4.
  5. Tetap fokus agar dalam memaparkan latar belakang tidak menyimpang dari topik, perumusan masalah dan judul. Mengaburkan hubungan ‘benang merah’ akan membingungkan pembaca terlebih lagi tim penguji.
Selamat mencoba, semoga Allah bersama kita

2 komentar:
Tulis komentar