Iklan

6 Maret 2021

Literasi Guru MTs Al-Maarif Singosari

 

Peradaban Islam, dalam sejarahnya, dibangun atas pondasi literasi. Kekuatan baca dan tulis. Ayat pertama saja, sudah menyeru untuk 'membaca'. Bahkan, hukuman yang diputuskan Nabi untuk tawanan perang Badar adalah literasi. Yakni, menyuruh mereka yang melek huruf mengajari yang buta huruf.


Hari ini, Sabtu, 6 Maret 2021, saya berkesempatan menjadi narasumber "Literasi Guru", khusus untuk penulisan biografi bagi para guru MTs Al-Maarif Singosari. Almamater saya dulu. Madrasah penuh kenangan dan berkah.

MTs Al-Maarif dibawah naungan Yayasan Al-Maarif Singosari. Yayasan ini didirikan dan dikelola oleh para ulama, kiai dan santri. Para siswa-siswinya pun, mayoritas berasal dari beberapa pesantren di Singosari yang dikenal "Kota Santri". Oleh karenanya, MTs Al-Maarif ini, dari dulu hingga kini, menjadi wahana ngangsu kaweruh para santri dan ajang "Perang Baratayudha" antar santri dari beberapa pesantren.

Kompetisi di antara para siswa untuk tampil menjadi yang terbaik itulah yang mendorong MTs Al-Maarif terus maju. Usia MTs ini hampir 63 tahun dan alumnusnya telah berkiprah di berbagai bidang, mulai pendidikan, ekonomi, hukum, olahraga, politik, sosial, dan banyak lagi. Jika satu persatu alumni itu dihadirkan ke almamater ini, maka MTs Al-Maarif akan berubah menjadi gunung emas yang mengagumkan.

Tentu, semua itu berkah doa dan perjuangan para kiai dan guru-guru di Al-Maarif yang tulus ikhlas membimbing para siswa. Untuk mereka semua yang telah berjasa, la hum al-Fatihah.


Hari ini, saya juga bertemu Bapak Haji Basuki, Kepala MTs Al-Maarif, guru BP saya dulu. Juga, bertemu Pak Siswanto yang pernah menjadi Wali Kelas saya. Keduanya tetap sama. Awet muda. Selalu bersemangat. Usia tidak pernah menjadi penghalang untuk berkarya dan memberi manfaat bagi sesama.

Saya juga menyaksikan para guru muda MTs Al-Maarif yang mayoritas sudah bergelar Magister. Performance mereka masih khas santri. Sederhana, tawaddu', tapi tetap berjiwa murabbi dan memiliki keluasan ilmu yang mumpuni. Saya yakin, di tangan mereka ini, siswa-siswa MTs Al-Maarif hari ini, kelak akan mengharumkan nama bangsa dan negara.


Terbukti, saya diberi hadiah berupa 2 buku tulisan para siswa MTs Al-Maarif berjudul "Bukan Kelas Unggulan" dan "Tapal Surga". Karya bersama para siswa ini tentu juga berkat tangan dingin para guru MTs Al-Maarif yang mempu menularkan "virus" menulis di jari-jemari para siswa yang pastinya akan menjadi kenangan terindah di dalam hidup mereka. Ada juga majalah siswa yang isinya begitu dahsyat. Fiturnya lengkap. Mulai dari opini, kupas hadis, news, puisi, humor, resensi buku, dan banyak lagi. Satu kata: Luar Biasa!

Mereka, para guru muda itu, bertekad untuk membudayakan literasi. Jelang harlah MTs Al-Maarif, mereka akan menerbitkan karya tulis berupa biografi tentang para pendiri, kiai dan guru MTs Al-Maarif. Tanpa dituangkan dalam tulisan, memang kebesaran para guru itu tidak akan berkurang. Namun, tidak akan ada dalam keabadian dan kurang memberi inspirasi bagi generasi mendatang.

Atas dasar tekad besar ini, saya menyambut gembira saat diminta berbagi pengalaman dalam menulis biografi. Sesungguhnya menulis biografi, apalagi riwayat hidup orang yang kita kagumi, adalah kenikmatan tiada tara. Ketika buku itu selesai, di situlah penulis merasakan kebahagiaan yang hanya bisa dirasakan seorang penulis. Tidak bisa lagi ditulis dalam kata-kata.


Ada yang bertanya, apa kunci menulis itu? Kuncinya ada 3 saja: menulis, menulis dan menulis. Lalu, bagaimana penulis bisa terus "mood" dan bersemangat? Mudah saja. Anggaplah kau menulis untuk keabadian. Menulis akan membuatmu terus wujud (ada). Dengan begitu, energimu akan terus ada dan bahkan semakin besar, tidak terbendung oleh apapun juga.

Tak heran, bila Napoleon Bonaparte pernah berkata, "Aku lebih takut pada pena penulis daripada senjata panglima perang". Sebab, satu peluru hanya menembus satu kepala, tapi satu tulisan mampu menembus ratusan hingga ribuan kepala.


Salam Ta'dzim untuk MTs Al-Maarif Singosari. Selamanya, kau akan ada di hati. Laksana menyeberang samudera yang dalam, MTs Al-Maarif adalah pantai indah dalam mengarungi ombak dan badai hingga mencapai tujuan cita-cita.

Singosari, 6 Maret 2021

2 komentar:
Tulis komentar
  1. Matur nuwun Pak Kaji atas sharing ilmunya, semoga penuh manfaat dan menambah keberkahan hidup kita. Amin..

    BalasHapus
  2. Terimakasih banyak untuk ilmu yang bapak bagikan kepada kami. Semoga kami dapat meneladani semangat bapak dalam berliterasi.

    BalasHapus